
Mobil mewah yang ditumpangi Bu Syaidar melaju dengan cepat di jalanan Revolusi, sebentar lagi sampai di bengkel Syahdan tepatnya di kawasan jalan Sudirman.
"Kamu sudah tahu, kan, Len, bengkel milik adikmu, Syahdan?" tanya Bu Syarimi pada Syailendra.
"Sudah, Ma. Di kawasan jalan Sudirman ini alamatnya tidak jauh lagi," jawab Syailendra seraya mengarahkan mobilnya ke alamat bengkel Syahdan.
"Sudah sampai, Ma," lapor Syailendra seraya menepikan mobilnya di tepi jalan, tepat di depan bengkel Syahdan. Bu Syaira segera membuka pintu mobil, lalu keluar dan melihat sekeliling. Tepat matanya menuju sisi kiri bengkel, ada sebuah nama tertera di plang 'Syahdan Oto Bengkel'. Tidak salah lagi ini bengkelnya.
Bengkel itu ukurannya sedang dan hanya ada satu lantai, padahal pengunjung lumayan ramai. Sisi kiri dan kanan ruko yang bertetangga dengan ruko Syahdan tidak ada yang membuka bengkel selain Syahdan. Masuk akal jika bengkel Syahdan ramai.
Bu Syarimi sangat menyayangkan bengkel yang ramai pengunjung itu letaknya kurang strategis bagi pengunjung, bahkan pelanggan yang memperbaiki mobilnya kadang menggunakan trotoar untuk mengerjakan mobilnya yang dimasukan bengkel. Ini jelas menyalahi aturan marka jalan. Sepertinya Bu Syarimi punya ide untuk membantu Syahdan supaya pindah saja dari bengkel di pinggir jalan ini, dan dia akan membiayai semuanya dari mulai pembelian tempat dan pembangunan rukonya. Jadi Syahdan tinggal menempatinya.
"Syahdan." Bu Syarimi memanggil seraya masuk ke dalam bengkel yang mulai ramai, menemui Syahdan di bagian pembayaran. Bengkel Syahdan ini memang tidak menggunakan jasa kasir. Cukup Syahdan sendiri yang menangani bagian keuangan. Sebab Syahdan tidak mudah percaya sama orang lain. Kalau mau rekrut orang, Syahdan sudah ada orangnya yang tepat, yaitu Syana. Rencananya Syahdan akan meminta Syana berhenti bekerja di toko buku temannya, nanti malam.
"Mama, Kak Lendra, ada apa kalian kemari?" tanya Syahdan heran.
"Ya ampun, Nak. Mama kangen dong, Sayang. Kenapa sepertinya tidak kangen sama Mama mentang-mentang kamu sudah memiliki wanita lain selain Mama?" tukas Bu Syarimi cemburu.
__ADS_1
"Bukan begitu maksud Syahdan, Ma. Mama dan Kakak baru pertama kali ke bengkel ini, jadi Syahdan merasa heran kenapa Mama tiba-tiba datang ke sini?" ujarnya meluruskan.
"Mama ingin melihat kemajuan bengkel kamu, Nak. Mama pikir bengkel kamu yang ramai ini harus pindah dan punya tempat parkir sendiri. Mama ada ide dan ide ini bisa mewujudkan bengkelmu bisa lebih besar dan maju."
"Syahdan sudah punya ide lebih awal dari Mama. Syahdan sudah memikirkan tempat yang strategis untuk pindah. Mulai hari ini Syahdan sudah ancang-ancang dan menyusun rencana. Tinggal eksekusi saja," tukas Syahdan sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan Mamanya.
Syahdan tahu Mamanya bakal memberikan bantuan secara cuma-cuma terkait ide pindah bengkel yang dilontarkannya barusan. Jadi Syahdan sebisa mungkin memberi alasan bahwa dia sudah ancang-ancang memiliki tempat usaha baru untuk memindahkan bengkelnya ke tempat yang lebih luas. Padahal itu masih wacana dalam otaknya, sementara modal untuk pindah dan beli segalanya butuh modal banyak, tidak cukup ratusan juta, bisa jadi menginjak satu milyar.
"Mama ingin bantu kamu, Syah. Kamu masih anak Mama dan tanggung jawab Mama. Jadi wajar Mama memberimu bantuan secara cuma-cuma. Tapi semua bantuan Mama jangan sampai diketahui Papa," bujuk Bu Syarimi lagi berusaha meluluhkan hati Syahdan supaya mau menerima bantuannya, tapi dengan syarat jangan ketahuan Papanya.
Syahdan tersenyum hambar, hatinya merasa miris dengan tawaran Mamanya yang ingin menawarkan bantuan. Namun merasa ketakutan jika diketahui Papanya. Walaupun tidak diketahui Papanya, Syahdan sudah dipastikan menolak mentah-mentah bantuan Mamanya. Dia tidak mau usahanya yang didirikan dari nol dicampuri bantuan siapapun termasuk Mamanya. Dia ingin buktikan pada Papanya bahwa dia mampu berdiri sendiri tanpa bantuannya, dan tidak menjadi sampah masyarakat seperti apa yang Papanya sering katakan jika marah.
Bu Syarimi menarik nafasnya dalam dengan sikap keras kepala Syahdan untuk menolak bantuannya. Padahal dia ingin melihat Syahdan cepat maju supaya bisa dilihat Papanya dan membuktikan dirinya bukan sampah masyarakat seperti apa yang sering Papanya bilang.
"Keras kepala kamu, Syah. Persis Kakekmu," tukas Bu Syarimi geregetan.
"Beruntung Ma, Syahdan keras kepala persis Kakek, daripada otoriter mirip Papa," sarkasnya tanpa rasa bersalah. Lagipula dia bicara seperti ini tidak di hadapan Papanya melainkan di depan Mamanya.
__ADS_1
"Ayolah Syah, Mama mohon, terima bantuan Mama. Ijinkan Mama membantumu dalam hal ini. Biar Papamu tahu bahwa kamu bukan sampah masyarakat seperti apa yang selalu dikatakannya."
"Ma!" Syailendra tiba-tiba menyeru seraya memberi kode pada Mamanya untuk tidak melanjutkan ucapannya yang kemungkinan bisa menyakiti hati Syahdan.
"Tidak apa-apa, Kak. Jangan cegah Mama bicara. Itu hak Mama menyampaikan apa yang pernah Papa ucapkan buat aku. Aku tidak sakit hati oleh kata-kata Mama," ucap Syahdan lugas.
Bu Syarimi terlihat kaget sebenarnya saat dia menyadari telah mengucapkan kata-kata yang salah untuk Syahdan. Dia menyesal telah menyakiti Syahdan, walaupun kalimat itu adalah kalimat yang sering dilontarkan suaminya.
"Maafkan Mama, Nak."
"Mama tidak salah. Yang salah adalah Mama menawarkan bantuan, supaya usaha bengkel Syahdan terlihat berkembang pesat kemudian dilihat Papa, dan Papa bangga lalu Papa berkata '*anakku yang kusebut sampah masyarakat itu kini* *telah sukses*'. Tapi, sayangnya Syahdan tidak mau sukses dengan cara instan, Ma. Syahdan akan sukses dengan usaha dari kedua tangan dan kaki Syahdan juga otak Syahdan. Mama doakan saja supaya Syahdan bisa maju seperti harapan Mama, " ujarnya panjang lebar.
"Juga bantuan doa dan dukungan istri Syahdan. Dia yang siang dan malam selalu memberi dukungan supaya Syahdan semangat dan tetap berjuang sampai saat ini. Tanpa kebawelan dan juga kesabarannya mendampingi Syahdan, bisa jadi Syahdan sampai kini masih bergabung dengan geng motor dan balapan liar," imbuh Syahdan menyebut Syana sebagai orang yang paling mendukungnya dan memotivasinya.
"Ya sudah, jika kamu menolak bantuan Mama, Mama tidak bisa memaksa. Tapi, jika kamu suatu saat membutuhkan bantuan Mama, kamu jangan segan minta bantuan Mama." Bu Syarimi nampak kecewa dengan penolakan Syahdan. Ia terlihat lesu dan sedih ditolak mentan-mentah oleh anaknya.
"Mama pulang. Jaga dirimu baik-baik." Bu Syarimi segera angkat kaki setelah mendapatkan penolakan dari Syahdan. Bu Syarimi bergegas menuju mobilnya diikuti Syailendra yang membukakan pintu buat Mamanya.
Di dalam mobil yang kini sedang melaju, Bu Syarimi menumpahkan kekesalan atas penolakan Syahdan pada Syailendra anak pertamanya.
__ADS_1
. "Keras kepala banget adikmu itu, Lendra. Beda denganmu yang selalu patuh. Padahal kamu tahu, Mama hanya ingin Syahdan tidak disepelekan lagi Papamu. Mama ingin memperlihatkan bahwa Syahdan bisa maju dengan cepat tanpa bantuan Papa," kesalnya seraya terisak, masih tidak terima dengan penolakan Syahdan.
"Mama tenang, Ma. Jangan dibawa sakit hati atas penolakan Syahdan. Harusnya Mama bangga dong, sebab Syahdan mau mandiri tanpa bantuan siapapun. Dan jika suatu saat dia ingin membuktikan pada Papa bahwa dia mampu berdiri sendiri tanpa bantuan siapapun, maka itu suatu kebanggan yang tiada tara, sebab dia mampu sukses dari nol tanpa sokongan keluarga," bujuk Syailendra menenangkan Mamanya yang masih kecewa.