Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 34 Syaira Ngamuk


__ADS_3

"Hei, perempuan liar, menyingkir dari bibir calon suamiku ini," teriaknya seraya menarik tangan Syana dan menghempasnya. Syana dan Syahdan sontak terkejut, terlebih Syahdan melihat Syana terhempas oleh tangan Syaira.



"Apa-apaan kamu, menghempas orang sembarangan!" teriak Syahdan seraya meraih tubuh Syana yang terhempas di atas rumput.



"Dia yang apa-apaan, merebut kamu dariku," tudingnya.


"Siapa yang merebut aku, dia bukan merebut aku, tapi dia adalah milikku," tegas Syahdan tidak dirahasiakan lagi. Syaira nampak kaget dengan pengakuan Syahdan barusan.


"Apa maksudmu Syah?"


"Dia milikku, artinya dia adalah istriku," tegas Syahdan sembari merangkul Syana yang sempat kesakitan akibat hempasan Syaira.



Mata Syaira terbelalak, dia sama sekali tidak percaya dengan apà yang dikatakan Syahdan baru saja. "Tidak! Kamu bohong dan sengaja ingin menyakiti aku, kan?" tanya Sayira ingin meyakinkan.



"Menyakiti bagaimana, kita tidak pernah menjalin hubungan ya, dan saat Papa mau jodohkan, aku menolak mentah-mentah karena aku tidak pernah mencintai kamu dan kamu bukan tipe aku. Lagipula aku tahu akal bulusmu kenapa kamu mau dijodohkan denganku? Karena kamu mengincar setengah harta Papamu, lantas aku yang kamu jadikan taruhan," tegas Sayhdan lantang.



"Jangan banyak bacot, Syah. Aku tidak punya siasat apapun atas kamu, aku benar-benar mencintaimu tulus."



"Sudahlah, tidak perlu membela diri lagi. Sebelum batas kesabaranku hilang, kau menyingkirlah," tukas Syahdan seraya mengibaskan tangannya yang masih merangkul Syana dan mengajaknya jalan dan menjauh dari sana.



"Syahdan, dengar kataku. Akan aku lakukan apapun demi mendapatkan harta itu, maka lihat saja tindakanku," tegas Syaira seraya menarik kerah jaket jeans yang dipakai Syahdan sehingga Syahdan dan Syana hampir terjungkal.



"Syaira, apa-apaan? Kamu bisa mencelakai adikku," cegah seseorang seraya menahan tubuh Syahdan dan Syana yang hampir jatuh.



"Kak Lendra!" bisik Syahdan seraya membenarkan posisi berdirinya dan melihat ke arah orang yang baru saja menyelamatkan dari jatuh akibat Syaira.



"Syaira, apa yang kamu katakan tadi. Demi mendapatkan harta itu, kamu mau lakukan apapun. Apa maksudmu?" tanya Syailendra beralih pada Syaira dan membiarkan Syahdan berdiri dengan posisi benar.



"Tidak Kak, Kakak salah dengar tadi. Maksudku demi mendapatkan cinta Syahdan, aku akan lakukan apapun," kelit Syaira sedikit gelagapan.

__ADS_1


"Bohong kamu. Pantas saja adikku menolak mentah-mentah dijodohkan denganmu, karena kamu merencanakan sesuatu," ucap Syailendra tajam.



"Tidak Kak, apa yang Kakak dengar salah. Bukan itu maksudku," sangkalnya lagi berubah ketakutan.



"Mulai sekarang lebih baik jangan ganggu lagi adikku dan perempuan ini. Karena mereka telah menikah. Dan aku sudah tahu semuanya," tegas Syailendra membela Syahdan dan Syana.



"Kalian, bersekongkol menyakiti aku. Aku laporkan sama Papa," tunjuk Syaira sembari menunjuk dan pergi.



"Kami tidak takut, Papa kami tidak punya hutang budi sama Papa kamu. Mereka hanya berteman baik, jadi jangan berani mengancam, ya. Sebaiknya kamu pulang, tidak baik anak gadis berkeliaran sendiri di taman ini tanpa teman," peringat Syailendra seraya membiarkan Syaira pergi menjauh.



Setelah Syaira menjauh, Syailendra beralih pada Syahdan. Tanpa diduga Syahdan merangkul Kakaknya dan menangis terharu di dadanya menumpahkan rindu.



"Kak Lendra, aku kangen Kak. Terimakasih Kak. Kakak datang tepat waktu," ucap Syahdan masih merangkul dibarengi isak tangis.



"Kamu kenapa pergi, Syah? Aku kangen tahu." Syailendra juga menumpahkan rasa rindunya lada sang adik yang kini sudah terusir dari rumah besar bak istana milik sang Papa.




"Tidak Kak, Kakak juga bisa. Kenapa Kakak yang tidak ditunjuk langsung oleh Papa, kok harus aku? Kakak anak yang paling penurut kenapa aku yang dijadikan pemegang tertinggi Syaidar Mall?"



"Kita bicarakan semua ini di apartemenmu. Ayo! Mana istrimu?" Syahdan baru sadar akan kehadiran Syana yang sempat tersisih olehnya yang kebablasan ngobrol bersama Kakaknya.



"Sya!" teriak Syahdan seraya celingukan mencari Syana. Rupanya Syana berjalan menuju motor Syahdan di parkir.



"Mana istrimu?"


"Dia duluan rupanya, Kak. Ok, deh ikuti aku ke apartemen."


"Atau kamu mau ke apartemen aku saja, Syah."

__ADS_1


"Tidak, Kak. Lain kali. Apartemenku walau sederhana. Namun Syana istriku pandai bersih-bersih."


"Ok, deh, kalau begitu. Ayo!" ajak Syailendra mengajak Syahdan adiknya menuju parkiran. Syailendra menuju mobilnya, sementara Syahdan menuju motor yang sudaj ditunggui Syana.



"Sya, aku minta maaf, tadi kebablasan bicara sama Kakakku," ucap Syahdan meminta maaf.


"Tidak apa-apa Kak, kenapa Kakak kejar aku?" tanya Syana terdengar serak. Syahdan tahu Syana merasa tersisih karena tadi Syahdan tidak menghiraukan Syana.



"Aku kejar dong, kamu, kan milik aku?" tegas Syahdan.


"Setelah Kakak kembali pada keluarga Kakak, aku rasa kita akan menjauh," ucap Syana tiba-tiba, membuat Syahdan merengut heran.



"Apa sih Sya yang kamu bicarakan? Jangan ngawur! Ayo naik, kita akan pulang," ajak Syahdan seraya memakaikan helm di kepala Syana.



Syana terpaksa mengikuti kemauan Syahdan. Padahal tadi dia ingin sekali lari meninggalkan Syahdan setelah mendengar pembicaraan antara Syahdan dan Kakaknya yang ternyata Syahdan adalah anak orang kaya pemilik mall terbesar di kota ini bahkan di Indonesia, ***Syaidar Mall***.



Mendengar semua pembicaraan antara Kakak dan adik tadi, Syana sudah hilang rasa percaya diri. Jika membandingkan dirinya dengan keadaan Syahdan, bagaikan langit dan bumi. Syana buminya, sedangkan Syahdan langitnya. Maka dari itu setelah Syahdan nanti benar-benar kembali pada keluarganya, Syana merencanakan pergi meninggalkan Syahdan.



Bulir bening mengalir deras di pipi Syana saat motor Syahdan yang dijalankannya mulai melaju menuju apartemen. Bayang-bayang perpisahan kini di depan mata. Sebagai orang yang terlahir dari kalangan biasa, maka Syana harus tahu diri dan mundur teratur.



"Sya, pegangan dong!" peringat Syahdan yang menyadari Syana tidak memegang pinggangnya sama sekali, hanya berpegangan pada besi belakang jok. Syana terpaksa berpegangan erat.



Tidak berapa lama motor Syahdan tiba di parkiran apartemen. Bersamaan dengan itu mobil mewah Syailendra juga tiba. Syana tidak menyangka bahwa Kakaknya Syahdan ikut. Dengan memberanikan diri, Syana menghampiri Syailendra dan menyalaminya sebagai tanda hormat pada Kakaknya Syahdan.



"Kak," sapanya seraya menangkupkan kedua tangannya. Syailendra ikut menangkup dan menatap Syana sekilas lalu segera menutup pintu mobil yang tadi belum sempat dia tutup.



Mereka bertiga memasuki lift dan Syahdan memencet lantai lima sebagai tujuannya. Akhirnya mereka tiba di depan pintu apartemen yang pintunya terbuka otomatis setelah Syahdan menekan sebuah kode.



"Masuklah, Kak." Mereka bertiga masuk, sesekali mata Syailendra menatap seluruh ruangan apartemen sederhana milik adiknya itu.

__ADS_1



"Lumayan rapi Syah. Kamu hebat bisa betah tinggal di sini. Aku tahu, karena ada dia, kan? Beri satu yang seperti dia," bisik Syailendra di dekat telinga Syahdan sembari tertawa kecil penuh canda. Syana menatap penuh curiga, lalu segera menuju dapur untuk membawakan minuman untuk Syahdan dan Kakaknya.


__ADS_2