Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 46 Tamparan Syahdan


__ADS_3

"Kurang ajar, Syahdan. Aku tidak akan tinggal diam. Akan ku balas tamparanmu dengan yang lebih menyakitkan dari ini," cetus Syaira seraya ingin meludahi Syahdan. Namun Syahdan berhasil menghindar.



"Dengar perempuan liar, kamu tidak akan bisa apa-apa selama bukti kejahatanmu ada dalam genggamanku. Bukti CCTV telah aku kantongi sebelum Polisi lebih dulu mengamankannya. Jadi, jika ingin aman, diamlah dan jangan banyak bacot. Akan tetapi, jika kau tidak mau diam dan tetap berulah maka bukti CCTV akan aku sebar baik pada keluarga maupun Polisi, biar kau membusuk di penjara," ancam Syahdan tidak ada ampun. Wajah tampan pujaan setiap gadis, kini berubah galak dan berang.



Mendengar ancaman Syahdan seperti itu, sedikitnya membuat ciut hati Syaira. Jika vidio CCTV itu tersebar, maka akan hancur nama baiknya di depan semua orang termasuk kedua orang tuanya, yang hanya mengetahui bahwa Syaira adalah anak baik-baik serta tidak terlibat pergaulan bebas.



"Jangan kau cemarkan nama baikku, Syah. Aku tidak ingin masuk penjara dan semua orang tahu bahwa aku, aku .... "



"Kamu melakukan kejahatan, bukan? Bagus kau masuk penjara biar semua orang tahu siapa kamu sebenarnya," cemooh Syahdan memotong ucapan Syaira. Syaira meringis mendengar setiap ucapan Syahdan. Dia tidak menduga, wajah tampan yang sempat dipuja bahkan akan dijadikan taruhannya itu, kini menjelma menjadi iblis yang siap menyakitinya kapan saja.



"Sretttttt," bunyi sebatan belati yang dikeluarkan dari sangkarnya terdengar mengerikan. Syahdan tidak segan secepat kilat menempelkan pisau belati di muka Syaira. Sisi pipih yang tajam menempel tepat di pipi Syaira, sehingga kilatan tajamnya terlihat sangat mengerikan.



Rama dan Rami saling pandang miris, mereka berdua yang terkenal sangar saja tidak berani menodongkan belati di wajah musuhnya apalagi di wajah mulus seorang perempuan seperti apa yang dilakukan Syahdan.



"Ram, bagaimana ini? Aku tidak ingin tangan Den Syahdan dikotori dengan sebuah kejahatan ngeri seperti ini. Bersiaplah Ram, jika sampai Den Syahdan melakukan itu, kita harus segera mencegahnya." Rama mengungkapkan rasa khawatirnya pada Rami teman sesama bodyguard setianya.



"Aku tidak peduli jika Den Syahdan melakukan itu, sebab betina yang satu itu memang pantas mendapatkannya," balas Rami penuh amarah, bahkan Rami saja setuju dengan apa yang akan tuannya lakukan.



"Keterlaluan kau Rami, setidaknya Den Syahdan jangan melukainya di wajah. Aku khawatir, jika Nona Syaira berubah buruk dan tidak ada yang naksirnya lagi."



"Persetan, lelucon apa yang kau katakan Rama? Diamlah, jangan membuat fokusku terbagi dengan lelucon konyolmu!" sentak Rami kepada Rama yang dianggapnya sedang berlelucon.



Kini belati dengan kilatan yang dihasilkan dari pantulan sinar matahari yang masuk melalui lubang ventilasi udara itu, sedang diukirkan di wajah Syaira tanpa mengenai kulitnya. Syaira meringis dan menutup matanya kuat-kuat saat hitungan detik yang diucapkan Syahdan mulai diperdengarkan.



"Satu, dua, hitungan ke delapan, maka wajahmu akan berubah seketika," tukasnya menjeda hitungan majunya.



"Tiga, empat, lima, percuma memiliki wajah cantik tapi hatimu busuk. Kau sengaja ingin menjadikan aku taruhan jika kau berhasil menikah denganku. Memangnya aku mau menikah dengan perempuan licik sepertimu?" Syahdan kembali mengulur waktunya dan masih mempermainkan belatinya di depan wajah Syaira.

__ADS_1



"Enam, tujuh, dela ...."



"Jangan kau lakukan itu!" teriak seseorang berhasil menjauhkan tangan Syahdan dari wajah Syaira dan menjatuhkan pisau belati yang tajam itu ke lantai.



"Kakak, apa-apaan?" Syahdan tersentak dan tidak terima dengan yang dilakukan Syailendra yang tiba-tiba muncul menghalangi niatnya ingin melukai muka Syaira.



"Aku tidak bisa membiarkan adikku terjerumus jauh ke dalam kejahatan gara-gara kejahatannya. Ingat, jangan sekali-sekali kau kotori tangan dan tubuhmu dengan kejahatan." Syailendra menahan tubuh Syahdan yang berontak.



"Rama, Rami, tahan tubuh tuanmu. Jangan diam saja kalian!" sentak Syailendra tidak suka dengan dua bodyguard Syahdan yang diam dan hanya kelihatan kikuk.



Rami dan Rama berlari menghampiri Syahdan dan memegangi kiri dan kanan karena Syahdan berontak.



"Ini perintahku, tahan dia! Aku tidak mau dia melakukan kejahatan. Lebih baik perempuan ini dijebloskan ke penjara dengan bukti CCTV yang ada daripada tuan kalian membalasnya dengan kejahatan," tukas Syailendra yang akhirnya dibenarkan oleh benak Rama dan Rami, bodyguard yang sangat setia pada Syahdan.



"Istighfar, Syah. Ingat, kau masih punya istri yang kini masih menunggu kehadiranmu di rumah. Bahkan dia baru kembali dari rumah sakit. Sadarlah, jangan kau kotori tanganmu dengan kejahatan," peringat Syailendra sekali lagi sembari memungut pisau belati yang terjatuh ke lantai, kemudian mengamankannya.



Syahdan berontak, dia masih tidak terima niatnya dihalangi Syailendra.



"Kenapa kamu halangi aku, Kak? Dia harus membayar setimpal apa yang telah dia lakukan pada Syana, dan aku tidak akan pernah memaafkannya," ucap Syahdan geram.



"Apa untungnya kamu lukai wajahnya. Sekarang dia merasakan pedih akibat belatimu dan wajahnya cacat. Namun ingat, dia banyak uang, bisa saja wajahnya yang cacat dia perbaiki kembali dengan operasi plastik," sergah Syailendra membuat Syahdan geram merasa Syailendra membela Syaira.



"Kita jebloskan saja ke penjara dan jika dia tetap tidak kapok kita sebarkan saja bukti CCTV itu di setiap media sosial," pungkas Syailendra memberikan usulnya.



"Jangan kamu jebloskan aku ke penjara Lendra, aku tidak mau. Aku lebih baik kalian buang ke negara lain daripada aku harus di penjara," seloroh Syaira tiba-tiba menimpali dengan deraian air mata.


__ADS_1


"Sekarang kau memohon dengan deraian air mata, kemarin-kemarin sebelum kamu melakukan kejahatan ini ke mana saja? Apakah kamu tidak berpikir bahwa apa yang akan kamu lakukan beresiko tinggi?" ucap Syailendra di depan muka Syaira geram.



"Aku minta maaf. Dan jika kejadian ini menyebar, maka akan hancur reputasiku," ceplosnya masih terisak dengan wajah memohon.



"Enak saja kamu bilang, reputasimu hancur itu karena ulahmu sendiri. Lagipula diluaran sana sudah menyebar berita kejahatanmu, dan yang menyebarkan berita adalah orang-orang sekitar yang saat kejadian melihat langsung apa yang sedang kamu lakukan, jadi siap-siaplah masuk penjara dan membusuk di penjara."



Mendengar semua itu, Syaira sangat ketakutan dan nyalinya ciut. Dia yakin selain namanya akan hancur, maka setelah kedua orang tuanya tahu kelakuannya, maka bersiap-siaplah Syaira akan dibuang keluarganya ke tempat yang paling jauh dari negara ini. Bisa jadi ke negara Afrika tempat Omnya berdinas di kedutaan sana. Wahhh parah.



"Lepaskan saja dia, biarkan dia ditangkap Polisi," usul Syailendra.



"Atau kita buang ke tempat para bajingan biar hidupnya tambah hancur," balas Syahdan menimpali dengan senyuman licik. Kini dia mulai sedikit tenang dan bisa mengendalikan dirinya setelah tadi diingatkan Syailendra tentang Syana.



Syaira terkejut mendengar Syahdan ingin membuangnya ke tempat para bajingan, dia tahu tempat yang dimaksud Syahdan itu. Sudah pasti tempat transaksi prostitusi dan sejenisnya.



"Tidak, jangan kau buang aku ke sana. Biarkan saja aku ditangkap Polisi dan dipenjara," tawarnya dengan wajah yang menyedihkan.



"Baiklah, bebaskan dia. Biarkan Polisi menangkapnya dengan sukarela di jalanan ini. Tapi ingat, jangan coba-coba melarikan diri. Jika tidak, maka kamu akan tahu akibatnya," tegas Syahdan penuh ancaman. Syaira merunduk takut, dia benar-benar ngeri dengan ancaman Syahdan yang dirasakannya serius.



"Baiklah akan aku bebaskan, biarkan Polisi yang bertidak. Aku tidak akan mengotori tanganku dengan kejahatan," ucapnya seraya membuka tali pengikat Syaira dengan kasar.



Syailendra ikut membuka tali pengikat yang mengikat tangan Syaira. "Sayang banget Ra, kamu kotori dirimu dengan kegilaan yang menjerumuskan kamu ke dalam kubangan kejahatan. Padahal sebelumnya aku pernah simpatik padamu," bisik Syailendra tapi masih didengar oleh Syahdan. Syahdan tersenyum mengejek.



"Ha, ha, ha, ha, rupanya Kakak naksir sama dia," ejeknya diiringi tawa yang renyah. Syailendra memerah, mukanya menahan malu karena merasa rahasianya terbongkar.



"Tidak, aku hanya bersimpatik bukan menyukainya. Ini beda konteks, Syah," ujarnya ngeles menyembunyikan rasa malunya.



"Jangan harap kau Lendra, mana mungkin aku mau sama anak pungut sepertimu. Tampan saja tidak guna jika hanya seorang anak PUNGUT," ketus Syaira tandas dengan penuh penekanan. Bersamaan dengan itu sebuah tamparan melayang di wajah Syaira, keras.

__ADS_1



"Plakkkk," suara itu terdengar sangat keras sehingga membuat pipi Syaira sangat panas. Semua yang melihat di sana terkejut saat tangan Syahdan sudah menampar wajah cantik Syaira untuk yang kedua kali.


__ADS_2