
Syana
Gambaran Syahdan kira-kira seperti ini
Menerima Boomlike, silahkan. Yang mau baca dan like n komen makasih banyak. Semoga kebaikannya dibls Allah.
Syana memutuskan untuk tidak meninggalkan Syahdan. Dia menyimpulkan bahwa Syahdan membutuhkannya. Sekarang dia harus segera menemukan Syahdan. Akan tetapi dia tidak tahu di mana Syahdan balapan liarnya? Dan ke mana Syana harus menyusulnya?
Syana mencoba menghubungi HP Syahdan, namun tidak aktif. Berulang kali dia hubungi, gagal lagi. Syana mendesah putus asa. "Harus ke mana aku mencarimu, Kak?"
"Paman Rami? Siapa tahu dia bisa membantu," tiba-tiba saja Syana ingat Rami, salah satu bodyguard Syahdan yang pernah mengantar Syahdan ke apartemen dan Syana punya nomer HPnya.
Untuk beberapa saat panggilan Syana tidak di angkat. Syana gelisah, dia tidak mau hari ini Syahdan balapan liar. Sebab dia tahu, saat ini Syahdan moodnya sedang buruk. Syana tidak mau terjadi apa-apa sama Syahdan. Firasatnya juga sedang tidak baik tentang Syahdan.
"Paman Rami, ini aku Syana. Tolong kasih tahu di mana Kak Syahdan balapan liarnya?" tanya Syana saat panggilan itu terhubung.
"Ada apa? Apa urusannya dengan Nona?" jawab Rami galak.
"Aku ingin mencegahnya balapan liar malam ini, sebab aku punya firasat buruk tentang Kak Syahdan," balas Syana.
Rami tidak menjawab, dia langsung memutus panggilan Syana sepihak. Syana kesal dan putus asa, bodyguard Syahdan yang satu itu memang kesannya sangar dan tidak ramah.
Syana mencoba menulis pesan WA pada Rami.
"Paman Rami, kasih tahu aku di mana Kak Syahdan balapan liar?" Pesan WA terkirim tapi tidak ada balasan dari Rami.
"Ya ampun, bagaimana ini. Dua jam lagi jam tujuh, aku harus menemukan trek balapan liar itu," tekad Syana. Syana mencoba mencari tahu sendiri di mana trek balapan liar yang sering dipakai anak-anak muda balapan. Syana mencoba bertanya pada orang yang dijumpainya di jalan.
__ADS_1
"Permisi Pak, bapak tahu trek balapan liar yang sering anak-anak geng motor pakai balapan liar didekat sini?" tanya Syana. Akan tetapi Bapak yang sedang nongkrong sambil lihat HP itu menggeleng.
Syana tidak putus asa, dia masih mencari orang yang mau ditanyainya berharap ada yang tahu. Beberapa orang yang sudah ditanyanya tidak ada yang tahu. Sementara waktu di tangan sudah menunjukkan pukul 17.45, sebentar lagi adzan Magrib berkumandang. Syana berhenti sejenak untuk mencari mesjid terdekat. Nasib baik dari jaraknya berdiri, Mesjid sudah tidak jauh lagi.
Syana berjalan menuju Mesjid dan segera ambil wudhu karena sebentar lagi adzan Maghrib berkumandang. Tidak lama dari itu suara adzan Maghrib diperdengarkan.
Syana begitu khusu menjalankan ibadahnya. Dipenghujung sholatnya Syana berdoa sejenak meminta ditunjukkan di mana Syahdan berada. Seketika matanya berkaca-kaca. Entah perasaan apa yang Syana rasakan, yang jelas ia sangat sedih ketika mengingat si cowok urakan, begitu dia menyebut.
"Tunjukkan di mana Kak Syahdan, Ya Allah, aamiin." Syana mengakhiri doanya dengan mengusap wajahnya yang bening. Seketika bayangan Syahdan menari-nari di kepalanya begitu jelas. "Kak Syahdan," desahnya risau.
Sebelum keluar dari halaman Mesjid, Syana membuka HPnya berharap ada balasan dari Rami. Namun nihil. WAnya sama sekali tidak dibalas. Lalu Syana mencoba kembali menghubungi Syahdan, lagi-lagi tidak aktif. Saat Hpnya mau dia masukan kembali ke dalam tas kerjanya, tiba-tiba pesan WA masuk dari Syala, adiknya.
"Mbak Syana, Mbak akan pulang, kan?" Pesan itu baru dia baca dan belum mau ia jawab. Sekarang yang ada dipikiran Syana adalah keselamatan Syahdan.
Syana keluar dari Mesjid, mampir ke warung dan membeli sebotol air mineral. Di sana dia meneguk beberapa teguk air mineral untuk sekedar membasahi tenggorokannya yang kering.
Kini Syana mencoba bertanya pada pemilik warung tentang keberadaan trek balapan liar di sekitar sini. Namun pemilik warung tidak tahu.
"Coba tanya sama orang tukang ojeg yang ngumpul di pangkalan itu, Neng. Sepertinya beberapa dari mereka ada yang tahu," usul pemilik warung seraya menunjuk pangkalan ojeg.
Syana menyunggingkan senyum, di wajahnya terlihat ada sedikit harapan.
"Terimakasih, Bu," ujarnya sambil berlalu menuju pangkalan ojeg.
Tiba di pangkalan ojeg, Syana mulai bertanya. Di sana Syana mulai ada pencerahan. Beberapa Kang ojeg mengetahui trek balapan liar dekat sini.
__ADS_1
"Wahhhh, tidak jauh dari sini Neng. Tapi harus pakai ojeg, kalau jalan kaki lama, memangnya si Eneng ini mau balapan liar juga?" ujar salah satu dari mereka memberi tahu.
"Saya tidak balapan liar, Pak. Saya mau mencegah saudara saya yang mau balapan liar supaya dia menghentikan aksinya," balas Syana.
"Betul Neng, segera cegah saudaranya supaya tidak terjerumus lebih jauh ke dalam aksi balapan liar yang meresahkan. Mereka kalau sudah selesai balapan, kadang berantem sampai terluka karena yang kalah tidak terima dengan kekalahannya. Malah ketua geng motornya merupakan salah satu orang yang paling ditakuti. Dengar-dengar dia merupakan anak dari salah seorang pengusaha handal yang berpengaruh. Sehingga dia ditakuti dan disegani," jelas Kang Ojek. Syana mendengarkan Kang Ojek bicara sambil mencerna setiap omongannya.
"Ketua geng motornya malah sekarang terancam bahaya, dengar-dengar. Karena dia sering memenangkan beberapa balapan liar dan tidak pernah memberi kesempatan yang lain menang, akhirnya pihak lawan merasa tidak senang. Bahkan ada yang berencana menghabisinya," Syana terkejut mendengar cerita salah satu teman Kang Ojek yang lainnya.
"Jangan-jangan itu Kak Syahdan," pikirnya dalam hati risau.
"Pak, antar saya ke sana," ujar Syana mengajak salah satu Kang Ojek. Salah satu Kang Ojek sigap dan segera menyalakan mesin motor lalu menyerahkan satu helm buat Syana. Syana duduk dibonceng di belakang dengan hati yang was-was.
Motor Ojek yang ditumpangi Syana memasuki daerah perumahan yang belum jadi. Hanya ada beberapa bangunan rumah yang masih belum jadi di sana. Namun infrastruktur seperti jalan sudah terbentuk dengan aspal hotmix.
Kondisi bangunan yang masih terbengkalai inilah dijadikan tempat oleh para anak muda yang tergabung dalam geng motor untuk balapan liar. Syana melihat kiri dan kanan jalan, di sana ada beberapa motor yang serupa dengan milik Syahdan. Syana berharap salah satu dari mereka adalah Syahdan. Namun orang yang dia cari belum ketemu batang hidungnya.
Motor Ojek berhenti tepat di warung yang ada di situ. "Nah, sampai sini, Neng. Kalau arena balapan liarnya di sebelah sana, treknya tidak melewati warung sini. Startnya juga di sana dekat gedung kosong yang bercat putih itu," tunjuk Kang Ojek. Serentak Syana menoleh ke arah bangunan yang ditunjukkan Kang Ojek, yang memang dari kejauhan sudah terlihat kerumunan orang-orang juga motor-motor yang serupa dengan milik Syahdan.
"Bolehkah saya diantar ke sana, Pak?" tanya Syana penasaran.
"Saya tidak berani, Neng. Kalau Eneng berani dan memang benar-benar ada saudaranya yang main di sana, Neng jalan kaki saja menuju sana. Eneng pasti dikiranya saudara atau kalau tidak pacarnya, jelas Kang Ojek.
"Baiklah Pak. Kalau gitu berapa ongkos saya tadi?"
"Tiga puluh ribu, Neng." Syana segera mengeluarkan uang lima puluh ribu satu lembar.
__ADS_1
"Kembaliannya ambil saja, Pak," ucap Syana membuat Kang Ojek senang.