
"Kamu pasti suka, kan? Jangan bohong, aku tahu kamu suka tapi tidak mengakuinya?" tuding Syahdan memaksa.
"Tidak, aku tidak menyukainya. Itu tadi hanya terpaksa karena Kakak yang menghimpit tubuh aku," kilahnya seraya turun dari meja dan kembali menuju wastafel melanjutkan cuci gelas yang tadi belum selesai.
"Tidak usah bohong. Buktinya kamu masih mau pulang dan menyelamatkan aku dari ancaman musuh," desak Syahdan lagi merasa benar.
"Tidak, aku hanya peduli sama Kakak dan bukan berarti aku menyukai Kakak," sangkalnya lagi.
"Aku tahu kamu bohong. Tapi tidak apa-apa, akan aku lihat sampai di mana kamu bertahan menyimpan kebohonganmu. Yang jelas, saat kamu pulang tadi malam, aku yakin kamu mencintaiku dan tidak bisa melupakan aku," tudingnya lagi percaya diri.
Syana membalikkan tubuhnya lalu menatap Syahdan dengan tajam sebelum memulai berbicara.
"Jangan percaya diri dulu, aku berada di sini bukan kemauan aku, tapi atas paksaan Kakak. Dan semua yang terjadi yang pernah kita lewatkan bersama, bagiku hanya sebatas kewajibanku sebagai istri, tidak lebih. Dan perlu Kakak ingat, aku tidak akan pernah mencintai Kakak sampai kapanpun, aku hanya terikat buku nikah saja. Dan aku tekankan sekali lagi, aku tidak akan pernah mencintai Kakak karena Kakak bukan tipe aku," tekan Syana lagi-lagi menyangkal.
Bukan tidak ada maksud Syana berkata bohong seperti itu. Syana hanya tidak ingin terlalu berharap, jika nanti saat dirinya bisa merubah Syahdan menjadi lebih baik dan mengembalikan pada keluarganya, maka ia siap kehilangan Syahdan.
"Kamu bohong, aku tidak percaya," ucap Syahdan tetap menyangkal.
"Kakak harus percaya, aku melayani Kakak karena terpaksa. Karena Kakak memaksa dan aku tidak bisa menahan tenaga Kakak yang kuat."
"Lagipula Kakak sengaja menjebak aku supaya bisa dinikahi, untuk membuktikan pada orang tua Kakak, bukan? Berharap aku bisa merubah Kakak menjadi lebih baik, lalu Kakak bisa kembali diterima di dalam keluarga Kakak, kan?" tegas Syana lagi membuat Syahdan diam.
Syahdan diam, meskipun tujuan awalnya demikian, akan tetapi kini dia merasa nyaman dan seolah takut kehilangan Syana.
"Baiklah, terserah apa katamu. Yang jelas aku di sini adalah suami kamu dan kamu harus patuh dengan semua perintahku," tegas Syahdan sembari bergegas ke kamar mandi.
Syana sibuk kembali sembari memikirkan perdebatannya barusan bersama Syahdan. Niatnya kini dia luruskan, akan membantu membuat Syahdan berubah dan kembali pada kehidupan normal.
***
"Syana, kemarilah. Aku butuh bantuanmu!" panggil Syahdan di dalam kamarnya. Syana yang sedang memasak menghentikan masaknya dan segera menghampiri Syahdan.
"Kenapa, Kak?"
__ADS_1
"Duduklah di sini dan ambil kotak P3K itu. Luka di perutku terbuka, kamu perbaiki dan rekatkan yang kuat perekatnya!" titahnya sudah siap dengan berbaring. Tubuhnya dari atas sampai pusar sudah telanjang dada. Syana sedikit terperangah dan ragu. Tato kalajengking di dada kirinya terbayang-bayang saat turun naik.
"Ayolah, kenapa masih berdiri di situ? Ambil segera kotak P3Knya!" desaknya tidak sabar. Syana segera bergegas menghampiri Syahdan yang sudah terbaring. Syana duduk di tepi ranjang dengan muka menghadap Syahdan.
Luka di perutnya kembali berdarah. Untuk itu Syana perlu mengompres dulu lukanya sampai darahnya mengering. Syana heran kenapa Syahdan bisa terluka? Sedangkan saat dirinya melihat Syahdan di garis finish, Syahdan tidak mengalami luka apa-apa. Bahkan dia yang dinyatakan sebagai pemenang, sedangkan yang mengalami kecelakaan di putaran terakhir dan di tikungan tiga justru tim lawan yang awalnya ingin mencelakai Syahdan.
"Awwww," ringisnya kesakitan.
"Memangnya ini luka kenapa, Kak? Bukankah saat Kakak melewati garis finish, Kakak tidak mengalami kecelakaan? Lalu luka di pelipis dan sudut bibir ini kenapa?" tanya Syana penasaran sambil mengobati luka di perut Syahdan.
"Aku menghajar orang yang mau mencelakaiku saat turun podium," jawab Syahdan.
"Aku dikeroyok oleh orang-orang si Syam, saat aku mau melayangkan tinju yang ketiga kali. Mereka tidak kenal ampun meninju dan menendang perutku lalu salah satu diantara mereka berhasil melukai perutku dengan belati," tutur Syahdan sembari memperhatikan Syana yang sedang fokus mengobati luka di perut Syahdan.
"Sebaiknya Kakak segera tinggalkan geng motor dan balapan liar, supaya tidak terjadi lagi hal yang membahayakan seperti ini," tukas Syana masih merekatkan perekat luka di perut Syahdan.
"Itu hoby aku, aku tidak ingin meninggalkannya," tolak Syahdan membuat Syana mengkerut.
"Mau sampai kapan Kakak begini jadi ketua geng motor? Sampai tua, sampai sudah jadi bapak dan kakek? Lantas apa dong yang bisa dibanggakan dari Kakak untuk anak cucu Kakak kelak?"
"Aku akan berhenti jika aku bosan."
__ADS_1
"Bosan? Sampai Kakak bosan atau sampai Kakak mendapatkan musibah dan nggak bisa apa-apa?" sungut Syana kesal. Syahdan malah ketawa dinasehati seperti itu seolah sedang diberi lelucon.
"Apakah Kakak tidak sayang sama diri Kakak sendiri?" tanya Syana semakin kesal seraya memukul-mukul dada Syahdan.
"Aku malah lebih sayang sama yang bicara di depan aku ini," jawabnya sembari menarik tubuh Syana sehingga terjatuh menimpa dada Syahdan. Kini wajah mereka saling berdekatan. Tak ayal Syana tersipu malu seraya berusaha bangkit. Namun Syahdan menahannya dan menarik Syana supaya ikut berbaring.
Terpaksa Syana ikut berbaring dengan tubuh yang dipeluk erat oleh tangan kekar Syahdan. Syahdan menciumi pipi Syana dengan gemas membuat Syana geli sebab kumis tipis Syahdan mulai tumbuh.
"Sya, aku berhutang budi sama kamu. Andai saja kamu tidak memberitahukan informasi itu pada Rami, maka aku tidak tahu lagi apakah aku masih bisa ada di sini atau justru di rumah sakit. Dan yang jelas aku masih bisa melihat wajah cantik kamu," ungkap Syahdan sembari menyesap wangi di kepala Syana.
Karena jarak mereka terlalu dekat, Syana berhasil mengamati wajah Syahdan dengan lekat. Wajah yang tampan, rahang tegas, dengan hidung terbentuk sempurna. Sempurna Tuhan menciptakan Syahdan. Syana berdecak kagum dan terbersit di dalam hatinya rasa syukur karena telah memiliki Syahdan.
"Bagaimana Sya, apakah kamu sudah puas menikmati wajah tampan aku?" ujar Syahdan mengagetkan Syana yang memang sedang mengagumi wajah tampan Syahdan. Syana membuang tatapan ke arah lain. Kini yang terlihat justru hal yang lebih mendebarkan dada, yakni perut sixpack Syahdan yang mirip roti sobek. Jika ditekan maka akan sangat keras.
"Kak, lepaskan dulu, aku mau ke dapur. Aku tadi memasak ayam ungkeb, sepertinya airnya akan segera surut." Syana memberi alasan yang bisa lepas dari dekapan Syahdan. Namun Syahdan bandel menahan tubuh Syana dari pemberontakan. Lalu dengan genitnya ingin mencium bibir Syana. Akan tetapi belum sampai Syahdan berhasil mencium bibir Syana, bau gosong tiba-tiba tercium. Syana dan Syahdan saling tatap kaget.
"Ayam ungkebnya, gosongggh," jerit Syana sembari bangkit dan berlari menuju dapur.
"Gosong?" Syahdan ikut bangkit dan berlari ke dapur.
__ADS_1
Terima boomlike.... Wkwkwkw.... Silahkan selama jari Anda ikhlas.....