
Pagi menjelang, adzan Subuh berkumandang. Syana bergeliat melepaskan pelukan tangan Syahdan yang sejak semalam melilitnya. Rasa nyaman yang didapat semalam dari Syahdan, membuatnya tidur dengan nyenyak.
Sejenak sebelum Syana bangkit, Syana menatap wajah Syahdan. Saat tidur lelap saja wajahnya tetap tampan, Syana gemas dibuatnya sehingga tidak sadar Syana mengecup pipi Syahdan.
Sontak Syahdan merasa terganggu dan perlahan menggeliat, alhasil tangannya makin erat melingkar di pinggang Syana. Syana jadi susah lagi untuk bangkit.
Terpaksa Syana mendiamkan tubuhnya dipeluk kembali oleh Syahdan. Padahal dia mau ke kamar mandi.
"Kak, aku mau bangun. Ini sudah Subuh, waktunya sholat Subuh." Syana berbisik lembut seraya meraih pipi Syahdan lalu dielusnya.
"Kak!" Syana terjerembat saat Syahdan tiba-tiba melabuhkan ciuman di bibirnya. Syana terbuai dan membiarkan Syahdan menjamahnya.
"Kangen, Sya," bisiknya sendu. Syana ingin menolak sebab dia ingin segera ke kamar mandi dan melaksanakan sholat subuh.
__ADS_1
"Sya," lirihnya serak. Akhirnya Syana tidak bisa menolak, sehingga keduanya terlibat pertautan di Subuh ini.
***
Di sela sarapan pagi, Syahdan memulai obrolan. "Sya, benarkah Papa pernah temui kamu tempo hari?" Pertanyaan Syahdan membuat Syana terkejut, sebab sedikitpun dia tidak pernah bercerita tentang kedatangan mertuanya itu. Beberapa saat Syana hanya terdiam.
"Kenapa kamu tidak pernah cerita sama aku jika kamu pernah didatangi Mama, Kak Lendra ataupun Papa?" Pertanyaan Syahdan terdengar lebih ke arah protes.
"Papa sampai mau memberikanmu uang, kan, Sya?" Syana semakin terkejut dibuatnya dengan pertanyaan Syahdan yang kedua.
Syahdan menatap wajah Syana yang kini merunduk. "Kenapa tidak kamu ceritakan bahwa kamu sudah pernah disamperi mereka?" Syahdan penasaran dan ingin tahu. Syana tidak menjawab, dia ragu untuk bicara.
"Bahkan Papa sampai sempat memberimu sejumlah uang," ungkapnya membuat Syana tidak bisa berkata-kata.
"Kakak harus kembali pada keluarga Kakak. Mereka sangat ingin Kakak berada dalam dekapannya. Pak Syaidar sebenarnya merindukan Kakak. Untuk itulah beliau meminta aku untuk membujuk Kakak supaya Kakak kembali pada mereka," ungkap Syana menunduk menyembunyikan kesedihan yang tiba-tiba menyeruak.
__ADS_1
"Keluarga? Bukankah keluargaku di sini? Aku, kamu dan bayi kita. Alangkah jahatnya jika aku sampai kembali pada keluargaku dan meninggalkanmu, lantas prasangka burukmu itu menjadi kenyataan. Kamu bakal membenci aku, Sya. Aku yakin," cetusnya mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Tapi, Kak."
"Diamlah, jangan coba bujuk aku lagi untuk pulang ke keluargaku, sebab rumah sebenarnya untuk aku adalah kamu. Jika sudah ada rumah yang bisa membuat aku nyaman, kenapa harus kembali pada rumah lain meskipun di sana menjanjikan gelimang harta. Aku tidak akan sanggup meninggalkanmu," tukasnya dilengkapi curahan hati yang sepertinya ingin tercurah sejak dulu.
"Intinya sebuah keluarga akan selalu dirindukan jika didalamnya ada sebuah kenyamanan. Sayangnya aku nggak dapat itu," lanjutnya tanpa membiarkan Syana menyahut.
"Aku hanya tidak ingin Kakak melupakan keluarga, mereka tetap jalan Kakak untuk menuju surgaNya, dengan cara berbakti dan menjaga silaturahmi," cetus Syana mengingatkan.
"Aku tidak melupakan, Sya. Aku hanya keluar dari ketidaknyamanan dan tekanan. Kalau mereka memang masih menginginkan aku, maka yang aku butuh hanyalah kasih sayang yang tulus. Tidak melulu uang menjadi senjata untuk membuatku kembali. Bahkan diimingi menjadi pemimpin tertinggi Syaidar Mall saja aku tidak sudi," tegasnya menggebu-gebu.
Syana menatap Syahdan haru, rupanya gelimang harta tidak menjadikannya berbangga dan ikut menikmati harta yang dimiliki orang tuanya dengan sesuka hati.
__ADS_1
Perdebatan pagi ini cukup menguras emosi dan rasa haru di hati Syana, sebab di depannya dia menyaksikan Syahdan yang notebene terlahir dari keluarga kaya raya. Namun dia tidak nyaman dengan semua.