Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 58 Cucu dan Pewaris Selanjutnya (Tamat)


__ADS_3

"Kembalilah Syah, Papa mohon! Pimpinlah Syaidar Mall. Kamu adalah satu-satunya pewaris Papa, " desak Pak Syaidar menatap Syahdan penuh harap.



"Syahdan minta maaf, Pa. Syahdan bukan tidak mau patuh pada Papa kali ini. Tapi, Syahdan sudah punya kehidupan sendiri dan keluarga. Jadi, Syahdan mohon jangan paksa Syahdan untuk kembali dan memimpin Syaidar Mall. Lagipula jika Syahdan memimpin perusahaan Papa, belum tentu Syahdan mampu," tukas Syahdan dengan penuh rasa sesal. Pak Syaidar tampak kecewa, dia alihkan wajah ke arah lain untuk membuang rasa kecewa.



"Sekali lagi Syahdan minta maaf, Pa. Syahdan benar-benar tidak bisa."



"Kamu pewaris kami, Syah. Kenapa kamu menolak?"


"Masih ada Kakak yang selama ini patuh dan tidak pernah membangkang. Kenapa tidak Kakak saja? Dia juga pewaris Papa juga, kan?"



"Tapi, Kakakmu .... "


"Karena Kakak bukan Kakak kandung aku, dia hanya anak angkat yang diangkat dari anaknya Kakaknya Mama, kan?" potong Syahdan telak membuat Pak Syaidar dan Bu Syarimi tersentak.



"Papa dan Mama jangan terkejut dari mana Syahdan tahu siapa Kakak sebenarnya. Saat itu Syahdan merasa heran kenapa Papa ingin menunjuk Syahdan sebagai pemimpin tertinggi Syaidar Mall di kota ini, sedangkan anak Papa bukan hanya Syahdan. Bukankah masih ada Kakak yang lebih pantas, sebab Kakak selama ini selalu patuh dan menurut sama kalian. Dari situlah Kakak terus terang siapa dirinya sebenarnya. Aku menyesal mendengar kenyataan ini, kenapa Kakak dan aku tidak terlahir dari rahim dan ayah yang sama? Akan tetapi, walaupun aku dan Kakak bukan saudara sedarah, tapi aku menyayangi Kakak, sebab Kakak juga menyayangi aku," ungkap Syahdan panjang lebar.



Pak Syaidar dan Bu Syarimi saling lempar pandang, mereka benar-benar terkejut dengan pengakuan Syahdan.

__ADS_1



"Itu semua tidak benar Syah. Kalian Kakak beradik," sangkal Bu Syarimi.


"Kami memang Kakak beradik, Ma. Tapi, kami saudara sepupu. Kak Lendra Kakak sepupu aku, sedangkan aku adik sepupu Kakak. Tapi, kalian sudah menyayanginya sejak kecil dan menganggap Kak Lendra anak sendiri, kenapa tidak Kakak saja yang memimpin Syaidar Mall, sama saja, kan, Pa?"



"Iya, betul, kami menyayangi Lendra sama seperti kami menyayangi anak kandung. Tapi, untuk memimpin Syaidar Mall pusat, Papa maunya kamu yang pimpin sebagai pewaris tunggal Papa. Lendra tetap mewarisi perusahaan Papa, tapi dia sudah Papa amanahi perusahaan Syaidar yang di luar daerah. Papa mohon kamu mengerti, Syah." Pak Syaidar berbicara penuh permohonan.



"Tapi, Pa. Untuk saat ini Syahdan tidak bisa."


"Kenapa, Syah?"


"Papa masih bisa melimpahkan pada Kakak atau orang-orang kepercayaan Papa. Papa juga masih sehat, kenapa tidak Papa saja dulu yang tangani. Syahdan, masih mau fokus dengan merintis usaha Syahdan ini. Sekali lagi Syahdan minta maaf, Pa," ujar Syahdan menyesal.




Sementara itu, dari arah lantai dua ruko yang ditempati Syahdan, Syana yang tadi sempat beristirahat sejenak karena perutnya merasakan keram, merasa terganggu mendengar beberapa orang di lantai bawah sedang berbincang. Syana penasaran. Biasanya jika Syahdan ngobrol dengan kliennya, tidak sampai nyaring dan suaranya sampai terdengar ke atas.



"Kak Syahdan, dengan siapa Kakak berbicara?" Syana bertanya heran dan menghampiri. Namun beberapa detik kemudian Syana terkejut tidak percaya dengan tamu yang sedang dihadapi Syahdan. Syana menghampiri dan menyalami kedua orang tua Syahdan, walau hatinya ragu apakah salam hormatnya akan diterima atau ditolak.


__ADS_1


Bu Syarimi dan Pak Syaidar menatap Syana terkejut. Mereka berdua melihat penampilan Syana yang berbeda. Rasa terkejut tiba-tiba berubah senyuman. Entah senyuman apa, yang jelas keduanya sama-sama ternganga dan saling tatap.



"Syana, kamu sedang hamil?" Bu Syarimi meraih tangan Syana dan mengusap perut Syana yang baru menginjak usia enam bulan.



"Pa, kita akan punya cucu," antusias Bu Syarimi seraya merangkul tangan suaminya. Pak Syaidar membalas rasa bahagia istrinya dengan senyuman yang bahagia. Dalam hatinya berpikir, "inilah pewaris selanjutnya."



Syana tersenyum lalu duduk di samping Syahdan. Melihat kedua mertuanya tersenyum bahagia ketika menyambutnya, hati Syana merasa bahagia dan besar harapan dirinya kini sudah mulai diterima dalam keluarga Syaidar.



"Berapa bulan lagi kira-kira kamu melahirkan, Nak?" tanya Bu Syarimi penasaran.


"Insya Allah tiga bulan lagi, Ma," ujar Syana yang disambut bahagia oleh Bu Syarimi dan Pak Syaidar.



"Kita tiga bulan lagi punya cucu, Pa," teriak Bu Syarimi merangkul suaminya bahagia.



Dua kebahagiaan bagi Pak Syaidar, mendapat cucu dan penerusnya sebagai pewaris. Senyumpun mengembang di bibirnya.


NB; Alhamdulillah, akhirnya kisah Syahdan dan Syana selesai. Saya ucapkan terimakasih banyak untuk pembaca setia maupun sesama penulis yang sempat memberi dukungan untuk karya saya yang sederhana ini.

__ADS_1


T a m a t


__ADS_2