Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 16 Meminta Haknya Kembali


__ADS_3

"Kenapa Kakak tidak mau ceraikan aku? Laki-laki seperti Kakak sudah bisa ditebak hanya ingin merasakan kesenangan dunia saja, kan? Sekarang Kakak sudah merasakan kesenangan dunia dari aku, jadi mau apa lagi, Kakak tidak akan penasaran lagi, kan? Aku tahu tujuan Kakak menikah hanya sekedar ingin mencoba, setelah diluaran sana gonta ganti cewek yang sama urakannya dengan Kakak," tuding Syana menyudutkan Syahdan.



Tudingan Syana barusan jelas membuat Syahdan meradang, sebab walaupun dia urakan dan merupakan ketua geng motor yang disegani, tapi dia bukan tipe lelaki yang suka \*\*\* bebas. Mencoba perempuan yang satu kemudian mencoba yang lainnya.



"Jaga ucapan kamu, ya. Walaupun aku urakan dan cuma sampah masyarakat seperti yang sering kamu bilang, tapi aku bukan penjahat kelamin seperti apa yang kamu pikirkan. Coba selaraskan ucapan dan hijab yang kamu pakai, jika pikiranmu masih sepicik itu, buka saja sekalian hijabmu, tidak ada gunanya," serang Syahdan berang, dia tidak terima dengan tudingan Syana yang tidak benar itu.



Syana diam terkejut, melihat wajah Syahdan yang memerah dan suara yang tegas dan bergetar seperti itu, Syana menduga kali ini dugaannya salah dan Syana telah menuding Syahdan yang tidak-tidak. Sejenak Syana merasa malu dan tidak bisa berkata apa-apa lagi selain menundukkan wajahnya.



Syahdan mengangkat wajah Syana lalu dilihatnya lekat-lekat. "Jadi begini yang sesungguhnya kelakuan kamu, hanya menilai dari luarnya saja. Berhijab tapi gegabah menilai orang," kritik Syahdan sembari menurunkan dagu Syana kasar. Syana diam, sejenak dia merasakan sakitnya dagu yang dicengkram Syahdan barusan.



Syahdan keluar meninggalkan Syana yang menangis. Luka hatinya karena perlakuan Syahdan kini bertambah. Tapi di sisi lain, Syana mengakui dia salah, karena telah menilai Syahdan tidak benar.



Waktu semakin beranjak malam, kumandang adan Magrib telah diperdengarkan. Syana segera berdiri menuju kamar mandi untuk bersuci. Seketika kepalanya terasa pusing, rasa lapar dan haus di kerongkongannya juga mendera, karena sejak pagi tadi dia memang belum makan. Kemarahan dan perlakuan Syahdan membuat Syana lebih baik menyiksa diri dengan mengurung dirinya di kamar.



Walau kepalanya terasa sakit dan perutnya melilit karena lapar, akan tetapi Syana tidak menunda untuk melaksanakan kewajibannya pada Yang Maha Kuasa.



"Ya Allah, seandainya ini jalan yang terbaik buat hamba, maka hamba minta yang terbaik untuk hamba. Hamba tidak kuat menerima ujian lama-lama, setelah Kau kirimkan lelaki itu dengan cara yang tidak terduga. Maka hamba minta beri jalan hamba untuk menjauh darinya jika memang itu yang terbaik untuk hamba. Kembalikan hamba pada keluarga hamba, Ya Allah," doanya berbisik diiringi tangis.



Syana mengusap wajahnya mengakhiri doanya yang sungguh-sungguh. Baginya ini semua cobaan yang tiba-tiba yang sama sekali tidak pernah dia duga sebelumnya.


__ADS_1


"Apa yang kamu minta sama Dia?" Sebuah pertanyaan tiba-tiba menggema mengejutkan Syana yang sedang melipat mukenanya.



Sejenak Syana menatap sendu cowok yang menurutnya urakan itu. Sisa sembab di matanya masih saja ada sehingga masih bisa dilihat Syahdan.



"Aku hanya minta sama Allah ingin kembali pada keluargaku dan hidup normal seperti biasanya," jawab Syana. Sejenak Syahdan termangu mencerna ucapan Syana barusan. Lalu dengan cepat Syahdan meraih tangan Syana dan menariknya keluar kamar. Sementara tangan kirinya memegang kantong kresek yang berisi makanan yang tadi dibelinya di luar untuk makan.



"Ayo ke dapur, aku mau makan. Nanti kita lanjutkan obrolan kita jika sudah makan. Kamu juga belum makan, kan?" ajaknya sambil menarik lengan Syana ke dapur. Syana tidak bisa menolak lagipula dirinya memang lapar.



Syahdan menyiapkan piring dan menuangkan makanan yang telah dibelinya di luar tadi. Sebuah nasi Padang yang dibungkus kertas nasi dengan lauk ikan bakar diberikan untuk Syana.



Syana menatap sejenak piring yang sudah terisi nasi Padang, mau menolak karena masih sakit hati oleh Syahdan pun tidak bisa. Perutnya yang perih karena lapar, seakan meronta-ronta memanggil nasi Padang untuk segera di lahapnya.




Syahdan sesekali menatap Syana yang sedang makan. Sebetulnya dia tidak tega untuk menyakiti perasaan cewek muda di depannya ini, yang diakuinya memang cantik dan alim itu. Pertama mengenalpun Syahdan sudah menilai bahwa Syana adalah perempuan baik-baik yang alim, apalagi ditunjang dengan jilbab yang melekat di kepalanya.



Syahdan tidak salah menilai, ketika melihat Syana melaksanakan sholat saat kumandang adan telah diperdengarkan. Sementara dirinya hanya jadi penonton yang hanya mengagumi dan menandai, bahwa Syanalah perempuan baik-baik yang akan dia perlihatkan pada Papanya sebagai bukti bahwa masih ada perempuan baik-baik yang mau menerimanya setelah dia menolak perjodohan dengan Syaira perempuan yang dijodohkan Papanya.



Syana mengakhiri makannya dengan sisa nasi yang masih banyak. Syana sudah kenyang dan tidak mungkin lagi menghabiskan nasi yang banyak itu.



"Kenapa tidak dihabiskan, bukankah kamu dari pagi tidak makan?" tanya Syahdan heran.

__ADS_1


"Sudah kenyang, lagipula nasi Padang ini isinya banyak," alasan Syana seraya membereskan sisa makannya ke wastafel, kemudian menyisihkan sisa nasi itu di kantong kecil dan mencuci piring bekasnya makan.



Tidak lama Syahdan pun menyudahi makannya dan berdiri menuju wastafel yang masih ada Syana di sana. Meletakkan piring sisa makannya, yang dengan cepat Syana ambil dan dicucinya.



Setelah mencuci piring, Syana segera menuju kamarnya. Akan tetapi Syahdan berhasil meraih tangannya dan menarik Syana ke dalam kamarnya.



Syana mendadak berdebar, jangan-jangan Syahdan ingin meminta haknya. Syana berdoa, semoga Syahdan tidak menginginkan itu lagi.



"Duduklah dan kita bicara," titahnya, lalu membawa Syana duduk di ranjangnya. Syana masih diam dan tidak menyahut. Yang dia rasakan sekarang adalah rasa was-was.



Syahdan tiba-tiba memperlihatkan buku nikah di hadapan Syana. Syana mengkerut heran, apa maksud Syahdan memperlihatkan buku nikah itu?



"Buku nikah ini adalah legalitas pernikahan kita. Dan kita adalah suami istri yang sah. Jadi, jika aku meminta hakku, maka kamu harus memberikannya dengan sukarela," tegas Syahdan menjelaskan.



"Jadi maksud Kakak apa?"


"Setelah tadi pagi aku merasakan kesenangan dunia untuk pertama kalinya. Maka malam ini aku ingin memintanya kembali. Kamu sudah menjadi istri, tentu kamu paham tentang hak dan kewajibanmu sebagai istri, kan? Terlebih kamu adalah cewek baik-baik yang ngerti agama. Jadi maksudku adalah malam ini aku ingin meminta hakku kembali," jelas Syahdan membuat jantung Syana semakin berdebar.



Syana memutar tubuhnya dan dia kini membelakangi Syahdan. Dia tidak ingin melakukan itu, sebab Syana belum mencintai Syahdan. Syana mencari cara untuk menolak Syahdan, akan tetapi dia bingung dengan apa caranya. Sisa tadi pagi saja masih terasa sakit.



"Aku masih belum siap Kak. Sisa tadi pagi saja masih sakit," ucap Syana ragu-ragu.

__ADS_1


__ADS_2