Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 37 Siasat Syaira yang Gagal


__ADS_3

"Paman Rami? Ngapain ada di sini?" Syaira bertanya heran atas kedatangan Rami ke tempat itu. Syaira tidak suka melihat bodyguard Syahdan yang baginya menyebalkan itu datang dan menghampirinya.



"Tentu saja untuk membantu Den Syahdan, Nona. Kalau bukan untuk membantu Tuan kami, lantas saya harus menemani Nona berdiri di sana? Kalau seperti itu, saya senang sekali," jawab Rami sambil tertawa, yang bagi Syaira sangat menyebalkan.



"Jangan gila, tetap di situ dan kini giliranmu memperbaiki mobil mewahku yang penyok gara-gara nabrak pembatas jalan," sergahnya tidak suka seraya mengangkat tangannya di udara.



"Nabrak atau sengaja menabrakan diri, Nona?" ejek Rami sambil tertawa sehingga berhasil membuat Syaira membelalakan matanya yang liar. Sementara Syahdan tersenyum penuh kemenangan melihat Rami sedang mengerjai Syaira.



"Wahhhh, segar nih sepertinya minuman ini. Kebetulan saya sedang haus, apakah minuman ini buat saya, Den?" dengan gerakan cepat Rami segera meraih minuman berwarna kuning itu dengan beberapa kali tegukan. Seketika Rami merasa segar dan tidak haus lagi. Diapun tersenyum kegirangan.



Melihat minuman yang diberikan untuk Syahdan malah diminum Rami, Syaira nampak kesal dan kecewa. Kenapa harus bodyguard menyebalkan itu yang meminumnya. Syaira sungguh-sungguh kesal.



"Jangan-jangan obat itu akan bereaksi juga pada si bodyguard menyebalkan ini. Dasar bodoh, aku harus melakukan sesuatu," dengus Syaira dalam hati begitu kesal sembari memutar otaknya mencari sebuah siasat baru untuk Syahdan.



"Ra, mobil penyokmu sudah aku perbaiki dan hasil catnya hampir mendekati sempurna menutupi penyok tadi. Namun, jika kamu belum merasa puas, besok kamu bisa datang langsung ke bengkel dan minta dicat ulang sehingga hasilnya sempurna, tanpa bayar," jelas Syahdan sambil tersenyum bangga.



"Ok, deh. Nanti bayarannya masuk rekeningmu," tukasnya seraya hendak menuju pintu mobil. Namun tiba-tiba langkahnya berubah sempoyongan dan seolah-olah akan jatuh. Syahdan santai saja, dia tidak merasa khawatir dengan keadaan Syaira yang tiba-tiba mau pingsan.



Syahdan segera mengenakan jaketnya yang tadi dilepas, lalu memakai helmnya juga. Setelah ini dia akan menjemput Syana, mengajaknya jalan-jalan. Dengan penuh senyuman dia segera menuju motornya.

__ADS_1



"Bruggghhh." Bunyi sesuatu jatuh tertahan di atas aspal terdengar jelas olah Syahdan sehingga Syahdan sedikit terkejut. Rupanya Syaira yang jatuh ke atas aspal. Namun dia sama sekali tidak terpengaruh oleh siasat Syaira yang diduga Syahdan adalah kepura-puraan.



"Rami, tangani perempuan kesepian ini. Bukankah tadi kamu yang telah meminum minuman pemberian Nona Syaira untuk aku? Sekarang giliranmu yang mengurusnya," ujar Syahdan segera menyalakan mesin motornya lalu menjalankan motor itu dengan kecepatan yang maksimal.



Syaira yang mendengar penuturan Syahdan kepada bodyguardnya seperti itu, lantas bangkit dan terlihat masih segar seperti tidak mengalami sakit apapun.



"Syah, Syahdannnn, kembaliiii, jangan tinggalkan aku! Sialannnn. Awas kau ya!" teriak Syaira kesal sembari membenahi dandanannya yang kusut akibat menjatuhkan diri tadi di aspal. Sementara Rami, nampak seperti orang yang sedang linglung dan kepanasan. Dia mendekati Syaira, lalu meraih tangannya dengan paksa.



"Mau ke mana, Nona? Ayo, kita pemanasan dulu!" ajak Rami manarik tangan Syaira yang mencoba menghindar. Syaira menepis-nepis tangan Rami yang berhasil mencekalnya. Syaira menduga Rami berada dalam pengaruh obat perangsang yang tadi sempat dia bubuhkan di minuman berwarna kuning yang dia berikan untuk Syahdan.




Syaira segera menghindari Rami yang makin menggila dan mendekati mobilnya lalu menyalakannya dan melajukan sekencang-kencangnya. Syaira sangat takut jika Rami sampai memaksanya.



Sementara Rami yang sejak tadi berakting seolah menjadi orang korban obat perangsang, terkekeh melihat Syaira lari terbirit melajukan mobilnya dengan kencang karena takut dirinya kejar. Padahal tanpa sepengetahuan Syaira, botol minuman yang diberikan Syaira kepada Syahdan telah Rami tukar dengan botol yang baru.



"Ha, ha, ha, ha. Non Syaira rupanya sangat ketakutan jika aku yang memaksanya. Tahu rasa, kamu, Nona. Berhasil kami kerjai balik. Aku juga tidak sudi memaksamu. Perempuan berhati iblis sepertimu hanya pantas bersanding dengan pria berhati iblis juga," dengus Rami kesal seraya menuju motornya lalu menghidupkannya.



Motor Rami melaju kencang meninggalkan tempat di mana baru saja terjadi lelucon antara dirinya dengan Syaira.

__ADS_1


**


Sementara itu, Syahdan kini sudah tiba di apartemennya. Saat pintu apartemen terbuka dan tubuhnya mulai masuk, Syahdan segera mencari Syana. Namun, Syana yang dicarinya tidak ada.


"Sya, kamu di mana?" teriak Syahdan mencari Syana ke segala ruangan. Namun nihil. Syana tidak ditemukan juga.


"Kemana Syana?" gumannya seraya melihat ke luar jendela kamarnya siapa tahu Syana bergelantungan di sana untuk melarikan diri.


"Sya, pergi kemana kamu, Sayang? Apakah kamu benar-benar akan pergi jika aku nanti kembali pada kedua orang tuaku? Kamu terlalu berpikiran picik, Sya. Aku tidak akan kembali pada kedua orang tuaku jika kamu tidak ikut bersamaku," tegas Syahdan berkobar-kobar.



"Kamu tidak menepati janjimu untuk tidak pergi, Sya. Padahal tadi aku sudah mewanti-wantimu supaya jangan pergi sebelum aku pulang," marah Syahdan kesal.



"Baiklah, hanya ada satu cara agar bisa membuatmu tetap berada di sampingku. Dan aku tahu, dengan begini kamu pasti tidak akan pernah berpikir untuk lari dariku," tukas Syahdan seraya menatap ke dalam laci itu diiringi senyum yang masih samar.



Syahdan melangkah menuju lift lalu memasukinya. Di dalam lift dengan cepat, Syahdan menghubungi Rama dan Rami, memberikan informasi bahwa Syana menghilang dari apartemennya supaya Rama dan Rami segera menemukannya dan membawa kembali ke apartemen.



"Segera laksanakan!" titahnya keras, lalu menutup kembali Hp dan memasukkan ke dalam saku celananya. Wajah Syahdan memerah menyimpan kesal karena Syana mulai membantahnya.


**


Sementara itu Syana yang kini sedang berada di Taman Cinta, taman yang beberapa malam lalu sempat dikunjunginya bersama Syahdan, tengah duduk termenung menghadap hamparan taman bunga yang kini berada di hadapannya. Tatapannya seakan sedih dan hampa.



Tidak berapa lama HPnya tanda panggilan masuk. Dan itu panggilan dari Syahdan. Namun Syana mengabaikannya. Dia tidak mau terlalu berharap akan kebersamaan dirinya bersama Syahdan mengingat siapa Syahdan kini sebenarnya.



Syana lebih baik mundur dengan teratur untuk menghindari Syahdan. Cintanya yang terlanjur besar, lebih baik dibawa pergi, sebab Syana merasa dirinya dan Syahdan bagaikan langit dan bumi.

__ADS_1


__ADS_2