Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 13 Pagi Yang Kelam


__ADS_3

Syana mulai mengobati luka Syahdan. Sebelum diobati, Syana mengompres sejenak luka-luka Syahdan dengan air hangat. Darahnya yang masih mengalir dibersihkan dengan kain waslap dan air hangat.



Meskipun dengan gerakan yang masih kaku dan ragu, Syana perlahan mengobati luka di siku Syahdan terlebih dahulu. Dibersihkan lalu dibalut dengan kain kasa yang sudah direkatkan dengan perekat luka. Siku telah selesai, kini Syana menuju kening. Di tempat ini, Syana ragu untuk mengobati. Beberapa saat Syana nampak diam dan bingung harus apa.



Namun dengan niat mengobati, Syana segera beralih menuju kening. Membersihkan terlebih dahulu dengan kain waslap seperti tadi. Lalu dibalut dengan kain kasa dan direkatkan dengan perekat luka. Saat proses pengobatan luka di keningnya, Syahdan diam-diam memperhatikan wajah Syana. Syana awalnya belum sadar. Saat menyudahi mengobati kening Syahdan, dan Syana hendak membereskan kotak P3K, Syahdan dengan cepat menangkap lengan Syana. Otomatis tubuh Syana tertahan di sana.



Tatapan Syana dengan Syahdan bertemu dengan telapak tangan bertumpu di dada Syahdan. Syana dengan cepat mengalihkan pandangan ke arah lain.



"Kenapa malu?" tuding Syahdan masih memegang lengan Syana. Syana berusaha melepaskan cengkraman tangan Syahdan, namun sia-sia. Tubuhnya kini malah jatuh tepat di dada Syahdan.



"Dasar cewek tengil, kerjaannya molor terus. Bagaimana bisa saat anak buahku masuk apartemen ini, kamu tidur dengan lelapnya? Bagaimana jika ada penjahat masuk, kamu pasti sudah celaka dihabisinya," ujar Syahdan membuat Syana tiba-tiba kesal dan menarik tubuhnya dari dada bidang Syahdan. Syana merengut, dia kesal dengan kalimat Syahdan yang terakhir.



Syana menjauh dan berdiri menuju dapur. Dia rasanya sudah malas berdebat lagi dengan Syahdan, sebab dia tidak mau kepalanya sakit lagi setelahnya. Syana meraih air dalam dispenser, lalu meneguknya, rasa haus yang tadi mendera kini sirna.



"Kamu sudah bisa memasak, aku sudah membeli semua perlengkapan dapur seperti apa yang kamu minta tadi pagi," ujar Syahdan.



Syana tidak menyahut, kemudian dia melangkah menuju kamarnya dengan melewati Syahdan yang masih terbaring di ruang tengah.



"Kemarilah Syanaaa!" Teriakan Syahdan yang nyaring menghentikan langkah Syana menuju kamar. Dia berbalik dan melihat ke arah Syahdan. Rasanya dia malas untuk berbicara lagi dengan Syahdan.


__ADS_1


"Kemarilah, duduk di sampingku!" perintah Syahdan. Syana masih berdiri malas, dan rasanya enggan menghampiri. Namun dengan langkah malas, akhirnya dia datang dan mengikuti kemauan Syahdan serta duduk di sampingnya.



"Dasar pemalas, buat apa kamu jadi istri jika aku perintahkan duduk di sampingku saja susah?" Baru saja Syana duduk, Syahdan sudah memancing pertengkaran dengannya.



"Mau Kakak apa? Bukankah luka Kakak sudah saya obati?" tanya Syana kesal.


"Kakak pasti balapan liar lagi, kan? Sudah saya katakan, jangan balapan liar lagi, sebab saya punya firasat buruk tentang Kakak," ungkap Syana akhirnya.


"Firasat buruk apa? Kamu ini sok tahu?" ucapnya menganggap remeh.


"Bukan sok tahu, tapi tadi sebelum Kakak akan pergi balapan saya punya firasat buruk tentang Kakak dan sebelum Kakak pulang, saya mimpi Kakak kecelakaan dan motor Kakak ada yang mencurangi," jelas Syana mengungkap firasat buruk dan mimpinya tadi sebelum Syahdan pulang.


Sejenak Syahdan merengut memikirkan cerita Syana barusan. Mimpi buruk? Firasat dan motornya dicurangi?



"Itu hanya kebetulan saja, mimpimu hanya bunga tidur, aku tidak peduli tentang mimpi buruk atau firasatmu. Memangnya aku mau kemakan bualanmu, bisa jadi ini caramu supaya aku meninggalkan balapan liar, kan?" tuding Syahdan tidak percaya dengan apa yang diungkapkan Syana tentang firasatnya.




"Tidak perlu mengajari aku, cewek tengil. Kamu tahu apa tentang balapan liar dan kemampuanku menjalankan motor di jalanan? Kalau tidak paham, lebih baik jangan komentari perihal hobyku."



"Hoby Kakak hanya balapan liar yang tidak menjamin masa depannya. Hanya buang-buang waktu. Kakak hanya akan jadi bagian dari orang-orang yang meresahkan dalam masyarakat dan kelak Kakak hanya akan menjadi sampah masyarakat yang sama sekali tidak dihargai," tandas Syana memantik kembali emosi Syahdan.



Setiap kali Syahdan mendengar kalimat 'sampah masyarakat', dia meradang dan emosinya seakan meluap. Namun kali ini dia tidak bisa apa-apa, sebab kakinya masih sakit untuk dibawa berdiri.



Syana berdir meninggalkan Syahdan yang kini sedang emosi, namun ditahan. Jika kondisi kakinya tidak sedang sakit seperti ini, bisa jadi dia akan berdiri dan membela diri dengan apa yang dikatakan Syana baru saja.

__ADS_1



"*Cewek tengil ini membuka lukaku oleh Papa. Setiap dia menyebut sampah masyarakat, aku merasa sakit hati sama sakit hatinya saat Papa menyebutkan itu padaku*," batin Syahdan sedih.



Dua hari berlalu, kini kaki Syahdan sudah bisa digerakkan seperti biasa lagi. Sakit akibat tertimpa body motor tempo hari sudah baikan. Selama itu juga Syana merawat Syahdan, meskipun antara dirinya masih saja terlibat pertengkaran kecil.



Pagi ini Syahdan sudah terlihat rapi, sepertinya dia akan pergi dan ada janji. Syana sempat mendengar Syahdan saat menerima telpon tadi, bahwa hari ini trek balapan liarnya akan ditambah menjadi tujuh putaran. Syana kecewa mendengarnya, dia tidak ingin Syahdan balapan liar lagi. Karena menurutnya itu sangat membahayakan keselamatan nyawanya.



"Kakak mau kemana? Pasti balapan liar lagi?" Syahdan tidak menggubris dia segera di sepatu khas balapan. "Jangan lakukan lagi Kak, saya mohon. Kenapa Kakak tidak bekerja saja daripada balapan liar," sergah Syana masih berusaha mencegah kepergian Syahdan untuk balapan liar.



"Ini hoby aku, kamu jangan mencegahnya," tepis Syahdan tidak suka.


"Hoby yang akan menjerumuskan Kakak dalam mempertaruhkan nyawa, kan? Hoby yang akan mengantarkan Kakak semakin dekat menjadi sampah masyarakat, kan?" tandas Syana meninggi. Syahdan tiba-tiba emosi. Dia kembali membuka sepatu balapnya. Lalu menghampiri Syana yang masih berdiri di ruang tengah.



Syana heran dengan apa yang akan Syahdan lakukan.


"Hentikan omong kosongmu, kamu akan menyesal karena telah berani mengusik hobyku dan berulang-ulang kali menyebutku sampah masyarakat. Maka terima akibatnya dari perkataanmu," ancam Syahdan menyalak sembari meraih tangan Syana dan menyeretnya ke kamar.


Tubuh Syana dihempaskan di atas ranjang dengan keras. Syana nampak meringis dan ingin bangkit, namun tidak bisa sebab Syahdan sudah mengunci pergerakan tubuhnya.



Dengan beringas Syahdan pagi itu melampiaskan amarahnya pada Syana dengan merenggut kesucian Syana yang selama ini masih terjaga. Syahdan bangkit sesaat setelah dia menikmati keindahan pertamanya di dunia yang baru kali ini dia rasakan.



"Aku katakan jangan sebut aku sampah masyarakat, karena akibatnya bisa fatal," ucapnya sembari menatap Syana yang menangis kesakitan. Syahdan merasa tergugu dengan rasa yang baru saja dinikmatinya. Rasa indah yang sepertinya ingin diulanginya lagi.


__ADS_1


Syahdan beranjak setelah menyelimuti Syana yang masih menangis dengan selimut. "Aku pergi, dan jangan khawatirkan aku," ucapnya sembari menyunggingkan senyum.


__ADS_2