
Motor Syahdan melaju sedang, menuju taman kota. Setelah makan malam di kafe tadi, Syahdan masih ingin membawa Syana jalan-jalan dan cuci mata. Syana berpegangan dengan erat di pinggang Syahdan dengan tubuh bergelayut di punggung Syahdan. Kemesraan keduanya sungguh membuat orang sekitar yang melihat iri.
"Sya, sejak kapan kamu mengenal Mamaku?" Tiba-tiba Syahdan melontarkan sebuah pertanyaan yang tidak diduga Syana. Syana diam sejenak tidak langsung menjawab.
"Mama Kak Syahdan menemuiku dua minggu yang lalu di dekat toko buku. Beliau memintaku untuk menemani Kak Syahdan sampai Kak Syahdan bisa meninggalkan geng motor dan balapan liar," ungkap Syana jujur. Sebenarnya awalnya Syana bingung, apakah harus jujur atau tidak. Dan sekarang akhirnya dia jujur, karena Syana tidak ingin ada ganjalan di dalam hatinya jika harus berbohong.
"Lalu sekarang aku sudah meninggalkan kedua hal itu, apakah kamu akan meninggalkan aku juga?" tanya Syahdan membuat Syana terkejut sekaligus sedih. Tiba-tiba bulir bening seakan muncul di sudut matanya.
"Jika aku memang pantas untuk Kakak tinggalkan, tinggalkan saja, aku rela, asal Kakak bisa kembali pada keluarga dan bahagia," jawab Syana terdengar sendu.
"Sya, kamu kok bicaranya seperti itu. Aku tidak akan mau berpisah darimu seumpama nanti kedua orang tuaku memintanya, dan aku memilih kamu untuk hidup bersamaku," tandas Syahdan serius. Setelah mendengar ucapan Syahdan barusan Syana sangat bahagia.
"Ayo turun, kita sudah sampai di taman kota," ajak Syahdan menyadarkan Syana yang tadi sempat melamun sejak pertanyaan Syahdan dilontarkan.
Syana mengikuti kemana Syahdan berjalan dengan berematan tangan, mereka memasuki taman yang selalu ramai di malam hari. Syahdan mencari bangku kosong untuk diduduki, dan akhirnya ketemu.
"Duduklah di sini, kita akan melihat bintang yang tersenyum di atas sana," ujar Syahdan sembari menatap ke langit yang cerah penuh bintang.
"Sya, sinilah mendekat," ajak Syahdan seraya meraih tangan Syana untuk mendekat. Syana mendekat bahkan sangat dekat. Syahdan meraih pinggang Syana dan membiarkan tubuhnya bersandar di dadanya. Sejenak Syana merasa tidak enak karena di tempat umum. Tapi Syahdan menyadarkan bahwa di sekitarnya saja tidak peduli apa yang orang lain lakukan.
__ADS_1
"Jangan takut dan khawatir, lihatlah mereka. Kita tidak akan takut dosa karena kita pasangan sah, ayolah jangan tegang Sya. Kita tidak akan melakukan apa-apa selain menatap bintang itu?" jelas Syahdan seraya mengunci tubuh Syana diantara kakinya.
"Sya, lihatlah barisan bintang di sebelah sana. Mereka yang membentuk sebuah rasi bintang kalajengking, coba deh kamu perhatiakan." Syana mencoba melihat ke atas di mana letak rasi bintang yang Syahdan tunjukkan.
"Yang mana Kak? Benarkah bentuknya menyerupai kalajengking?" Syana mencoba meyakinkan penglihatannya dan mengawasi langit yang penuh bintang.
"Itu, Sayang. Coba perhatikan arah tanganku menunjuk," seru Syahdan sembari mengarahkan telunjuknya ke atas sana. Syana mengikuti kemana arah telunjuk Syahdan. Dan saat mata Syana tepat di ujung telunjuk Syahdan di sanalah dia temukan barisan bintang yang menyerupai seekor kalajengking.
"Wahhhh, ketemu. Benaran mirip, mirip kalajengking seperti apa yang Kakak bilang. Kok bisa?" seru Syana tidak percaya. Seumur hidup 22 tahun yang lalu Syana baru tahu bahwa semua bintang di langit ini susunannya banyak menyerupai binatang dan sesuatu. Dan kali ini Syana bisa menyaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri, bahwa rasi bintang kalajengking itu ada.
"Apakah rasi bintang kalajengking yang ada di langit itu ada kaitannya dengan tato kalajengking di dada kiri Kak Syahdan?" tanya Syana polos. Syahdan menatap Syana yang kini sedang asik menatap langit penuh bintang. Rasa gemas akibat pertanyaan Syana barusan membuat Syahdan ingin mencium pipi gadis di sampingnya ini. Bukan gadis melainkan gadis yang sudah terenggut kesuciannya oleh Syahdan secara resmi.
"Kakak, apa-apaan? Geli, tahu," teriaknya kecil seraya memukul lengan Syahdan. Syahdan terkekeh sembari merangkul tubuh Syana tanpa malu-malu.
"Sya, apakah kamu selama ini selalu memperhatikan tato kalajengking di dada aku? Aku tahu, kamu sengaja memperhatikan tato kalajengkingku saat .... "
"Kakakkkk, jangan," jerit Syana sembari menutup mulut Syahdan dengan sebelah tangannya. Syahdan tertawa saat menyadari kenapa Syana merasa malu jika dia ungkapkan disaat apa Syana memperhatikan tato kalajengking di dada kiri Syahdan?
"Aku tahu kenapa kamu bisa malu. Tato kalajengking ini melambangkan keberanian, jadi aku buat tato ini di sini sebagai lambang keberanianku. Dan aku tahu pada saat apa kamu melihat ini secara nyata dan lama," tutur Syahdan membuat Syana menutup wajah malu.
__ADS_1
"Sudah dong, Sya. Jangan kamu tutupi. Kenapa kamu harus malu? Duduk lagi yang benar." Mereka duduk kembali seperti tadi dengan jemari saling terjalin.
"Sya, kalau boleh jujur, apakah sebelum kamu kenal aku, kamu pernah berpacaran dengan seorang cowok?" tanya Syahdan tiba-tiba. Syana menggeleng dengan cepat. "Yang benar?"
"Benar," jawab Syana tanpa menoleh.
"Tatap mataku dan katakan bahwa kamu tidak pernah pacaran sebelum ketemu aku," titah Syahdan seraya meraih wajah Syana untuk melihat ke arahnya. Syana menatap Syahdan lekat lalu mengatakan hal yang ingin Syahdan ketahui.
"Belum pernah Kak, aku tidak berpacaran saat ketemu Kakak. Saat itu aku benar-benar tidak dekat dengan seorang cowok," jawab Syana sungguh-sungguh. Syahdan menatap kesungguhan di mata Syana dan dia menemukannya. Syahdan menjadi yakin bahwa memang yang dikatakan Syana benar.
"Sya, mendekatlah." Syahdan meraih tubuh Syana lebih dekat dan meraih tengkuk Syana, lalu Syahdan menatap mata Syana lekat.
"Sya, kamu mencintai aku, kan? Kamu tidak akan pernah meninggalkan aku?" Dua buah pertanyaan itu Syahdan lontarkan dengan tatapan yang sendu.
"Aku mencintai Kakak. Aku tidak mau kehilangan Kakak," jawab Syana bersamaan dengan bulir bening jatuh membasahi pipi Syana. Syahdan terharu mendengar pernyataan Syana baru saja, kini Syahdan yakin bahwa Syana memang benar mencintainya.
"Sya," ujarnya seraya meraih wajah Syana dan mengusap air mata yang mengalir. "Jangan menangis ya." Tangisan itu lalu dibungkam Syahdan dengan sebuah ciuman di bibir Syana. Sejenak Syana berontak kecil karena merasa ini di tempat umum.
"Sya, lihatlah," tunjuk Syahdan pada sekitar yang tidak peduli dengan apa yang orang lain lakukan. Lalu Syahdan meraih tengkuk Syana kembali dan menyatukan bibirnya dan bibir Syana. Syana akhirnya menikmati ciuman bibir Syahdan tanpa rasa malu lagi. Di saat keduanya asik masyuk dalam buaian asmara, tiba-tiba seseorang mengganggu kehangatan mereka.
"Heii kalian, jangan mesum di sini!" Namun sepertinya Syana dan Syahdan tidak sadar bahwa keasikannya sedang direcoki seseorang yang iri. Syahdan dan Syana kini malah semakin memperdalam ciumannya membuat Syaira semakin meradang.
__ADS_1
Wkwkkwkwk