
Syana merengut setelah ia dilarang untuk ikut pergi ke bengkel. Syahdan khawatir dengan keadaan Syana yang sedang hamil muda.
"Aku mau ikut, aku nggak kenapa-kenapa kok. Mualnya saja cuma tadi subuh. Sekarang nggak mual lagi Kak. Asal ada makanan yang segar-segar, aku kuat kok," rengeknya memelas ingin ikut ke bengkel.
"Lihat, aku ini bukan sakit. Kalau Ibu hamil kelihatan lemas sedikit, itu wajar. Kalau aku cuma duduk diam di rumah, aku akan bosan, Kak. Lagian, di bengkel bukan ngapa-ngapain juga, cuma duduk dan menerima pembayaran pelanggan." Rengekan Syana membuat Syahdan tidak tega untuk tidak mengajak. Terpaksa Syahdan mengajak, walau hatinya cukup cemas.
"Tapi, kamu tidak apa-apa, kan, Sya?" Syahdan mencoba meyakinkan.
"Aku, tidak apa-apa, aku baik-baik saja," ujarnya mencoba meyakinkan Syahdan.
"Pelan-pelan menjalankan motornya, Kak. Jangan ngebut!" peringat Syana seraya segera menaiki motor Syahdan di belakangnya.
Tiba di bengkel, Syahdan sudah dikejutkan dengan pelanggan yang sudah antri. Terpaksa Syamad yang sudah lebih awal di bengkel mengatur sedemikian rupa kendaraan pelanggan yang kini memakan badan jalan. Syamad sebetulnya ketar-ketir dengan pengguna jalan lainnya, karena kadang-kadang terdengar selentingan dari beberapa pengunjung merasa terhambat perjalanannya gara-gara kendaraan pengunjung bengkel Syahdan yang menghalangi.
"Kak, penuh," keluh Syamad seraya menunjuk ke arah antrian pelanggan yang memenuhi badan jalan. Syahdan nampak bingung saat melihat kondisi di depan bengkelnya yang memang cukup crowded, dan bisa jadi memicu protes pengguna jalan yang lainnya. Namun sejauh ini protes secara langsung belum ada yang berani, akan tetapi di belakang Syahdan ada saja yang bicara.
"Kak, alihkan saja sejenak pelanggan ke ruko Pak Syamil dan Bu Syara, bukankah mereka dekat dengan Kakak? Minta tolong sama mereka untuk sementara numpang parkir kendaraan pelanggan," usul Syana membuat Syahdan seperti mendapatkan ide.
Syana ikut prihatin dengan kondisi pelanggan yang mengular. Namun dengan parkiran yang tidak memadai. Syana ikut merasakan kegelisahan Syahdan dengan kondisi ini. Gelisah dengan lahan parkir yang tidak memadai. Syahdan berpikir, lambat laun kondisi seperti ini akan ketahuan juga oleh dinas terkait.
Syana menghampiri Syahdan yang gelisah, Syana tahu Syahdan sedang memikirkan lahan parkir untuk usahanya.
__ADS_1
"Kak," sapa Syana sembari menepuk lembut bahu Syahdan.
"Sudah, tidak perlu ikut pusing memikirkan keadaan parkiran ini. Untuk sementara, para pelanggan parkir di rukonya Kak Syamil dan Mbak Syara. Mereka sudah mengijinkan kok dan membolehkan. Kamu jangan terlalu banyak pikiran, kamu sedang hamil. Jadi, duduk santailah di depan meja kasir," ujar Syahdan seakan mengetahui apa yang sedang dipikirkan Syana.
Hari semakin siang, pelanggan di bengkel Syahdan datang dan pergi silih berganti. Semua pegawai di bengkelnya gesit melayani pelanggan. Syahdan cukup senang melihat keadaan ini. Semua pegawainya terutama para Montir dengan cekatan menangani kendaraan yang akan diservis, sehingga tidak begitu lama antri memakai badan jalan.
Syahdan mulai memikirkan bengkelnya, sepertinya harus segera pindah ke tempat baru yang lebih luas parkirannya dan luas tempat servisnya. Akan tetapi, Syahdan masih terkendala modal. Sebenarnya modal untuk pindah ke tempat baru sudah ada setengahnya, tapi hanya untuk sewa tempat saja. Syahdan tidak mau menyewa, niat awal dia sudah ancang-ancang ingin membeli tempat berikut tanahnya. Kebetulan tempatnya sangat strategis. Pemilik lahan sudah sering menawarkan pada Syahdan untuk dibelinya. Namun, sepertinya Syahdan belum siap modalnya diperkirakan tahun depan modal yang dibutuhkan untuk membeli lahan, dan tempat yang ditawarkan pemilik lahan tersebut, siap.
Menjelang sore, bengkel Syahdan masih ramai. Namun, pelanggan yang akan masuk bengkelnya sudah dibatasi sampai jam empat sore. Yang masih ngantri, hanyalah sisa pelanggan yang sebelum jam empat sudah antri.
Syana nampak lelah, sejenak dia bersandar di kursi yang dia duduki. Syahdan terharu melihatnya, dari sejak pagi Syana membantunya melayani pelanggan yang membayar baik kes maupun pakai kartu debet.
"Sya," sapanya sembari menyodorkan dua buah kantong kresek berisi rujak dan es buah kesukaannya. Syana terkejut dan segera meraih kantong kresek yang disodorkan Syahdan.
"Sya, pergilah ke belakang. Makanlah di sana! Ini biar aku yang handle, lagian pelanggan sudah tidak terlalu banyak," titah Syahdan pengertian dan penuh senyum. Syana berdiri, dengan bahagia dia meraih dua kantong kresek itu ke belakang ruko di mana terdapat meja dan kursi untuk tempat makan dan santai.
Hari semakin mendekati Maghrib. Para pelanggan mulai surut. Syahdan sudah mulai merapikan etalase, dibantu Syana.
"Ayo kita bersiap untuk pulang!" ajak Syahdan tepat Adzan Maghrib berkumandang sembari memberikan helm ke arah Syana. Syana menaiki motor Syahdan. Namun sebelum Syahdan menyalakan motornya, tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan rukonya.
"Syahdan!" panggilnya yang ternyata Syailendra sang Kakak. Syahdan dan Syana menoleh bersamaan.
__ADS_1
"Kak, Lendra."
"Aku ke apartemenmu," ujar Syailendra memberi kode supaya Syahdan jalan terus dan pulang ke apartemen. Syahdan paham, dia segera melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sementara Syailendra mengikutinya dari belakang.
Sementara di tempat lain, tepat di depan pintu apartemen Syahdan. Syala sudah berdiri dan memencet bel. Namun pintu sama sekali belum juga dibuka. Tadi sebelum berangkat ke apartemen Syahdan, Syana sempat menghubungi Syana, sayangnya HP Syana tidak aktif. Syala menduga, Syana dan Syahdan sudah pulang ke apartemen. Sehingga Syala langsung saja mendatangi apartemen Kakak iparnya itu. Namun, sampai adzan Maghrib usai, rupanya Syana dan Syahdan belum pulang.
"Kemana Mbak Syana, apakah masih di bengkel?" tanyanya heran. Syana sengaja menemui Kakaknya atas inisiatif sendiri dan desakan kedua orang tuanya untuk menengok Syana pasca kejadian penusukan di depan ruko spare part jalan Sudirman tempo hari. Terlebih berita terbaru perihal kehamilan Syana, membuat keluarganya cemas dan mengutus Syala untuk menengok Syana. Atau kalau bisa selama libur semester, Syala menemani Syana supaya saat Syana mengalami mual berat ada Syala yang bisa memberikan pertolongan pertama.
"Ya, ampun, HP Mbak Syana juga sejak sore tidak aktif. Bikin cemas saja. Namun, kecemasan Syala tidak lama. Beberapa menit kemudian Syana dan Syahdan muncul dan menghampiri Syala yang sudah berdiri di depan pintu apartemen.
"La, kamu di sini?" Syana heran sekaligus bahagia dengan kedatangan adiknya ini. "Pantas saja di bawah seperti ada motor kamu," ujarnya seraya merangkul lengan adik satu-satunya itu.
"Kak Syahdan, Mbak Syana, selamat buat kalian, ya. Sebentar lagi kalian akan segera punya anak dan menjadi calon Papa dan Mama," ujar Syala bahagia. "Juga terimakasih karena kalian akan segera memberikan aku keponakan," tambahnya lagi senang.
"Ya, sudah. Lebih baik kita masuk dulu. Nanti kalian bisa berbagi bahagianya di dalam," sergah Syahdan yang sudah membuka pintu apartemen dengan otomatis. Mereka bertiga masuk, dan pintu apartemen kembali tertutup otomatis.
Beberapa menit kemudian, bel pintu apartemen terdengar berbunyi. Syahdan yang baru tiba di kamar segera membuka pintu, dia tahu itu Kakaknya Syailendra, yang tadi sempat ke swalayan dulu membeli sesuatu.
Pintu terbuka dan Syailendra masuk dengan kresek besar di tangannya. Syana dan Syala yang masih di ruang tengah serentak menatap kedatangan Syailendra. Syana yang sudah tahu hanya sekilas menatap Kakak iparnya, lalu segera menuju kamar menyimpan tasnya. Lain dengan Syala dia masih berdiri terpaku menatap Syailendra yang secara kebetulan Syailendra juga menatap Syala.
Syala menundukkan kepalanya secepat mungkin sebelum Kakak iparnya, Syahdan melihat dirinya yang tidak sengaja saling tatap dengan Syailendra. Syala dalam hati takjub melihat Kakak beradik itu jalan beriringan, bak model jalan di catwalk. Dua-duanya tampan. Namun yang lebih menarik hatinya adalah Syailendra yang sempat mencuri pandang padanya.
__ADS_1
Apa sesungguhnya yang sedang di rasakan Syala terhadap Syailendra?