Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 45 Titik Terang


__ADS_3

Syana terlihat masih lemas dengan selang infus di tangannya. Syahdan menghampiri dan meraba jemari kiri Syana yang tidak diinfus. Rasa iba dan khawatir timbul begitu dalam, dan Syahdan berusaha memberi kekuatan.



"Kak Syahdan," ucapnya lirih. Syahdan menatap wajah Syana, ada binar bahagia di sana, berharap Syana segera pulih dan kembali pulang ke apartemen.



"Sya, yang kuat, ya, aku di sini," ujarnya seraya memperkuat rematan jemari Syana.


"Kak, aku takut," ucapnya diiringi air mata yang berderai.


"Jangan takut, ada aku," ujar Syahdan menegarkan Syana. Syahdan paham apa yang dirasakan Syana, dia merasa trauma akan kejadian yang menimpanya. Syahdan sigap mengusap air mata yang deras membasahi pipi Syana.



"Kurang ajar, siapa yang berani menyakiti istriku. Maka lihat saja pembalasanu, kamutidak akan aku beri ampun," batin Syahdan penuh amarah.



Hari beranjak sore, tepatnya setelah Syana minum obat dan makan sore, Syala sang adik tiba-tiba datang. Kedatangannya tidak sendiri, dia datang bersama seorang lelaki tampan yang tidak asing lagi. Dia Syailendra yang sengaja datang bersama Syala untuk menjenguk Syana.



Kedatanga Syala bersama Kakaknya Syahdan mengundang tanya dalam hati Syana. Kapan mereka bisa kenal, bahkan bisa sedekat ini?



Sebetulnya saat tadi di bengkel Syahdan, ketika Syailendra dan Syala mendapatkan kabar bahwa Syana mengalami kecelakaan, Syala sempat akan datang ke RS sendirian. Namun disaat yang sama Syailendra datang ke bengkel, dia juga mendapat kabar dari Syahdan tentang Syana. Akan tetapi sebelum Syailendra langsung ke RS dia mendapat pesan dari Syahdan untuk melihat dulu keadaan bengkel.



"Mbak Syana, apa yang terjadi Mbak?" Syala langsung terlihat sedih melihat Kakaknya terbaring lemah dengan selang infus di tangannya.



Syahdan menahan tangan dan menarik Syala untuk menjauh dari Syana, sebab kondisi Syana masih sangat lemah dan shock.



"Jangan perlihatkan kesedihan, Syana justru butuh dukungan supaya cepat pulih dan tidak mengingat kejadian yang tadi menimpanya." Syahdan menjauh beberapa meter dari Syana untuk berbicara pada Syala adik iparnya.



"Sebenarnya ada apa dengan Syana, apa yang terjadi?" Syailendra ikut menimpali dengan sebuah pertanyaan yang sama dirasakan di benak Syala.



"Istriku mendapatkan musibah, dia korban penusukan di depan ruko spare part sebrang jalan. Siapa dalang di balik ini masih diselidiki Rama dan Rami. Entahlah ini kesengajaan atau salah sasaran. Aku masih menunggu kabar dari mereka dan pihak Kepolisian," ujar Syahdan.



Syailendra dan Syana terkejut seketika, mereka tidak menyangka atas apa yang terjadi pada Syana.



"Sekarang Syana mengalami shock dan trauma, jadi usahakan kita yang menjenguknya bersikap biasa dan tidak memperlihatkan kesedihan, ini supaya mendorong traumanya cepat hilang," terang Syahdan kepada Syala dan Syailendra.


__ADS_1


"Untuk itu, La. Aku mohon, kejadian yang menimpa Kakakmu jangan sampai terdengar oleh kedua orang tua kalian. Kakak mohon, ya, La," pinta Syahdan pada Syana.



Syala yang sebenarnya berat untuk mengatakan iya, akhirnya mengangguk. Ini juga untuk kebaikan Syana juga supaya traumanya cepat hilang.



Tidak butuh waktu lama, Syahdan akhirnya mendapat kabar dari dua bodyguardnya, bahwa CCTV di sebrang jalan itu saat kejadian penusukan terhadap Syana sudah dikantongi Rama dan Rami. Mereka berdua segera mengirimkan bukti rekaman CCTV pada Syahdan.



Syahdan cukup tercengang saat melihat hasil rekaman CCTV, seseorang berjaket hoody hitam dan sebuah mobil berwarna merah jambu melesat kencang dari lokasi kejadian. Sedangkan peristiwa penusukan sepertinya terjadi saat Syana mendekati mobil berwarna merah jambu tersebut. Di sana hanya terlihat Syana mendekat kemudian pintu terbuka. Kejadian penusukannya tidak terlihat sebab tubuh Syana terhalang pintu mobil.



Akan tetapi salah satu pengunjung ruko sempat merekam kejadian itu. Dan rekaman pengunjung ini sudah menyebar dan berhasil dikantongi Syahdan. Titik terang mulai terlihat jelas.



"Sepertinya aku tahu siapa pelakunya. Akan aku balas sampai dia menyesal telah melakukan ini semua pada istriku," tandasnya di depan Syailendra penuh amarah.



"Jangan gegabah Syah, itu bisa membahayakan dirimu sendiri," cegah Syailendra risau dengan apa yang akan Syahdan lakukan pada sang pelaku.



Tidak lama dari itu Syahdan menghubungi Rama dan Rami untuk segera menyeret pelaku ke hadapannya.




Mobil berwarna merah muda itu menandakan siapa sebenarnya pelaku. Pelaku sebetulnya tidak rapi menyembunyikan identitas dirinya. Tidak cukup dengan hoody saja, sebab hanya dengan mengenali warna mobilnya Syahdan bahkan Syailendra bisa menebak siapa dalang di balik penusukan itu.



"Kak, ajaklah pulang Syala. Ini hampir jam tujuh malam. Aku takut kedua mertuaku curiga jika Syala pulang terlalu malam. Jika Kakak mau sekalian mengantarnya pulang dan melamarnya, silahkan saja," ujar Syahdan diselingi candaan yang sengaja menggoda Syailendra.



"Jangan bercanda kau, Syah. Dalam kondisi seperti ini kamu masih bisa bercanda. Sialan." Syailendra menyembunyikan rasa malunya atas candaan Syahdan.



"Ok, deh aku kembali, ya. Jaga istrimu baik-baik," pamit Syailendra seraya menghampiri Syala dan berbincang sejenak untuk membawa Syala pulang.


Setelah beberapa hari di RS, akhirnya Syana sudah dibolehkan pulang. Pihak RS hanya mengingatkan agar Syana tidak melakukan kegiatan yang berat-berat dulu.


Syana langsung dibawa ke apartemen. Luka di perutnya sudah mulai mengering, hanya ada sesekali rasa sakit akibat nyeri yang ditimbulkan gesekan kulit dengan luka sayat di perutnya.



Untuk sementara Syala yang harusnya ke bengkel, kini dialihkan tugasnya oleh Syahdan untuk menunggui Kakaknya di apartemen. Syala tidak banyak protes, sebab untuk beberapa hari ini Syana memang harus ada yang menunggui sampai Syana benar-benar pulih dan rasa traumanya hilang.



"Aku pergi dulu, jagain Kakakmu. Aku akan ke bengkel," pamit Syahdan pada Syala. Sejenak Syahdan menghampiri Syana dan berpamitan seraya mencium keningnya.

__ADS_1



Setelah Syahdan pergi, tinggal Syana dan Syala di sana. Syala menghampiri Kakaknya dan meraih tangan Syana.



"Mbak, cepat pulih, ya. Aku tidak ingin melihat Mbak sakit dan lemah seperti ini. Sekarang sarapan dulu dan minum obat pereda nyerinya," saran Syala sembari menyodorkan semangkuk bubur yang tadi dibelikan Syahdan sebelum pergi ke bengkel.



"Makasih, ya, La," ucapnya sembari membenarkan tubuhnya menyender di ranjang.


**


Syahdan tiba di bengkel yang sudah dibuka Syamad seperti biasanya. Hari ini terpaksa Syahdan harus menitipkan untuk sementara Kasir pada Syamad. Sebab Syahdan harus menyelesaikan urusan dia dengan pelaku penusukan yang membuat Syana terluka.



Syahdan sudah tahu siapa pelakunya. Dan hari ini dia akan minta pertanggungjawabannya, atau kalau perlu dia melakukan kekerasan balik untuk membalas rasa sakit yang dirasakan Syana.



Syahdan menyalakan motornya membelah jalan Sudirman dengan tujuan markas yang dia sebutkan tadi pada Rama dan Rami. Tidak butuh waktu lama, motor Syahdan sudah tiba di markas. Di depan pintu dia sudah disambut Rama dan Rami.



"Di mana perempuan itu?" tanya Syahdan dengan mata yang beringas. Rama dan Rami menunjukkan di mana dia menyekap pelaku penusukan Syana. Di sebuah kamar berukuran empat kali empat meter seorang perempuan muda tengah diikat dengan sebuah tali. Tubuhnya seketika berontak saat mendapati Syahdan datang.



Syahdan menghampiri dan membuka sumpal di mulut perempuan muda yang lumayan cantik itu. Setelah sumpal di mulutnya terbuka, Syaira berteriak seakan sejak tadi ingin bicara.



"Syahdan, lepaskan aku dari ikatan ini. Pelaku penusukan itu bukan aku. Aku mohon lepaskan aku. Tidakkah kamu kasihan melihat aku dikurung dan diikat seperti ini?" teriaknya menyangkal semua tuduhan yang menimpa padanya.



Syahdan menghampiri Syaira yang sejak tadi ngoceh, lalu meraih dagu Syaira dan dipegangnya kuat. Syaira nampak kesakitan karena tekanan tangan Syahdan begitu kuat dan menyakiti mulutnya.



"Sakittt, Syahdan Syaehdar ... lepaskan aku!" teriaknya dengan mata yang melotot.


"Ini tidak seberapa dibanding dengan rasa sakit yang istri aku rasakan. Biar imbas, maka aku akan menyayatkan luka yang sama seperti yang kamu torehkan di perut istriku, tapi di wajah cantikmu," ucap Syahdan penuh ancaman. Syaira nampak ketakutan, dia tidak mau Syahdan melukainya terlebih wajahnya.



"Tidakkk, jangan lakukan itu Syah. Aku sungguh-sungguh menyesal. Tolong lepaskan aku." Syaira memohon dengan deraian air mata.



"Simpan air mata buayamu, Syaira. Sekarang rasakan balasan dariku."


"Jangan, aku mohon jangannnnn," teriak Syaira lagi mencoba mencegah Syahdan.



"Plakkk," rasakan ini dulu baru nanti sebuah sayatan akan melukai wajahmu," tegas Syahdan menamparkan tangannya di wajah Syaira sehingga Syaira merasakan sakit dan panas di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2