Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 14 Bertemu Syaira


__ADS_3

Syana bangkit dari ranjang yang baru saja mengantarnya pada terenggutnya kesucian oleh laki-laki yang masih asing dan tidak dicintainya. Rasa pedih bukan hanya di hati saja melainkan di bawah sana yang rasanya menghujam sampai ulu hati. Syana berjalan perlahan menuju kamar mandi dengan isakan tangis yang sejak tadi dia raungkan. Dia mengguyur tubuhnya di bawah shower yang mengalir. Cucuran air mata ikut luruh dan hanyut bersama air shower.



Menyudahi mandi tapi hati masih dalam keadaan sakit. Syana masuk kamar dan segera mengenakan baju di kamarnya. Lalu setelah itu dia mengurung diri di kamar meratapi nasibnya yang malang.



Rasa lapar dan dahaga tidak dia hiraukan, Syana terlanjur sakit hati atas perlakuan Syahdan yang memaksanya.



Sementara di arena balapan liar. Syahdan tengah bersiap-siap di garis start. Dia tidak akan membiarkan siapapun menghalangi jalannya untuk menguasai trek ini. Main dengan fair dan bisa memenangkan balapan ini dengan jujur dengan hasil dari kemampuan sendiri, merupakan suatu kebanggaan. Tidak salah para anggota geng motornya, menobatkan dia sebagai ketua geng motor paling handal dan tidak terkalahkan saat ini.



Syahdan sudah waspada sejak awal supaya motornya tidak dalam kondisi lengah. Sebab kecelakaan tunggal dua hari yang lalu yang berhasil memecahkan body motornya yang original, berhasil diungkap bahwa motor Syahdan memang ada yang mencurangi. Busi motornya saat dibongkar di bengkel, sudah diganti dengan busi yang karatan dan hampir lepas. Syahdan bingung siapa yang sedang mengincar keselamatannya? Yang dia yakini jelas ini dilakukan oleh pihak lawannya, atau bisa jadi musuh dalam selimut yang sampai kini belum diketahui siapa orangnya.



Garis start beberapa menit lagi dimulai, ingatan Syahdan tiba-tiba melayang pada sosok Syana yang tadi pagi berhasil dia gagahi dalam kondisi marah. Sejenak dia merasa bersalah karena telah memaksanya sehingga dilihatnya Syana tadi sangat kesakitan.



Penemuan Rami tentang motornya yang sengaja dicurangi seseorang, juga mengingatkan kembali akan firasat dan mimpi buruk Syana yang disampaikan Syana tempo hari.



"Kenapa dengan gadis itu? Firasatnya benar tentang diriku, juga mimpi buruknya tentangku tepat," gumannya dengan pikiran yang masih melayang-layang pada Syana.



Tiba saatnya pluit panjang diperdengarkan sebagai tanda permainan segera dimulai.


"Prittttttttt."


Balapanpun dimulai. Syahdan sejak awal sudah memimpin dengan kondisi yang benar-benar menguntungkan, sebab beberapa temannya di tikungan pertama banyak yang tumbang duluan dan berjatuhan. Ini kesempatan emasnya untuk terus melaju dan menggeber stangnya sekencang-kencangnya.

__ADS_1



Trek terakhir, Syahdan semakin di depan, dan balapan kali ini dimenangkan lagi oleh Syahdan. Timnya satu geng menyambut kemenangan Syahdan dengan sangat bahagia. Tim lawan nampak kecewa dan pergi dengan rasa marah.



Beberapa saat merayakan kemenangannya bersama gengnya, Syahdan segera mengakhiri euporianya. Syahdan kembali melajukan motornya untuk pulang. Kotor di baju bekas balap, menandakan betapa bersemangatnya dia di balapan itu. Yang dia pikirkan kemenangan, dan kemenangan itu kini berada dalam genggamannya. Syahdan tersenyum bahagia.



Syahdan masih melajukan motornya, namun dipertigaan jalan Revolusi tiba-tiba seseorang mencegat laju motornya yang terpaksa dia hentikan mendadak. Syahdan heran siapa dia yang berani menghentikan Syahdan secara mendadak.



"Cekitttt." Bunyi rem mendadak terdengar menyakitkan telinga. Syahdan kesal dan menatap tajam ke arah siapa yang berani menghadangnya.



Orang yang menghadangnya berkacak pinggang menantang. Dari postur tubuhnya dapat dengan jelas dilihat adalah seorang perempuan. Berkaca mata hitam dengan body yang aduhai. Roknya pendek selutut dengan jaket kulit warna coklat. Di sampingnya terparkir mobil sport warna merah muda, tidak salah lagi dia **Syaira**, perempuan yang tadinya akan dijodohkan dengannya, akan tetapi Syahdan menolaknya.




"Pletok, pletok." Dua kali dan seterusnya dengan mata yang menatap tajam ke arah Syahdan.



"Syahdan Syaehdar, cowok sombong sejagat raya. Berani menolak perjodohan denganku dan diusir oleh Papanya tercinta sang pemilik mall besar sejomantara. Kini hidupnya terlunta-lunta bagaikan gembel jalanan. Dengan mengandalkan hidup dari balapan liar, apa yang kamu harapkan?" ucapnya sombong dengan tatapan angkuh. Lagi dan lagi bunyi permen karet di mulutnya diperdengarkan.



Syahdan hampir tersulut emosi tapi dia berusaha menahan amarah itu. Perempuan cantik yang sombong di hadapannya ini, kini merasa menang melihat keadaan Syahdan yang berbadan kotor sisa balapan liar.



"Persis gembel," bisiknya tepat ditelinga Syahdan sembari menepuk-nepuk bahu Syahdan kencang. "Coba kamu terima tawaranku dan menerima perjodohan denganku, maka hidupmu tidak akan terlunta-lunta seperti ini. Aku bisa memberikanmu semua kesenangan, asal kamu bersedia menikah denganku Syahdan Syaehdar," tegasnya menatap tajam.

__ADS_1



Syahdan masih belum beranjak dari motornya. Tangannya dengan santai dia lepaskan sejenak dari stang motornys.



"Menerima perjodohan denganmu sama saja menjual harga diriku. Aku sudah tahu siasatmu. Aku, kamu jadikan taruhan demi meraih ambisimu. Yaitu memiliki setengah harta Papamu jika kamu berhasil menikah denganku," ungkap Syahdan telak. Syaira pikir Syahdan tidak tahu siasatnya. Seketika Syaira terbelalak tidak percaya dengan apa yang diucapkan Syahdan baru saja.



"Apa yang kamu katakan tidak benar Syah, aku mencintaimu apa adanya dan tulus, bukan karena iming-iming harta Papaku," sangkal Syaira membela diri.



"Aku tidak peduli omong kosongmu. Simpan saja sandiwaramu sampai orang-orang bisa mengetahui belangnya dirimu dengan sendirinya." Setelah mengatakan itu Syahdan segera menghidupkan kembali Repsolnya dan melaju kencang tanpa bisa dihentikan lagi.



"Sialan, dari mana dia tahu semua rencanaku? Jangan sombong dulu dan merasa lolos dariku Syahdan, suatu saat kamu akan bertekuk lutut dan meminta orang tuamu untuk menikahkan denganku, saat jebakanku berjalan dengan mulus. Kita tunggu nanti," ucapnya penuh ambisi menatap marah kepergian Repsol milik Syahdan yang semakin menjauh.



Tiba di parkiran apartemen, motor Repsolnya segera diambil alih seseorang. Sepertinya dia adalah anak buah Syahdan yang akan mencuci motornya sisa balapan liar.



Syahdan tiba di depan pintu apartemennya. Segera masuk setelah ia yakin tidak ada yang melihatnya. Syahdan memang tinggal di apartemen sederhana ini demi menghindari siapapun pihak keluarga maupun orang suruhan Papanya supaya tidak mengetahui keberadaannya.



Memasuki ruang tengah, Syahdan tidak mendapati Syana. Di kamarnya pun tidak ada. Syahdan yakin Syana ada di kamar sebelah. Syahdan berpikir mungkin sebaiknya dia mandi dulu, setelah itu dia akan menemui Syana dan meminta maaf atas sikapnya tadi yang memaksa.



Namun saat langkah kakinya menuju kamar mandi, sekilas Syahdan menerbitkan seulas senyum, senyum bahagia yang entah apa yang menjadi obyek senyumnya. Yang jelas Syahdan bernyanyi dan bersiul ketika dia mandi. Kenapa dengan Syahdan?


__ADS_1


Hingga lap yang ter


__ADS_2