
"Syahh, sudah jangan lakukan lagi," cegah Syailendra yang melihat Syahdan sudah melayangkan tangannya untuk yang kedua kali. Syahdan menghela nafasnya dalam, dia tidak terima dengan kata-kata Syaira yang menyebut Kakaknya anak pungut dengan penekanan.
"Tidak perlu kau tekankan kata-kata pungut itu. Seolah di otakmu kata PUNGUT merupakan sebuah keburukan. Lebih baik seorang anak pungut daripada betina liar seperti dirimu. Tidak akan ada yang mau sama perempuan bermulut busuk sepertimu, kecuali bajingan," tekan Syahdan telak. Sejenak Syaira tersentak dengan sumpah serapah yang diucapkan Syahdan. Dirinya merasa terhina dan sakit hati.
"Sudahlah Syah, tidak perlu hiraukan kata-katanya. Aku sama sekali tidak terpengaruh. Lagipula aku memang anak pungut. Walau demikian, aku juga tidak sudi harus terjatuh ke dalam pelukan betina liar seperti dia," tandas Syailendra menunjuk wajah Syaira.
Ikatan di tangan dan kaki Syaira kini sudah terurai semua. Syaira merasa senang dan segera menjauh dari kamar itu. Namun langkahnya tentu saja tidak secepat orang normal. Dia berjalan dengan pelan sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya akibat diikat.
"*Kurang ajar Syahdan, Syailendra, kalian berdua pengecut! Aku harus berusaha menghindarkan diri dari kejaran Polisi, bagaimanapun juga aku tidak mau kalau harus masuk penjara*." Syaira masih berbicara di dalam hatinya dengan perasaan yang sangat kesal.
Beberapa langkah meninggalkan markas tempat dia disekap tadi, bunyi sirine mobil Polisi terdengar nyaring semakin dekat. Syaira sudah tidak bisa menghindar lagi, dia pasrah jika harus ditangkap, mau berlari pun percuma, sebab tubuhnya sudah sangat lemas.
**
Di sebuah rumah yang huniannya bak istana, Pak Syaidar terperanjat melihat berita yang saat ini santer dibicarakan baik di media sosial maupun media elektronik. Semua hampir membicarakan Syaira yang tertangkap kamera telah melakukan tindakan kriminal, yakni melakukan penusukan pada seseorang.
"Benarkah berita ini?" tanya Pak Syaidar pada dirinya sendiri tidak percaya. "Syaira melakukan tindakan kriminal dan sekarang dia sudah ditangkap Polisi guna mempertanggungjawabkan perbuatannya?" Pak Syaidar menarik nafas dalam, dia hempas koran yang tadi dia baca. Lalu mencoba mengutak-atik HPnya. Di setiap berita online nama Syaira menjadi topik utama dalam pemberitaan. Tentu saja Syaira menjadi headline news di berita mana-mana baik online maupun offline. Sebab Syaira merupakan anak dari Pengusaha Retail terbesar se Indonesia.
"Pa, Syaira menjadi headline news disetiap berita online maupun offline," berita Bu Syarimi setengah berlari menuju suaminya.
__ADS_1
"Papa, sudah baca Ma. Dan yang menjadi sasaran tindakan kriminalnya adalah perempuan yang bersama Syahdan," ujar Pak Syaidar seperti menyayangkan.
"Seumpama bukan perempuan itu yang dipilih Syahdan, maka Syaira tidak akan melakukan tindakan kriminal itu. Ini semua gara-gara Syahdan dan perempuan itu. Mereka berdua sungguh menyusahkan dan mempermalukan. Sungguh tidak berguna," umpat Pak Syaidar menyalahkan Syahdan dan Syana.
"Jangan sembarangan Papa bicara, Papa selalu menyalahkan anak kita. Sekarang terjadi tindakan kriminal oleh Syaira pada menantu kita, tapi Papa masih menyalahkan gara-gara Syahdan dan menantu kita. Jika memang benar Syaira perempuan baik-baik dan beratitude, dia tidak mungkin melakukan tindakan kriminal seperti ini, Pa. Pastinya dia berpikir ulang untuk melakukannya," bela Bu Syarimi terhadap Syahdan dan Syana.
"Tidakkah Papa lihat, sejak Syahdan pergi dari rumah dan menikah dengan perempuan muda yang sekarang menjadi istrinya, Syahdan sudah banyak berubah dan meninggalkan geng motor serta balapan liarnya. Sekarang Syahdan sedang mendirikan usaha dari nol dengan disupport oleh menantu kita, dan hasilnya mulai kelihatan, bengkel Syahdan mulai ramai dan diminati pelanggan. Jadi, jangan pernah Papa katakan lagi anakku tidak berguna atau sampah masyarakat lagi, sebab semua itu tidak akan pernah menimpa anakku," lanjut Bu Syarimi masih membela Syahdan.
"Menantuku? Siapa yang menganggap perempuan itu menantuku, Papa tidak pernah menganggap menantu. Bagiku Syahdan hanya cocok bersama Syaira, dan Syaira bisa membawa Syahdan menjadi pemimpin di Syaidar Mall ini. Huhhh, perempuan muda itu paling mau harta Syahdan saja sebab dia tahu siapa Syahdan sebenarnya," tukas Pak Syaidar masih menyudutkan Syana.
"Mama benar, Pa. Jika memang perempuan yang sudah menjadi istri Syahdan sekarang ini adalah gila harta, bisa jadi dari kemarin-kemarin dia banyak menuntut Syahdan, tapi ini tidak. Dan setahu Lendra, sejak hidup bersama perempuan muda itu, hidup Syahdan lebih terarah dan jauh lebih baik," timpal Syailendra tiba-tiba.
"Dan Papa jangan membela Syaira dan menyalahkan Syana menantu Papa. Syaira sama sekali tidak cocok dengan Syahdan, adikku. Perlu Papa tahu, niat Syaira ingin dijodohkan dengan Syahdan adalah motifnya harta. Syahdan menjadi sebuah taruhan antara Syaira dan Papanya, jika Syaira mau dijodohkan dan menikah dengan Syahdan, maka Papanya akan memberikan setengah hartanya untuk Syaira. Untungnya Syahdan tidak suka dengan hal itu, terlebih Syahdan sama sekali tidak pernah menyukai Syaira," lanjut Syailendra membeberkan semua fakta tentang Syaira.
Pak Syaidar dan Bu Syarimi terbelalak tidak percaya atas apa yang didengarnya barusan dari Syailendra.
__ADS_1
"Omong kosong apalagi ini Lendra? Kamu jangan ngawur, jangan membuat statement yang asal-asalan. Itu bisa bahaya dan jatuhnya pencemaran nama baik," sangkal Pak Syaidar tidak percaya.
"Kalau Papa masih tidak percaya, coba saja Papa tanyakan langsung pada **Om Syahri**. Sekarang Papa jangan menutup mata, dan jangan terlalu egois mempertahankan ego Papa terhadap Syahdan. Kalau Papa masih mempertahankan ego Papa dan kemauan Papa, maka Papa akan benar-benar kehilangan Syahdan anak satu-satunya Papa. Bahkan saat Lendra kasih tahu bahwa Syahdan akan ditunjuk sebagai pemilik tertinggi dari Syaidar Mall, Syahdan sama sekali tidak tertarik. Jadi, menurut Papa ada apa dengan Syahdan? Ternyata kekayaan yang Papa miliki tidak mampu membuatnya nyaman hidup di keluarga ini."
"Lendra, apa yang kamu katakan? Kamu membela Syahdan yang selalu membantah?" Pak Syaidar balik menyerang Syailendra tidak suka.
"Aku tidak membela adikku, Pa. Tapi aku mengatakan kejujuran, Syahdan tidak nyaman dengan kekayaan yang Papa miliki. Aku minta maaf karena telah mengungkapkan semua kebenaran ini. Aku permisi, Pa, Ma." Syailendra berpamitan dan beranjak dari kediaman Pak Syaidar dan Bu Syarimi.
Kepergian Syailendra menyisakan berbagai dugaan dan tentunya kesedihan mendalam di hati Bu Syarimi. Bu Syarimi kecewa dengan sikap suaminya yang benar-benar tidak mempercayai apa yang dikatakan Syailendra.
"Sekali ini saja Papa turunkan ego Papa. Jangan selalu memaksakan kehendak dan mempertahankan kehendak yang tidak akan mungkin dipatuhi lagi oleh Syahdan anak kita. Fakta sudah ada di depan mata. Syahdan sudah bahagia meskipun hidup sederhana. Dia sudah meninggalkan geng motor dan balapan liarnya. Namun Papa tetap menutup mata dan tetap menganggapnya tidak berguna."
"Kenapa sekarang Mama ikut-ikutan membela Syahdan?"
"Fakta yang kedua, Syaira ternyata menjadikan Syahdan sebagai taruhan bersama Papanya. Jika Syaira berhasil menikah bersama Syahdan, maka setengah harta Papanya akan menjadi milik Syaira. Apakah mereka pikir anakku adalah barang yang bisa dijadikan taruhan? Sungguh picik pemikiran mereka, dan Papa lebih picik, sebab Papa lebih percaya orang lain daripada anak sendiri. Maka mulai detik ini, jangan panik jika Papa perlahan akan ditinggalkan semua anggota keluarga Papa, termasuk MAMA," tegas Bu Syarimi geram lalu beranjak.
__ADS_1
"Mama, Mama mau kemana?" teriak Pak Syaidar panik ketika Bu Syarimi mulai pergi dan berkata keras padanya.