Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor

Cinta Syana Untuk Ketua Geng Motor
Bab 50 Kehamilan Syana


__ADS_3

Atas saran Mamanya, Syahdan berniat mengajak Syana memeriksakan diri ke Dokter kandungan. Akan tetapi Syana menolak mentah-mentah. Karena dia yakin kalau dia bukan hamil, melainkan masuk angin biasa.



"Ayo, Sya, periksakan dulu kandungan kamu. Apakah kamu hamil atau benar masuk angin?" bujuk Syahdan.



"Aku tidak mau diperiksa. Aku tidak hamil, Kak," ucapnya bersikukuh. "Lebih baik Kakak belikan aku tolak angin saja untuk masuk anginku," ujarnya sembari berbaring. Syahdan akhirnya mengalah dan tidak memaksa lagi.



NSeminggu berlalu, keadaan Syana masih belum berubah, Syana sering mengalami masuk angin seperti yang dikeluhkannya. Jalan keluarnya hanya minum tolak angin seperti biasa.



"Sya, kali ini kamu harus mau diajak ke Dokter, aku khawatir kamu kenapa-kenapa," ujar Syahdan khawatir. Syana diam saja, mungkin kali ini dia harus patuh akan ajakan Syahdan. Lagipula dia memang sudah seminggu ini mengalami mual dan kadang disertai sakit kepala.



Sore itu setelah Syahdan menutup bengkel, dia segera bergegas pulang untuk menjemput Syana ke Dokter kandungan. Sebab menurut Mamanya, Syana mengalami ciri-ciri spesifik perempuan hamil.



"Ayo, Sya," ajaknya setengah memaksa sebab Syana ogah-ogahan.


"Sya, ini untuk kebaikan kamu, lho." Agar Syana tidak menolak lagi, Syahdan langsung memakaikan helm motornya di kepala Syana. Terpaksa Syana mau, walau sebetulnya malas.


"Aku yakin aku hanya masuk angin biasa, Kak. Diminumi tolak angin saja akan sembuh," kilah Syana.



"Udah seminggu kamu mengalami mual begini, Sya. Apakah kamu tidak khawatir kamu kenapa-kenapa?" Syana diam, dia terharu dengan perhatian yang diberikan Syahdan. Bagaimana bisa jika suatu saat dirinya harus berpisah dengan Syahdan, sementara Syahdan seperhatian ini?



"Sudahlah, Sya, nggak usah melamun. Kamu tinggal patuh saja. Di bawa ke Dokter kandungan. Kalau bukan hamil, nanti kamu bakal dikasih obat untuk meredakan mual kamu," ujarnya sembari menyalakan mesin motor CBRnya.



"Naiklah, jangan lupa pegangan yang kuat!"


***

__ADS_1


"Nona Syana, Anda sudah berapa minggu telat datang bulan?" Dokter Syahnaz bertanya sembari mengoles gel di bagian perut Syana.



"Sudah dua minggu saya tidak datang bulan. Tapi, itu biasa, kan, Dok?"


"Itu biasa. Tapi telat datang bulan Anda sepertinya luar biasa," tukasnya sembari melihat ke arah layar monitor.


"Selamat, Anda akan menjadi seorang Ibu." Dokter Syahnaz memperlihatkan hasil USG empat dimensi dan menjelaskan hasil USG pada Syana. Syana melongo tidak percaya dengan apa yang disampaikan Dokter Syahnaz. Hasil USG saja dia tidak paham. Kenapa Dokter Syahnaz bisa mengatakan kalau dirinya kini hamil.



"Tapi, saya selama ini pakai pil KB, Dok," protesnya.



"Pakai pil KB, ya? Pakai pil KB kok masih bisa hamil? Mungkin begitu tepatnya pertanyaan Anda. Pil KB sebenarnya 90% akurat mencegah kehamilan bahkan 99 %. Lantas kenapa minum pil KB masih juga hamil? Ada banyak faktor kemungkinan. Pertama bisa jadi Anda lupa minum, sehari saja tidak minum bisa terjadi pembuahan. Kedua Anda minumnya bisa jadi tidak teratur dan waktunya yang tidak tepat. Sebetulnya masih banyak lagi faktor penyebab minum pil KB tapi masih hamil juga, ini hanya contoh sebagian kecilnya saja," jelas Dokter Syahnaz membuat Syana tidak percaya.



Ingin menyangkalnya tapi pada kenyataannya setelah pemeriksaan hasilnya positif dan usia kandungan Syana kini dinyatakan berusia empat minggu.




"Kalau begitu, saya permisi. Terimakasih, Dok." Syana berdiri dan keluar dari ruangan Dokter Syahnaz dengan hati yang bertanya-tanya.



Syahdan yang sedang menunggu sembari menerima telpon dari seseorang, membalikkan badannya dan mengakhiri panggilan.



"Sudah, Sya? Bagaimana hasilnya, apakah kamu dinyatakan hamil?" Syahdan menatap Syana dengan binar bahagia di matanya. Syana sejenak menatap wajah tampan itu untuk meyakinkan benarkah lelaki di hadapannya ini benar-benar bahagia jika mendengar kabar darinya bahwa dia kini tengah hamil?



"Ini ada resep yang harus ditebus," ujar Syana sembari menyodorkan secarik kertas resep. Sejenak Syahdan menatap Syana yang tidak ceria seperti biasanya. Syahdan sebetulnya ingin tahu, sebenarnya kenapa dengan Syana? Apa penyebab dia mual muntah beberapa hari belakangan ini? Syahdan menyesal tadi tidak ikut masuk saat Syana diperiksa. Jadi dia tidak tahu sakit apa yang diderita Syana?



"Sya, kata Dokter Syahnaz apa?" Syahdan masih penasaran sambil berjalan ke arah apotek di sekitar sana. Syana masih diam, rasanya dia masih belum percaya kalau dirinya hamil. Bayang-bayang perpisahan kini seakan jadi momok untuk Syana. Dia takut saat dirinya dinyatakan hamil, Syahdan pergi meninggalkannya. Sejelek itu pikiran Syana sampai Syana tidak sadar sejak tadi Syahdan mengajaknya bicara.

__ADS_1



"Sya, kamu kenapa sih dari tadi diam dan bengong saja saat aku tanya. Apakah kamu tidak senang kalau kamu hamil?" Sekali lagi Syahdan bertanya penuh penasaran dengan sikap Syana yang berubah murung.



"Ayo, naiklah dan berhati-hatilah. Pegangan yang kuat." Syahdan memberi aba-aba seraya memakaikan helm di kepala Syana.



Memasuki apartemen, Syana segera berlari ke dalam kamar dan mencari pil KB yang selalu dia minum. Syahdan mengejarnya, firasatnya mengatakan bahwa Syana akan mencari pil KB yang selalu diminumnya.



Syana meraih pil KB itu dari laci meja riasnya dan melihat tulisan kecil-kecil di luar kemasannya.


"Vitamin? Jadi ini hanya sebuah vitamin?" gumannya terbelalak tidak percaya.


"Sya, ada apa? Sejak kamu keluar dari ruangan Dokter Syahnaz, kamu murung dan diam saja. Katakan ada apa, jangan diam saja dong, Sya," desak Syahdan tidak sabar karena merasa tidak dihiraukan.



"Jadi, pil KB yang selama ini Kakak kasih ke aku hanyalah vitamin bukan pil KB?" serang Syana sembari melempar sisa pil yang masih ada, di hadapan Syahdan.



Syahdan terbelalak merasa perbuatannya diketahui Syana. Dia memang menukar pil Kb dengan vitamin supaya Syana hamil.



"Kalau iya, kenapa? Kamu tidak suka hamil sama aku? Terus kamu tidak terima dan mau kamu gugurkan kandungan kamu, begitu?" Serangan balik Syahdan membuat Syana menggelengkan kepala dengan cepat.



"Bukan begitu, Kak. Tapi apa maksud Kakak menukar pil KB dengan vitamin?" tanya Syana penasaran.



"Kamu mau tahu alasannya? Ok, aku katakan yang sesungguhnya. Aku hanya tidak ingin kamu pergi dari sisiku. Jadi, jika kamu hamil, kamu tidak akan mudah bisa tinggalkan aku, karena kamu mengandung anakku," tegas Syahdan sejujurnya dan memang itu kebenarannya.



"Kakak jangan egois, justru kalau aku hamil dan harus meninggalkan Kakak karena Kakak harus kembali pada keluarga Kakak, maka diantara kita tidak ada hal yang memberatkan untuk berpisah. Apakah Kakak sudah paham di sini?" sergah Syana penuh penekanan.

__ADS_1


__ADS_2