
"Bagaimana Nak, apa keputusan yang akan kamu ambil setelah mengetahui kebenaran tentang suamimu itu?" tanya **Pak Syakil** pada Syana yang kini tengah menjadi pusat perhatian di tengah-tengah keluarganya.
"Syana, belum tahu, Pak. Syana masih belum bisa memutuskan," ujar Syana sembari menunduk. Mukanya kini muram dan sedih. Sejak kembalinya ke rumah jam setengah sembilan tadi, Syana diliputi kesedihan. Dia bahagia bertemu dan diterima keluarganya kembali, akan tetapi batin Syana sedang tidak berada di tengah-tengah keluarganya. Syana memikirkan tentang **Syahdan** ke depannya. Padahal tadi Syana jelas melihat Syahdan baik-baik saja, namun tetap saja keselamatan Syahdan terancam jika dia masih bergabung menjadi geng motor.
"Kami semua minta maaf karena lebih percaya ucapan anak muda itu yang sengaja menjebakmu untuk menjerat dalam sebuah ikatan pernikahan yang tiba-tiba dan tanpa cinta," ungkap Pak Syakil meminta maaf pada Syana atas kesalahannya yang mempercayai begitu saja ucapan Syahdan tempo hari.
Mendapat permintaan maaf dari mereka, Syana tidak menyahut, dia benar -benar dilanda bingung dan sakit kepala yang tiba-tiba mendera.
"Ya, sudah, sekarang kamu istirahat dulu, Nak. Waktu juga sudah larut malam. Kamu jangan sedih-sedih. Besok saja putuskan apa keputusan yang akan kamu ambil," saran **Bu Syaina** meneduhkan Syana yang bingung.
Syana mengikuti saran Ibunya dan segera beranjak menuju kamarnya yang dulu pernah dia tempati selama belum menikah dengan Syahdan secara terpaksa ini.
Syala sang adik sengaja mengikuti Syana ke dalam kamar sang Kakak. Mereka sejenak terlibat sebuah obrolan.
"Terus bagaimana keputusan Mbak setelah ini?" tanya Syala penasaran. Syala menangkap kekalutan di wajah sang Kakak, sepertinya Syala tahu apa yang dipikirkan Syana.
"Jika Mbak mau kembali pada suami Mbak, itu memang tidak salah dan Mbak Syana sudah sepenuhnya masih dalam tanggungjawabnya selama dia belum mengucapkan talak," ucap Syala penuh pengertian.
Syana hanya menunduk, dia tidak bisa memutuskan sekarang, sebab dia juga masih bingung apakah Syahdan masih mengharapkannya kembali atau tidak?
"Ya, sudah, deh Mbak lebih baik Mbak tidur saja dulu. Jangan terlalu banyak pikiran, besok Mbak Syana ambil keputusannya," ujar Syala pengertian dan berusaha membiarkan Kakaknya itu istirahat.
Baru saja Syala keluar kamar, tiba-tiba HP Syana bunyi. Sebuah panggilan WA yang sudah terlewat memberi notifikasi. Syana segera membuka dari siapa panggilan WA tersebut.
__ADS_1
Syana terkejut setelah mengetahui siapa sebenarnya yang menghubunginya tadi. Syahdan memanggilnya namun tidak sempat terangkat. Sepertinya saat Syahdan menghubunginya tadi, ia masih di luar kamar.
Rasa hati Syana ingin menghubungi balik Syahdan, namun dia ragu. Jangan-jangan Syahdan tadi menghubunginya hanya karena penasaran, sebab sebelum balapan liar itu dimulai dia sempat menghubungi Syahdan tapi nomernya sedang tidak aktif.
Akhirnya Syana memutuskan untuk tidur karena matanya kini sudah lelah dan mulai ngantuk.
Besoknya, Syana bersiap untuk kembali bekerja. Dia memutuskan tetap bekerja di toko buku itu yang notebene tempat bekerja atas petunjuk Syahdan.
"Sekarang kamu mau kemana dan memutuskan apa?" tanya Pak Syakil penasaran.
"Syana, akan bekerja seperti biasanya, Pak. Dan Syana memutuskan, untuk-untuk, Syana memutuskan untuk tidak meninggalkan Kak Syahdan, Syana berharap Ibu dan Bapak tidak marah atas keputusan Syana," jawab Syana gugup. Wajahnya menunduk dan sedikit takut.
Pak Syakil dan Bu Syaina saling lempar pandang, dia tidak menduga bahwa anaknya akan memilih lelaki yang bernama Syahdan itu.
"Kami tidak akan marah kalau ini memang sudah keputusanmu. Lagipula kalian masih sah suami istri di mata agama maupun negara," tukas Pak Syakil terdengar bijaksana membuat Syana sedikit lega.
Syana menaiki gojek setelah dia berpamitan pada kedua orang tuanya juga **Syala**. Saat ini hatinya akan teguh mengembalikan Syahdan kepada kedua orang tuanya dengan usahanya sendiri sampai Syahdan benar-benar berubah menjadi lebih baik.
Syana tiba di tempatnya bekerja. Dia berusaha fokus dan menjalani pekerjaan hari ini dengan sebaik-baiknya. Dan waktu pulangpun tidak terasa sudah tiba. Syana mendadak bingung kembali, kemana dia harus pulang?
Dengan mengucap bismillah, Syana menaiki angkot yang jurusannya bisa melewati apartemen milik Syahdan.
Angkot yang ditumpangi Syana rupanya masih ngetem, dan menunggu penumpang sampai penuh. Waktu ngetem terasa begitu lama, setengah jam Syana menunggu di dalam angkot yang suhunya panas. Tangannya saja tidak cukup untuk mengipasi tubuhnya yang gerah.
Setengah jam berlalu, angkot yang ditumpangi Syana penuh, dan mulai berjalan sedang. Di dalam angkot, Syana tidak hentinya berpikir keras mengenai kehidupannya bersama Syahdan ke depannya.
__ADS_1
Di tempat lain, di apartemen sederhana milik Syahdan yang kini berubah persis kapal pecah, Syahdan menghabiskan waktunya dengan merokok dan sedikit minum. Terlihat dari sebuah botol bertuliskan amer yang masih ada sisa setengah lagi. Rupanya ketidak hadiran Syana di sisi Syahdan sehari saja sudah membuat Syahdan hampir tidak terkendali.
"Percuma aku hidup tanpamu, Sya. Kamu kini sudah tidak mau kembali padaku. Aku menginginkanmu, Sya. Pulanglah padaku, Sya," ocehnya berharap.
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Syahdan kini sudah menghabiskan satu botol amer yang cukup membuat pusing kepalanya, namun ia masih sadar. Lalu botol kosong bekasnya dengan sengaja dia lempar sebagai bentuk marah pada ketidakhadiran Syana.
"Brakkkk." Botol itu pecah dan belingnya berhamburan ke seluruh ruang tamu dan tengah. Syahdan melampiaskan kekecewaannya dengan melempar botol anggur yang tidak bersalah.
Tidak lama dari itu, tiba-tiba bel pintu apartemen berbunyi tanda orang datang. Syahdan sangat terkejut siapakah gerangan yang bertamu malam-malam?
Syahdan tidak menduga bahwa yang berada di luar adalah Syana, sehingga dia mengulur-ulur waktu untuk segera melihat dari kaca pengintai siapa sebenarnya di luar sana.
Syahdan berdiri dengan tangan yang menahan kepalanya yang kini terasa pusing. Lalu mendekati pintu dan mengintip dari kaca pengintai siapa di luar sana. Saat berhasil diintip, Syahdan sangat terkejut sekaligus senang dan segera membuka pintu.
"Sayangggg," ucapnya seraya memeluk tamunya dengan erat penuh rasa bahagia. Tamu yang dipeluk Syahdan sedikit berontak dengan hidung yang langsung ditutup karena bau amer yang menyengat.
Pintu apartemen tertutup otomatis dan terkunci otomatis. Masih di muka pintu, Syahdan belum melepaskan pelukannya dari tamunya. Bahkan kini tangannya merangsek dan bergerak kemana-mana.
"Kak, lepaskan! Aku sesak dan hampir tidak bisa bernafas," suara Syana sebagai bentuk protes terdengar, dan dorongan kecil di dada Syahdan membuat Syahdan tersadar.
"Sayang, kamu pulang," seru Syahdan sembari menatap lekat wajah Syana dan dibelainya wajah itu lalu dibingkainya. Syana tertahan di dinding pintu dengan tubuh Syahdan yang semakin erat menahannya. Sebuah ciuman mendarat di bibir tipis Syana dengan lembut dan penuh perasaan. Deru nafas Syahdan mendadak menjadi sebuah kerinduan yang sangat besar, dia seakan tidak bisa membendung sebuah hasrat yang tiba-tiba membuncah.
"Kakak, lepaskan. Mulut Kakak bau minuman keras, aku tidak kuat," protes Syana yang berusaha melepaskan tubuhnya dari pelukan Syahdan yang rindu.
__ADS_1
"Aku merindukanmu," ujarnya sembari menarik tubuh Syana ke dalam kamar.