Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Jadi Mamiku Ya, Tante!


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Sejak kejadian malam itu Luna tidak pernah mengunjungi Gio, dia lebih memfokuskan diri pada pekerjaannya daripada memikirkan hal-hal yang tidak penting.


Saat ini Luna tengah berada di sebuah rumah besar dengan pekarangan luas, yang baru kemarin dibelinya dengan uang milik Giselle. Rumah ini nantinya akan dijadikan sebagai panti asuhan sesuai dengan amanat almarhumah.


"Bibi senang sekali dengan adanya panti ini, Lun. Jadi nanti bibi bisa tinggal di sini kalau Non Luna menikah, nggak mungkin kan bibi bakal tinggal sendiri di apartemen. Sekarang aja kalau Non pergi kerja bibi kesepian, semenjak nggak ada Rio," ujar bi Eni sembari dia dan Luna melihat-lihat para pekerja yang sedang merenovasi rumah tersebut.


"Makanya bibi itu nikah, nanti kalau bibi menikah, aku akan menghadiahkan apartemen yang kita tempati sekarang untuk Bibi. Andai nanti Rara keberatan karena apartemen itu terlalu banyak kenangannya buat kita, aku dan Rara bisa membelikan apartemen atau rumah baru sebagai kado pernikahan Bibi," ujar Luna sambil merangkul wanita yang sudah dianggapnya keluarga itu.


Bi Eni menghembuskan napas berat sembari tersenyum hambar. "Mana ada yang mau sama bibi, sekarang ini umur bibi sudah 45-tahun, sudah lewat kali, Non."


Luna tertawa geli. "Mana ada yang seperti itu, Bi. Coba lihat berita, bahkan nenek-nenek yang udah umur 60-tahun lebih masih nikah lagi. Kan Bibi sering tuh pergi belanja buat kebutuhan kita, memangnya selama itu nggak pernah ketemu siapa gitu, kenalan, terus dekat."


Bi Eni menggelengkan kepala. "Nggak ada, Non. Bibi paling ke supermarket, udah gitu langsung pulang lagi. Kalau pun ada yang kenal bibi, paling cuma satpam di apartemen kita doang, itu pun sudah ada istrinya."


"Jangan yang ada istrinya juga dong, Bi!" Luna tertawa geli.


"Lha, memang rata-rata yang seumuran bibi itu udah nikah semua."


"Habis Bibi telat nikahnya, harusnya bibi itu dari dulu nikahnya!" ujar Luna.


Bi Eni tersenyum tipis, selama ini dia memang tidak pernah kepikiran untuk menikah. Bi Eni sudah bekerja pada keluarga Rara sejak umur 16-tahun, saat itu dia tengah luntang-lantung sebelum bertemu nyonya Maira, yang kemudian memberinya pekerjaan.


"Non Luna juga jangan ditunda-tunda lagi, udah 27-tahun kan sekarang. Nanti jadi kayak bibi lagi," balas bi Eni.


Luna tersenyum kecut. "Iya, Bi. Ini juga lagi nunggu calonnya."


Bicara soal calon membuat hati Luna kembali panas, dia jijik membayangkan keseharian Gio bersama perawat itu. Saat ini Luna malas untuk mengingat Gio, entah apa pun yang akan dilakukan pria itu, terserah.


Egoisme di dalam dirinya meminta untuk berhenti peduli. Lagi pula wajar Luna marah, dari sekian banyak pilihan, mengapa harus memilih perawat yang masih muda dan kecentilan untuk menjadi pengasuhnya?


Saat hari beranjak sore, Luna dan bi Eni meninggalkan rumah tersebut untuk kembali ke apartemennya. Di perjalanan, Luna menerima pesan dari nyonya Inggrid yang menanyakan gaun untuk cucunya. Luna pun memutar arah kembali ke butiknya.


"Ayo turun Bi," ajak Luna pada bi Eni saat mereka telah tiba di butik utama paradise fashion.

__ADS_1


"Nggak, ah. Bibi tunggu di mobil aja," tolak bi Eni.


"Bibi nggak mau ambil baju baru?" tawar Luna..


"Buat apa? Baju yang kemarin-kemarin Non Luna kasih aja masih banyak yang belum dipake," sahut bi Eni.


Bagi bi Eni pakaian-pakaian mahal itu tidak ada yang berguna, karena sehariannya hanya di rumah saja. Dia hanya keluar sekali-sekali untuk jalan, dan itu pun pasti bersama Luna atau Rara.


"Ya sudah, terserah bibi saja," ujar Luna lantas turun dari mobil.


Luna memasuki butik untuk menemui nyonya Iggrid. Tampak Laura begitu sumringah melihat kedatangan Luna.


"Apa bajuku ulang tahunku sudah jadi, Tante?" tanya Laura tidak sabaran.


"Sudah, Sayang ... ayo ikut tante!" Luna tersenyum sembari mengusap puncak kepala gadis kecil tersebut.


Luna pun mengajak kedua orang itu menuju ruangan khusus, tempat di mana gaun pesanan dari pelanggan kalangan jetsetnya disimpan.


Luna mengambil gaun milik Laura, lalu memberikannya kepada gadis kecil tersebut. "Gaunnya mau dicobain sekarang?"


Laura mengangguk antusias, kemudian Luna membawanya ke walk in closet. Gadis itu tampak bahagia sekali mengenakan gaun yang didesain sendiri oleh Luna.


"Cantik dong, sangat cantik!" sahut Luna sembari mencubit pipi Laura dengan gemas.


"Tante datang ya ke ulang tahun Laura," pintanya penuh harap.


Luna terdiam sejenak, dia tidak ingin menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa ia tepati. "Kita lihat nanti ya, Sayang."


Mendengar jawaban Luna, gadis kecil itu menunduk dengan raut wajah kecewa. Padahal dia sangat berharap Luna mau datang ke acara ulang tahunnya.


"Ya sudah, tante usahain datang ya. Laura jangan sedih lagi," bujuk Luna.


"Beneran, ya ... janji!" desak Laura dan Luna pun mengangguk.


"Maaf ya, Lun. Cucu saya jadi sering menyusahkan kamu, dia menjadi seperti itu karena tidak mendapat perhatian dari daddynya," tukas nyonya Inggrid.

__ADS_1


"Sama sekali tidak menyusahkan kok, Bu. Lagi pula Laura anak yang baik," sahut Luna.


"Tante Luna baik banget, mau nggak tante jadi maminya Laura?" ceplos gadi kecil itu yang membuat Luna menjadi speechless, tidak tahu harus berkata apa.


"Laura jangan asal bicara, tidak baik," tegur nyonya Inggrid.


"Tapi Laura mau mami yang seperti tante Luna. Nggak mau yang seperti tante Nita, dia jahat!" rajuk Laura.


Luna menghela napasnya, dia lumayan tahu kehidupan Laura dari nyonya Inggrid. Dia kasihan melihat anak sekecil itu sudah tidak mendapatkan perhatian dari orang-tuanya. Laura tak ubahnya cerminan masa kecil Luna.


Dengan tangan memegang kedua pundak gadis itu, Luna berjongkok di depannya. "Laura jangan sedih lagi, tante izinin Laura panggil tante mami, anggap aja tante ini memang maminya Laura."


"Benarkah?"


Luna mengangguk. "Iya."


"Kalau gitu nanti sampai rumah Laura mau bilang sama daddy, biar tante Nita nggak usah jadi mami Laura," ujarnya.


"Hah?" Luna terkejut mendengar penuturan anak kecil tersebut, padahal maksudnya bukan seperti itu.


"Biar nanti saya yang jelaskan sama Laura, Lun. Jangan dimasukin hati omongan anak-anak," ujar nyonya Inggrid yang melihat perubahan pada raut wajah Luna.


"Terimakasih, Bu," tukas Luna.


Mereka lantas keluar dari butik, untuk pulang ke kediaman masing-masing.


"Jangan lupa untuk datang ke pesta ulang-tahunnya Laura ya, Lun," pesan nyonya Inggrid yang diangguki Luna, lalu mereka pun berpisah.


Mobil milik nyonya Inggrid meluncur keluar dari parkiran butik, Laura tampak begitu bahagia karena Luna bersedia menjadi maminya.


"Oma, nanti bilangin daddy ya. Tante Nita nggak boleh jadi mami Laura, biar tante Luna aja yang jadi mami Laura!"


"Sayang maksud tante Luna tadi itu bukan seperti itu," sela nyonya Inggrid ingin menjelaskan kepada cucunya.


"Nggak mau, pokoknya tante Luna harus jadi mami Laura!" seru gadis kecil itu yang membuat omanya menghembuskan napas berat.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.


__ADS_2