Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Harus Sedikit Berkorban


__ADS_3

"Ya, Tuhan ...." Dokter Alya menutup mulut saking terkejutnya setelah mendapatkan hasil pemeriksaan lab yang ia lakukan.


"Kenapa Al?" tanya Lidya.


"Ada kandungan zat psikotropika dengan kadar tinggi dalam darah cucumu, Lid," jawab Alya.


"Psikotropika?"


"Sejenis sabu atau ekstasi?" Delia menyela.


Dokter Alya mengangguk kepala. "Ya, zat psikotropika adalah bahan dasar keduanya. Dalam dunia medis, psikotropika digunakan untuk mengatasi beragam kondisi atau masalah kesehatan. Psikotropika merupakan zat kimia yang dapat mengubah fungsi otak dan mengubah persepsi, suasana hati, kesadaran, pikiran, emosi, dan perilaku seseorang."


"Zat ini menimbulkan efek ketagihan, dan seharusnya hanya boleh digunakan untuk kepentingan medis berdasarkan resep dokter," imbuh dokter Alya.


"Tapi siapa yang memberikan obat terlarang itu pada Rio, Al ...." Lidya tampak cemas.


Dokter Alya menggeleng pelan. "Kita belum tahu, tapi yang jelas si pelaku sengaja memanfaatkan Rio untuk menjalankan keinginannya dengan memberikan zat tersebut."


"Jadi kemungkinannya apa yang dilakukan Rio pada Luna dan mamanya adalah atas perintah orang tersebut?" Kali ini Delia yang berspekulasi.


"Itu kemungkinan terbesarnya. Untuk sekarang jangan biarkan Rio keluar rumah, saat ini tingkat kecanduannya pada zat tersebut sudah sangat tinggi. Aku akan mengirimkan psikiater pilihan untuk menemani rehabnya," ujar dokter Alya.


"Apa cucuku bisa sembuh, Al? Apa obat itu akan merusak pertumbuhanya?" Lidya semakin cemas.


Dokter Alya menghela napas berat. "Itulah yang disayangkan, Lid. Jika dilihat dari tingginya kadar Zat Psikotropika yang terkandung dalam darah Rio, dapat dipastikan ini akan mengganggu tumbuh kembangnya, tapi kita akan berusaha melakukan pengobatan yang terbaik."


Dokter Alya berdiri dari tempat duduknya, lalu menepuk bahu Lidya sejak tadi menunduk lesu. "Ayo beritahu para pria itu, biar mereka mencari tahu siapa pelakunya."


***


Di ruang tunggu pasien, satu keluarga besar tampak gelisah. Rara dinyatakan koma setelah mengalami benturan keras di kepalanya.


Sean langsung berdiri saat melihat kedatangan ibunya. "Di mana anak sialan itu, Bu? Anak itu telah membuat istriku yang tengah mengandung jadi koma!"


Plaakk!!

__ADS_1


Sebuah tamparan keras, dan tatapan membunuh dari ibunya menjadi jawaban atas pertanyaan Sean. "Jangan bicaramu, Sean! Jangan salahkan cucuku, tapi salahkan dirimu yang tidak becus menjaga cucuku!"


Sean menunduk tanpa berani menatap ibunya. Brian yang melihat kemarahan istrinya langsung berdiri untuk menengahi.


"Duduklah, kita bicarakan dulu inti permasalahannya," bujuk Brian sembari merangkul istrinya untuk duduk.


Setelah semua tenang, dokter Alya pun berkata, "Sesorang mencekoki Rio dengan zat psikotropika, hingga membuatnya kecanduan. Dugaanku, orang ini sengaja membuat Rio ketergantungan, agar mau menuruti perintahnya."


"Sudah kuduga. Baiklah, aku dan Brian akan mengurus masalah ini secepatnya, untuk mengetahui apa motif pelaku." Daddy Lucas berdiri dari tempat duduknya.


"Fanny bisa mencarinya!" Ayah Brian juga berdiri, lalu kedua pria itu meninggalkan tempat tersebut.


Ibu Lidya memandangi Sean yang tampak terpukul, karena dua masalah yang sedang merundung putranya itu dalam waktu bersamaan.


"Kau di sini saja, Sean. Temani istrimu. Ibu akan pulang untuk menjaga Rio," ujar ibu Lidya.


"Aku ikut," sahut mommy Delia, dan kedua wanita itu pun beranjak dari sana.


"Onty, apa aku sudah boleh pulang?" tanya Luna yang sudah bosan setelah tiga hari di rumah sakit.


"Benar, My Kwen. Kau masih harus istirahat," ujar Gio yang kemudian menggendong istrinya kembali ke ruang rawat.


Gio merebahkan Luna di atas ranjang dengan pelan, kemudian duduk di samping istrinya.


"Kasihan Rara dan Rio, Gi. Kenapa selalu saja ada masalah yang merundungnya," lirih Luna.


"Kau terlalu banyak memikirkan orang, My Kwen ... sedangkan dirimu saja belum sembuh betul." Gio mengusap kepala Luna.


"Aku yakin sekali yang terjadi padaku bukan ketidaksengajaan. Melainkan, juga disuruh oleh orang itu."


Gio menggelengkan kepala. "Bagaimana kau bisa seyakin itu, Lun? Sudah jelas yang menimpamu itu murni kenakalan Rio."


"Apa kau masih marah sama Rio? Aku sudah bilang Rio itu tidak nakal, kau tidak percaya padaku?" Luna mulai kesal.


"Aku percaya, Lun. Sekarang tidurlah, setelah ini aku akan menemani Sean, sepertinya dia juga terpukul," bujuk Gio yang tidak ingin istrinya semakin marah.

__ADS_1


Gio menemani istrinya sampai tertidur, setelah itu dia pun pergi ke ruang tunggu menemui Sean.


Sepupunya itu masih duduk di sana dengan wajah gelisah, saat ini dia belum boleh menemani Rara di ruang ICU, karena keadaan istrinya itu yang masih kritis.


"Bersabarlah, Bro ... Rara pasti bisa diselamatkan, aku juga minta maaf atas kejadian kemarin," tutur Gio seraya mendudukkan diri di samping Sean.


"Aku cemas, Gi. Bukan hanya tentang Rara, tapi Rio juga. Iblis mana yang tega meracuni anak sekecil itu dengan obat-obatan terlarang, lalu menjadikannya boneka!" lirih Sean dengan suara parau.


"Kita akan segera mendapatkan dan membalas perbuatannya."


***


Setelah berjam-jam memantau keseharian Rio melalui layar monitor dan tidak mendapatkan bukti apa pun, Fanny akhirnya menghentikan pemeriksaan.


Lalu dia menghampiri Brian dan Lucas, yang sedang duduk menunggu kabar dengan perasaan gelisah.


"Aku tidak mendapatkan apa-apa, aku sudah meretas setiap CCTV maupun kamera ponsel yang ada di jalur keseharian Rio. Semuanya normal, baik itu di sekolah maupun di panti asuhan," ujar Fanny seraya mendudukkan diri di depan kedua temannya.


"Mana mungkin! Lalu apa yang membuat cucuku terkontaminasi zat psikotropika sialan itu," sanggah Brian.


"Itu artinya orang yang melakukannya sudah mengenal dan mengetahui kemampuan keluargamu dengan baik. Dia sangat hati-hati, dan bahkan tidak berani membawa ponsel saat memberikan benda itu kepada cucumu. Dia sudah memperhitungkan setiap tindakannya dengan matang, seperti seseorang yang memiliki dendam besar terhadapmu," jelas Fanny.


"Musuh dari mana, Fey ... kita sudah tidak mempunyai musuh sekarang," bantah Lucas.


"Itu menurutmu, Luke. Mungkin kita tidak, tapi anak-anak kita?"


"Sudahlah, tidak penting siapa pun orangnya, yang penting kita harus mendapatkannya," sela Brian.


"Apa kau punya solusi?" tanya Lucas.


"Ya, hanya ada satu cara. Biarkan cucumu beraktifitas seperti biasa, jangan lakukan pengawasan apa pun. Biarkan dia mendapatkan obat itu satu kali lagi. Aku akan memasang kamera pelacak nano di pakaiannya, maka kita akan mendapatkan pelakunya," ujar Fanny.


"Apa tidak ada jalan lain, Fey? Saat ini saja cucuku sudah kecanduan obat itu, dan entah efek buruk apa yang akan terjadi padanya nanti," tolak Brian tidak setuju.


"Pilihannya hanya dua, Brian. Kita akan memulai pengobatan Rio saat ini juga, dengan risiko membiarkan pelakunya tetap bebas, dan masih bisa melanjutkan aksi jahatnya di kemudian hari. Atau, kita akan berkorban sedikit dengan membiarkan Rio mendapatkan obat itu satu kali lagi, tapi kita bisa menangkap pelakunya!" Fanny membuang napas berat sebelum bertanya, "Lalu apa pilihanmu?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2