Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Aku Akan Menikahi Luna


__ADS_3

"Karena aku akan segera menikah, Kak," ujar Gio yang langsung disambut tawa keras dari kakaknya itu.


"Hahaha ... kau ingin menikah dengan siapa Gi? Dengan kambing?" Lia tertawa keras sambil menoyor kepala adiknya, bahkan saking keras tawa itu dia sudah membuat Aziel yang ada dalam gendongannya menangis.


"Kalian ini ... sini berikan Aziel pada mommy!" Mommy Delia berdecak kesal lalu mengambil cucunya dari gendongan Aurellia.


"Lagi pula anak mommy yang satu ini ada-ada saja, pacar saja belum punya malah berpikir ingin menikah!" Aurellia menggelengkan kepala sembari berusaha menghentikan tawanya. "Yang cidera itu kakimu, Gi ... tapi mengapa otakmu ikut-ikutan cidera?"


Gio menghela napas kesal. "Aku mengatakan yang sebenarnya, Kak ... aku akan menikahi Luna setelah kakiku ini sembuh!"


"Luna?" Mommy Delia mengeryitkan dahi.


"Iya, Luna!"


"Memangnya Luna mau?" tanya Aurellia dengan nada mencibir.


"Tentu saja dia mau, memangnya siapa di dunia ini yang bisa menolakku!" sahut Gio dengan pongahnya.


Mommy Delia menggelengkan kepala, bahkan di saat cidera parah seperti ini putranya itu masih memiliki kepercayaan diri yang begitu tinggi.


"Gi, mommy takut kau akan kecewa pada Luna. Bagaimana jika semua sikap baiknya yang sekarang hanya karena dia prihatin dengan kondisimu?"


"Benar, saat kau masih sehat saja Luna tidak mau," ejek Aurellia lagi.

__ADS_1


"Mommy masih ingat saat dia pertama kali datang ke sini. Dia memandangi photomu yang disangkanya adalah kakakmu dengan penuh kerinduan, dia belum melupakan kakakmu Gi. Mommy bisa melihat semua itu dari sorot matanya," kenang momy Delia.


"Justru akulah yang dia rindukan, Mom!" Lagi Gio menyela dengan sombongnya. "Ingat saat aku meminta daddy untuk mencari keberadaan temanku, tapi kalian malah menertawaiku?"


"Saat kau masih sekolah dasar?" Aurellia menyela.


"Ya, dan sekarang aku sudah menemukannya, dia adalah Lunaku!" jawab Gio. "Aku yang lebih dulu ada di hatinya, Mom. Bukan Geo, dia bahkan mengira jika Geo adalah aku."


Mendengar pernyataan Gio, mommy Delia akhirnya sadar itulah yang menyebabkan lebih banyak melamun, setelah tahu bahwa anak kecil yang di photo tersebut bukan Geovani.


"Pantas saja dia terlihat syok saat mommy menjelaskan Geo tidak sekolah reguler saat masih kecil, " gumam mommy Delia sambil menghembuskan napas berat.


"Kalian seperti dipermainkan takdir," sambung Aurellia yang tidak menyangka kisahnya akan seperti itu.


"Sekarang aku sudah mendapatkan Luna, Mom. Apa Mommy akan merestui hubungan kami?" tanya Gio dengan penuh harap.


Sementara itu Luna yang tengah menjadi topik pembahasan kini sudah berada di sana, gadis cantik itu terus melangkah mendekati mereka.


"Sore Onty, Kakak. Bagaimana kabar kalian?" sapa Luna.


"Tidak pernah sebaik ini, Lun," sahut Aurellia sembari tersenyum ramah.


Luna memeluk Aurellia sebelum melakukan hal yang sama pada mommy Delia, kemudian duduk di sebelah calon mertuanya itu.

__ADS_1


"Kabarku tidak ditanya? Harus aku juga dipeluk seperti kakak dan mommyku!" Gio memasang raut wajah tidak terima.


"Maumu!" sinis Luna sembari mencebikkan bibirnya.


Ketiga wanita mulai berbagi cerita yang entah tentang apa, Gio sama sekali tidak mengerti pembahasannya. Sejak kedatangan Luna, mereka menjadi asik sendiri membahas model-model gaun kekinian.


"Oh, iya, Kak ... aku sampai lupa, kau belum fitting gaun untuk acara anniversary itu," ujar Luna yang baru teringat.


"Tidak apa-apa Lun, lagi pula acara anniversary mommy dan daddy dibatalkan. Tidak mungkin akan mengadakan pesta dengan kondisi Gio yang masih seperti sekarang," sahut Aurellia.


Merasa diacuhkan Gio setengah berteriak memanggil perawatnya. "Suster!"


Sejurus kemudian seorang gadis muda lengkap dengan seragam perawatnya sudah muncul di hadapannya. "Ada apa, Tuan?"


"Bawa aku ke kamar, aku butuh mandi!" ujar Gio yang merasa tubuhnya begitu gerah sehabis berlatih keras hari ini.


"Baik, Tuan."


Perawat itu bergegas melakukan tugasnya, dia mendorong kursi roda Gio ke dalam mansion.


Luna masih asik mengobrol dengan mommy Delia dan Aurellia. Sampai akhirnya dia terringat sesuatu yang membuat wajahnya berubah panik.


"Onty, Kakak ... aku permisi menyusul Gio sebentar!" Luna setengah berlari ke dalam mansion. Yang membuat dahi kedua wanita yang ditinggalkannya berkerut heran.

__ADS_1


Luna menekan tombol lift dengan tidak sabaran, keluar dari lift Luna melangkah cepat lalu menerobos masuk ke kamar Gio.


Bersambung.


__ADS_2