
"Luna ... temui uncle setelah kamu mengantar Gio ke kamarnya!" ujar daddy Lucas saat Luna dan Gio hendak memasuki lift.
Luna menoleh. "Iya, Uncle."
Luna mengantar Gio ke kamarnya, sembari bertanya-tanya dalam hati tentang apa yang ingin dibicarakan calon mertuanya itu.
Setelah tiba di kamarnya dan memanggilkan perawat untuk menajaga Gio, Luna pun kembali ke bawah untuk menemui daddy Lucas.
Luna duduk di single sofa berhadapan dengan sepasang suami istri yang tengah menatapnya dengan wajah serius.
Luna menyatukan kedua telapak tangannya di atas paha, entah mengapa dia sedikit gugup saat ini.
Mungkinkah kedua orang ini ingin melamarnya? Tapi rasanya tidak mungkin, mengingat Gio saat ini belum sembuh.
"Apa yang ingin Uncle bicarakan?" tanya Luna dengan sedikit gugup.
"Ini tentang papi kamu Lun," jawab daddy Lucas.
"Papi?"
"Iya, Nak. Dia ingin bicara denganmu!" mommy Delia menimpali.
"Aku tidak punya papi!" sahut Luna dingin.
Dia tersenyum hambar, dia muak membahas tentang orang-tuanya itu. Lagi pula masih pantaskah pria itu disebut orang tua? Alih-alih menjadi pelindung bagi anak gadisnya, pria itu biasa saja saat mengetahui istri mudanya ingin melemparkan Luna kepada manusia keji bernama Julian.
Bukan hanya satu kali, pria itu juga mendukung istri mudanya yang ingin menjodohkan Luna dengan seorang pria tua bangka. Lagi-lagi demi alasan yang sama, yaitu Uang!
Semua yang dia alami membuat hati Luna seperti membeku. Apa gunanya memiliki orang tua, tapi kenyataannya dia hanya diperlukan sebagai alat tukar untuk ibu tirinya yang tidak tahu diri.
"Lun, dengarkan onty! Setiap manusia bisa berubah, Nak. Orang yang berpikir waras lambat laun pasti menyadari kesalahannya, begitu juga dengan papimu. Kamu Lun, tidak baik menyimpan amarah dan dendam terlalu lama," tukas mommy Delia menasehati Luna.
__ADS_1
"Kau tahu apa yang dilakukan papimu baru-baru ini? Dia sudah berusaha menjadi orang tua yang baik, dia berusaha menutupi keberadaanmu dari Julian, dia terluka parah karena dipukuli oleh anak buah Julian. Untung saja orang suruhan uncle di sana berhasil menemukannya, dan membawanya ke rumah sakit. Dia sekarang mulai pulih, dan ingin sekali bicara denganmu." Daddy lucas ikut menimpali.
"Benar, Lun ... sekarang ini papimu juga tidak lagi bersama dengan ibu tirimu, mereka sudah berpisah. Jadi alangkah baiknya jika kamu mau bicara dengannya, maafkan kesalahannya. Onty tidak mau kamu nanti menyesal karena menjadi pribadi yang pendendam," pungkas mommy Delia.
Luna teridam sesaat, memikirkan papinya itu tidak lagi bersama si ibu tiri, membuat hatinya sedikit terketuk. Selama ini sumber masalah di keluarganya adalah wanita itu. Namun, sekarang mereka sudah tak lagi bersama, itu artinya Luna tidak punya alasan lagi untuk menolak keberadaan orang-tuanya.
"Baiklah, aku mau bicara dengannya," sahut Luna pada akhirnya.
Daddy Lucas tersenyum lega, dia mengutak-atik ponselnya untuk menghubungi si calon besan. Setelah bicara sebentar, dia pun memberikan ponsel tersebut kepada Luna.
"Halo, Nak. Bagaimana kabarmu di sana?" tanya tuan Dave saat ponsel itu telah berpindah ke tangan Luna.
"Aku baik," sahut Luna singkat.
"Sukurlah, papi senang mendengarnya. Sebelumnya papi sempat khawatir Julian akan menemukanmu, untungnya di sana kamu memiliki keluarga yang bisa melindungimu, Nak," ujar Tuan Dave dengan suaranya yang terdengar lemah.
Mendengar nada suara papinya yang terdengar khawatir itu, membuat hati Luna pun terenyuh. Bagaimanapun dulu papinya itu sangat menyayanginya, sebelum semuanya terengut oleh kehadiran si ibu tiri.
"Papi tidak kekurangan satu apa pun di sini, orang suruhan Tuan Lucas menjaga papi dengan baik," sahut tuan Dave.
Luna mengakhiri panggilannya, setelah anak dan ayah itu saling bertukar cerita selama beberapa menit. Luna juga menawarkan agar papinya itu pindah ke sini, tapi tuan Dave menolak dengan alasan tidak ingin lagi meninggalkan mendiang istrinya yang sudah tiada, ibunya Luna.
"Kan enak kalau sudah baikan seperti ini, onty jadi tahu harus ke mana saat akan melamarmu nanti," goda mommy Delia yang membuat Luna tersipu malu.
"Itu masih lama, Onty. Lebih baik sekarang kita fokus pada kesembuhan Gio," sahut Luna tersipu dengan wajah tertunduk.
"Sepertinya kau juga ingin cepat-cepat menikah ya, makanya kau ingin Gio lekas sembuh," goda daddy Lucas yang langsung mendapat cubitan dari istrinya.
Luna tidak menyangkal, tidak juga mengiyakan. Dia hanya berusaha menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
Mereka lantas makan malam bersama, sebelum akhirnya Luna pamit pulang.
__ADS_1
***
7-bulan kemudian.
Seorang gadis cantik tersenyum puas di depan cermin. Wajah yang sebelumnya rusak karena dipenuhi luka bekas pukulan itu sudah kembali mulus. Begitu juga dengan beberapa giginya yang tanggal, sudah berganti dengan susunan gigi baru yang rapi.
Saat ini dia sedang berada di negri ginseng, tidak ada upaya yang sia-sia, datang ke negri ini membuatnya seperti terlahir kembali.
"Dengan wajah yang seperti ini, Rara dan Luna tidak akan mengenaliku. Aku bisa menyusup ke kehidupan mereka, dan menghancurkan mereka pelan-pelan," ujar Vita dengan sangat percaya diri.
"Sepertinya kau sangat yakin misimu kali ini akan berhasil!" sahut Aline yang tengah duduk di atas ranjang.
"Pengalaman hidup memberiku banyak pelajaran, aku bukan lagi Vita yang ceroboh seperti dulu. Menghadapi Rara dan Luna tidak bisa dengan cara kasar, mereka dilindungi dan disayangi oleh orang-orang terdekatnya, hanya dengan bermain cantik dan penuh kesabaran, baru kita bisa mengalahkannya."
"Kau ingin membalas Luna atau Rara lebih dulu?" tanya Aline.
"Sama saja siapa pun yang lebih dulu, yang jelas keduanya harus menderita," jawab Vita.
"Baiklah, kapan kita akan pulang ke Jakarta? Aku akan mempersiapkannya," ujar Aline.
"No, Alin ... kita tidak langsung ke Jakarta. Kita akan terbang ke Italia terlebih dulu, tepatnya ke kota Palermo, aku mendapat informasi bahwa adiknya Julian tinggal di sana."
Aline mengkerutkan dahi, dia menjadi bingung dengan perkataan Vita. "Kau baru saja bilang cara kasar tidak mempan untuk melawan mereka. Tapi kini kau ingin menemui seorang mafia untuk meminta bantuan! Ah, kau membuatku tidak mengerti."
"Bodoh! Aku tidak bilang akan bekerja sama dengan adiknya Julian. Aku menemui dia hanya untuk memanas-manasi agar dia membalas dendam kepada keluarga Richard dan Morelli yang telah melenyapkan kakaknya. Mengerti maksudku? Dengan menghadirkan adiknya Julian, maka fokus keluarga itu akan terbagi. Di saat yang sama aku akan mengintai kondisi, jika memungkinkan maka aku akan masuk untuk memperparah keadaan. Tapi aku tidak gegabah jika keadaan tidak memungkinkan, karena aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama."
Aline mengangguk paham. "Ya, aku mengerti sekarang!"
"Bagus, ayo berkemas ... kita akan berangkat ke Italia sekarang juga!"
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupakan like, dan komentarnya ya. Terimakasih.