
Luna mengerjapkan mata perlahan, tubuhnya terasa begitu lemah. Saat menyadari sebuah selang infus yang tertanam di tangannya, dia sadar bahwa saat ini ia sedang berada di sebuah ruang rawat.
Luna memutar memori di kepalanya, seingatnya terakhir kali dia masih berada di atas panggung untuk melempar buket bunga pengantin, setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.
Di sampingnya Gio masih tertidur dalam posisi duduk dengan berbantal tangan. Tangan Luna terulur menyentuh kepala pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu.
"Gi ...," panggil Luna lirih.
Gio yang dipanggil namanya membuka mata, dia sangat lega melihat Luna sudah sadar. Bangkit dari tempat duduknya, Gio langsung memeluk kemudian menciumi wajah Luna berkali-kali.
"Apa yang terjadi sama aku, Gi?" tanya Luna dengan suaranya yang masih lemah.
"Ceritanya nanti saja ya, sekarang aku panggilin dokter dulu untuk memeriksa kondisimu," ujar Gio seraya menekan tombol panggil yang ada di samping brankar electrik Luna.
Tak lama kemudian dokter Alya pun datang ke ruangan tersebut, dia meminta Gio menjauh sejenak untuk mengecek kondisi Luna.
"Apa kau merasakan sakit di kepala atau yang lainnya, Lun?" tanya dokter Alya.
"Tidak, Onty."
Dokter Alya menekan perut Luna di bagian ulu hatinya. "Apa ini sakit?"
Luna menggeleng sekali lagi. "Tidak, tapi aku merasakan tubuhku lemah."
"Itu artinya kau tidak kenapa-kenapa. Kau hanya butuh istirahat untuk memulihkan kondisi tubuhmu," ujar dokter Alya.
"Memangnya aku sakit apa?"
"Kau sempat keracunan, Lun. Tapi untungnya kau masih bisa bertahan. Untuk sementara ini kau masih perlu dirawat inap sampai kondisimu benar-benar pulih. Ya sudah, onty tinggal dulu ya, selamat beristirahat," pamit dokter Alya.
Setelah wanita paruh baya itu pergi, Gio pun naik ke atas brankar Luna. Dia sangat bersukur racun itu tidak sampai merusak hati, ataupun pembuluh darah Luna.
"Aku senang kamu baik-baik saja Luna. Kau tahu, aku sangat mencemaskanmu waktu itu. Aku takut ... aku takut kau tidak tertolong," lirih Gio.
"Memangnya separah itu, ya? Lalu kenapa aku bisa keracunan?"
"Itu hanya perbuatan orang yang iri dengan kebahagiaan kita, Lun. Tapi kau tenang saja, aku sudah membereskannya, dia tidak akan bisa mengganggu kita lagi," ucap Gio sembari menggenggam tangan istrinya.
Luna mengkerutkan dahi. "Maksudmu 'Membereskan' itu apa?"
__ADS_1
Gio menghela napas sejenak, dia tidak mungkin menceritakan pada Luna bahwa dia sudah membunuhnya. Gio tidak ingin istrinya itu menjadi takut, dan mengira dirinya adalah seorang psikopat.
"Dia sudah berada di tangan yang tepat," jawab Gio berbohong.
"Oh," sahut Luna singkat.
***
Seminggu menjalani perawatan, kondisi Luna sudah pulih sepenuhnya, ia pun diperbolehkan pulang.
Hari ini Luna kembali ke mansion Morelli, tapi kali ini bukan lagi sebagai tamu, melainkan sebagai menantu dan akan menetap di sini.
"Apa kau menyukainya?" tanya Gio saat mereka pertama kali memasuki kamarnya.
Luna memindai kamar yang sudah didekor ulang, dinding yang sebelumnya bewarna abu-abu yang kental dengan kesan maskulin itu sudah berubah menjadi warna jingga. Poster Slash yang sebelumnya memenuhi kamar tersebut, juga sudah berganti dengan photo pernikahan mereka.
Gio membawa Luna menuju tempat tidur, masih diisi oleh ranjang dengan ukuran king size yang dulu, hanya saja tak jauh dari ranjang itu kini terdapat sebuah meja rias.
"Terimakasih, Gi. Aku tidak menyangka kau akan mendekor kamar ini dengan warna kesukaanku," tutur Luna.
"Bukan hanya itu, My Kwen!" Gio membawa Luna menuju meja riasnya.
Luna duduk di depan meja riasnya, Luna tidak perlu terkejut melihat berbagai alat make up dari merk yang biasa dipakainya sudah berjejer rapi di sana. Toh, sebelumnya Gio memang sering datang ke apartemennya.
Gio menarik laci meja tersebut, laci yang sebelah kiri berisi koleksi berbagai jam tangan dari merk ternama, sementara laci sebelah kanan dipenuhi dengan perhiasan. Luna menggelengkan kepalanya, baginya semua ini terlihat berlebihan.
"Gio ... aku tidak butuh semua ini, apa yang kau lakukan ini pemborosan!" ujar Luna.
"Tidak, jika untukmu My Kwen ... sudah jadi kewajibanku untuk memanjakanmu," Gio mengambil sebuah kalung yang memiliki Liontin berbentuk hati, lalu memasangkannya di leher Luna.
"Terimakasih, Gi ... tapi bagaimana kau membeli semua ini. Jangan bilang kau ...." Luna tidak sempat meneruskan perkataannya, karena Gio sudah menempelkan jari telunjuknya di bibir Luna.
"Bukan Luna ... aku membelinya dengan uangku sendiri, bukan uang pemberian mommy atau daddy. Ya, saat ini aku memang seperti pengangguran, tapi aku masih memiliki pengahasilan dari investasi properti. Dan sekarang aku sedang memikirkan usaha apa yang akan aku jalankan setelah ini." Gio menjeda kalimatnya sembari berpikir. "Ehmm, apa kau punya ide?"
"Apa saja, Gi ... asal jangan membuka club. Aku tidak suka, apalagi melihatmu melakukan pekerjaan ... ehmm, apa itu namanya?"
"Sommelier!"
"Ya itu, tukang smir, aku tidak suka!"
__ADS_1
"Bukan tukang smir Luna, tapi sommelier!" ralat Gio.
"What ever ... apa pun itu namanya, membayangkan dirimu berjalan ke sana-sini di dalam club, dengan menggenakan kalung cawan perak saja sudah membuatku geli," suntuk Luna.
"Sayang ... menjadi seorang sommelier itu tidak serendah yang kau bayangkan. Meski kelihatannya dia hanya mencicipi anggur, tapi itu butuh keahlian dan sertifikasi khusus, hanya seorang ahli anggur profesional yang bisa melakukannya. But it's okay, di antara cinta dan hobi, aku akan memilih cintaku. Aku akan membangun usaha lain, ditambah lagi selama ini mommy dan daddy juga kurang setuju dengan pekerjaanku," ujar Gio.
"Sekali terimakasih atas pengertianmu," tutur Luna, yang dibalas senyuman Gio.
"Sebentar ya, My Kwen ... aku akan menyiapkan air untuk mandimu." Gio hendak melangkah menuju bath room.
"Gi, tunggu sebentar!" cegah Luna.
"Kenapa, My Kwen?" Gio menghetikan langkah sembari menatap Luna dengan alis terangkat tinggi-tinggi.
"Apa nanti malam itu kita akan ...." Luna terlihat kikuk untuk melanjutkan ucapannya, yang membuat Gio tersenyum jahil.
"Apa yang ingin kau tanyakan itu adalah tentang malam pertama kita, My Kwen? Jika benar itu, kau tidak perlu khawatir. Aku akan menunggu sampai kau merasa siap," ujar Gio sambil mengusap puncak kepala Luna.
Luna menghela napas pelan. "Aku tidak akan menunda untuk memberikan hakmu, Gi ... hanya saja aku punya satu permintaan," cetusnya.
"Apa itu?"
"Aku takut nanti akan sakit ... kan suamiku ini seorang sommelier. Jadi aku ingin kau memberiku racikan wine terbaikmu sebelum kita melakukannya," ucap Luna dengan suara pelan.
Gio menggelengkan kepala melihat wajah Luna yang tampak menggemaskan. "No, My Kwen ... aku tidak ingin melewati malam pengantinku dalam keadaan mabuk."
"Tapi ...." Luna menundukkan kepalanya.
Gio terkekeh jahil. "Tenang saja, aku pastikan untuk melakukannya dengan lembut!"
Gio mengecup puncak kepala istrinya itu sebelum melangkah menuju kamar mandi.
Luna mengigit bibir bawahnya, membayangkan malam pengantin itu membuat jantungnya berdebar-debar tidak karuan.
'Tuhan ... apakah rasanya akan sesakit itu?'
Bersambung.
Kita nantikan malam pertama Luna dan Gio di episode selanjutnya ya, hehe ....
__ADS_1