
Ungkapan hati Gio yang menyentuh membuat seisi ballroom bergemuruh dengan tepuk tangan.
Gio mengadahkan kepala ingin mengetahui reaksi Luna, saat istrinya itu menggangguk Gio pun berdiri kemudian mengecup dahi Luna dengan mesra.
"Jangan menangis Lunaku ... aku tidak ingin kau membuang airmata yang berharga ini, aku tidak ingin melihatnya meskipun kau bilang ini adalah airmata bahagia," ujar Gio seraya mengusap bulir-bulir bening di sudut mata Luna.
Luna mengangguk, mereka lantas beranjak dari sana untuk melanjutkan prosesi berikutnya, yaitu acara sungkeman untuk meminta doa dan restu dari orang-tuanya.
Kedua orang tua Gio dan papi Luna sudah duduk berjejer untuk ritual sungkumen tersebut.
Gio berlutut terlebih dulu di depan orang tuanya, kemudian bergeser ke arah papi Luna.
"Pi, aku berjanji akan menjaga dan melindungi Luna dengan baik seperti aku menjaga diriku sendiri, aku juga akan menyanyangi seperti papi menyayanginya," ucap Gio sambil menundukkan kepala di depan papi Luna.
"Papi percaya padamu, Nak ... papi titipkan putri papi satu-satunya padamu," sahut papi Luna seraya menepuk bahu menantunya. Dia terharu sekaligus malu melihat kesungguhan Gio, sementara dia sendiri tidak menjaga dan menyayangi Luna dengan baik.
Kini tibalah giliran Luna untuk meminta restu, diawali dengan daddy Lucas kemudian berpindah ke mommy Delia. "Mom, terimakasih sudah menerimaku dengan baik, mommy bahkan sudah memberiku pelukan hangat dan perhatian seorang ibu jauh sebelum hari ini, aku sangat berterima-kasih! Restui aku dengan Gio, dan tegur bila nanti aku melakukan kesalahan."
Mommy Delia mengangguk, dia menunduk memeluk Luna tapi tahu harus berkata apa. Yang dia rasakan hanya kebahagiaan yang membuncah karena keinginannya untuk menjadikan Luna sebagai menantu akhirnya terwujud. Tanpa paksaan, karena mereka memang saling mencintai.
Saat berpindah ke papinya, air mata Luna mengalir deras tanpa bisa ia bendung lagi. "Pi, meskipun Luna sudah menjadi seorang istri, tapi Papi adalah cinta pertama Luna, dan selamanya akan seperti itu, Luna mohon restu untuk menjalani kehidupan bersama pria pilihan Luna ya, Pi."
Tuan Dave memeluk putrinya, hatinya pilu mengetahui betapa besar Luna mencintainya, sementara yang dia berikan selama ini hanyalah penderitaan untuk putrinya itu. Tapi kini dia lega, karena Luna telah memiliki suami dan juga keluarga baru yang ia percaya.
Setelah acara sungkem tibalah acara yang paling melelahkan, yaitu acara temu tamu. Luna harus tersenyum ramah menyambut setiap ucapan selamat dari relasi URM Group dan juga dari Paradise Fashion sendiri.
Jujur saat ini bibir Luna sudah kering dan pipinya sudah kaku, rasanya dia sudah tidak sanggup untuk tersenyum lagi.
"Gi, bisakah kita istirahat sebentar, aku haus," bisik Luna di telinga Gio.
"Baiklah, ayo pergi!"
Gio berpamitan pada orang-orang yang merupakan kolega bisnis dari keluarganya, lantas mengandeng Luna menjauh kerumunan tersebut.
Gio memanggil seorang pramusaji untuk membawakan minum untuk Luna, yang tak lama kemudian pramusaji itu datang dengan membawa nampan berisi minuman untuk Luna.
__ADS_1
Tanpa aba-aba Luna pun meneguknya hingga tandas, dan baru merasa lega saat air berperisa leci itu membasahi kerongkongannya yang sudah tandus seperti gurun pasir.
Luna menjatuhkan tubuhnya di kursi, rasanya dia sudah terlalu lelah untuk berdiri. Jika tahu akan seperti ini, sudah pasti dia tidak mau diadakan resepsi, cukuplah ritual inti saja.
"Gi, apa kita bisa pergi dari sini? Aku lelah," lirih Luna.
"Sebentar ya, Sayang ... aku harus menemui teman-temanku dulu. Setelah itu aku akan membawamu istirahat," sahut Gio.
"Aku di sini saja! Tapi apa yang akan dikatakan teman-temanmu nanti, apa mereka tidak marah?"
"Mereka pasti mengerti," balas Gio, dia mendaratkan kecupan di pipi Luna sebelum mngayunkan kaki panjangnya ke arah teman-temannya.
Luna duduk dengan tangan menopang dagu, memperhatikan para tamu yang seperti tidak ada habisnya. Bersamaan dengan itu sebuah helaan napas panjang dia lepaskan, berharap resepsi ini segera berakhir.
Rara datang menghampiri Luna dengan membawa sekotak kado di kado di tangannya.
"Selamat ya, Lun ... akhirnya sahabatku tersayang ini menikah juga," ujar Rara seraya menyerahkan kado spesial untuk Luna sebelum memeluk sahabatnya itu.
"Dan ini oleh-oleh dari Manado untukmu." Rara mengeluarkan sesuatu dari tas dan menyerahkannya kepada Rara.
"Ehmm, ngomong-ngomong soal Manado aku jadi kepikiran untuk mengajak Gio honeymoon ke sana, selama ini aku hanya tahu papiku keturunan Minahasa tapi aku belum pernah sekali pun ke sana," ujar Luna.
"Onty, dulu waktu mama nikah sama papa di perut mama jadi ada adik, apa nanti di perut Onty juga akan ada adik?" celutuk Rio menyela obrolan mama dan onty Lunanya.
Luna tampak tersenyum kemudian menggendong Rio ke pangkuannya. "Iya, doain ya Sayang. Biar Rio punya adik lagi."
"Benarkah?" balas Rio antusias yang langsung diangguki Luna.
"Ra, ada yang ingin aku tanyakan padamu," ujar Luna dengan tangan yang masih memeluk Rio.
"Tentang apa?"
"Tentang malam pertama."
Rara menaikkan alis mata lalu menarik anaknya dari pangkuan Luna. "Rio main sama kak Rey dan kak Ael dulu ya, mama mau ngomong penting sama onty Luna."
__ADS_1
"Iya, Ma," jawab Anak itu patuh, lalu berlari mencari keberadaan kedua sepupunya.
"Kamu nggak tau caranya malam pertama?" tanya Rara dengan nada mengejek.
"Bukan gitu, Ra. Kata orang malam pertama itu sakit, apa benar seperti itu?"
Rara tertawa keras sebelum akhirnya menutup mulut karena menyadari tatapan para tamu yang sedang tertuju padanya.
"Luna, Luna ... kamu ada-ada aja deh, masa iya sih leopard betina sepertimu takut sama malam pertama," cibir Rara.
"Ck, jawab aja pertanyaan aku, Ra! Dulu waktu kamu MP sama Sean sakit nggak?" kesal Luna.
"Ehmm, nggak tau sih, soalnya waktu itu aku lagi mabuk." Rara terkekeh. "Tapi pas bangun pagi-pagi lumayan perih sih," lanjutnya.
Tubuh Luna seketika menegang, pikirannya mulai membayangkan malam pengantin yang sebentar lagi akan ia lewati.
"Kalaupun sakit, paling cuma sekali kok, Lun. Setelah itu tinggal enaknya aja." Rara kembali terkekeh.
"Lagi bahas apa? Kenapa wajahmu jadi tegang gitu, Lun?" Adalah mommy Delia yang bertanya sembari menghampiri mereka.
"Onty langsung tanya saja sama menantunya," sahut Rara sembari tersenyum jahil.
"Bukan hal peting kok, Mom," jawab Luna nyaris tanpa suara.
Mommy Delia mengangguk, lagi pula kedatangannya bukan untuk mengkepoi obrolan dua wanita muda itu.
"Kamu ikut Mommy sebentar, Lun ... mau dikenalkan sama teman-teman mommy," ajaknya.
Luna mengangguk, lantas berdiri dari tempat duduknya. Dia kemudian ditarik wanita paruh baya itu ke sana-sini, untuk dikenalkan kepada teman-teman terdekatnya.
Luna sudah sangat lelah, untung saja semua ini tidak berlangsung lama karena mereka hampir tiba di penghujung acara.
Acara selanjutnya adalah lempar buket bunga pengatin, Gio dan Luna sudah naik ke atas panggung, mereka sedang menunggu para bujang-gadis untuk berkumpul memperebutkan buket bunga pengantin, yang konon siapa pun yang memenangkannya maka akan segera menyusul melepaskan masa lajangnya.
Di sudut lain ballroom tersebut seorang wanita menatap ke atas panggung dengan tatapan dengki.
__ADS_1
"Kau tidak akan bertahan lebih lama lagi, Luna," gumam Aline sembari tersenyum licik.
Bersambung.