
"Kamu masih mau permen buat besok?" tanya Vita.
Tentu saja Rio langsung mengangguk dengan cepat. "Iya, Tante."
"Kalau gitu kamu harus nurut apa yang tante suruh! Nanti pas mama kamu datang buat jemput, kamu harus tumpahin minyak di jalannya!" perintah Vita.
Rio menatap Vita dengan sorot mata yang sulit diartikan. Hati kecilnya menolak untuk mencelakai orang tuanya sendiri.
"Terserah, kalau kamu nggak mau. Besok Tante nggak akan kasih kamu permen lagi," ancam Vita.
Rio melotot, dia tahu bagaimana rasanya jika tidak mengkonsumsi benda tersebut, tubuhnya akan sakit dan pikirannya tidak akan tenang, itulah yang akan ia derita bahkan jika Vita terlambat memberinya permen tersebut.
Pernah sekali Vita mengulur waktu, dia sengaja menunda memberikan Rio zat psikotropika itu sampai sore, hanya untuk mengetahui sudah sampai di mana tingkat kecanduan Rio pada benda tersebut.
"Bagaimana? Tante hanya mau memberikan permen itu lagi jika kamu menurut!" desak Vita.
"Tapi nanti mama akan marah," jawab Rio dengan polosnya.
"Jangan bodoh, Rio! Kamu ambil minyak goreng di dapur, sewaktu lihat mobil mama kamu datang, kamu pura-pura jatuh sambil bawa minyak itu. Setelah minyak itu tumpah, kamu langsung pergi. Kalau nanti kamu ditanyain kenapa bawa-bawa minyak, kamu bilang saja kalau kamu lagi main masak-masakan sama teman-teman kamu, jadi kamu tidak akan kena marah! Mengerti?"
Rio mengangguk, seperti yang diperintahkan Vita, itulah yang dia lakukan.
Kini, dari kejauhan Vita sedang mengawasi Luna dan Rara yang jatuh terjerembam karena jebakannya. Wanita berhati iblis yang tak lain adalah adik tiri Rara itu tersenyum puas, sekarang dia sudah mulai menikmati hasil kerja kerasnya.
'Kita lihat apa yang bisa dilakukan keluarga berkuasa itu sekarang, paling-paling hanya melakukan pengecekan CCTV, dan kalian akan melihat Rio yang menumpahkan minyak itu karena terjatuh, jadi tidak ada yang bisa kalian salahkan di sini,' kekeh Vita dalam hati.
'Ini baru awalan dan belum seberapa! Masih banyak penderitaan yang menantimu, Ra. Itulah balasan bagi wanita j4l4ng yang bisanya hanya merebut kekasih orang sepertimu. Dan kau Luna, ini baru balasan kecil setelah kau memukuliku hingga wajahku menjadi cacat,'
Mata Vita membesar saat menyadari ada darah yang mengalir dari paha Luna. 'Apa wanita sialan itu sedang hamil? Jika benar, maka akan aku pastikan kau akan kehilangan janinmu itu. Dengan tangan Rio, keponakan yang sangat kau sayangi,' Vita melanjutkan gumaman liciknya dalam hati.
Vita terus mengawasi saat Luna digotong ke mobil dengan bantuan pelayan, kemudian mobil milik Rara itu segera meluncur menuju rumah sakit.
__ADS_1
Rara benar-benar mencemaskan kandungan Luna, sembari menyetir matanya berkali-kali melirik ke arah spion untuk melihat kondisi Luna. Saat ini Luna terus meringis memegangi perutnya dalam pangkuan bi Eni di kabin belakang.
Sedangkan Rio yang duduk samping Rara terlihat tenang, saat ini yang ditakutkan anak itu hanya satu, yaitu dia tidak mendapat jatah permen yang mengandung zat psikotropika dari guru lesnya, dia akan melakukan apa pun demi mendapatkan benda itu.
"Kamu harus bertahan, Lun ... kita segera akan sampai ke rumah sakit!" ucap Rara sembari memperdalam pijakan pada pedal gasnya.
"Sakit, Ra ...." Luna terus-terusan merintih dalam pangkuan bi Eni.
Sementara itu bi Eni terus mengusap lengan Luna, mencoba memberikan ketenangan untuk Luna.
Rara melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, sekitar 45-menit perjalanan dia pun berhasil tiba di rumah sakit Healt Medical Centre, Rara langsung membawa mobilnya sampai ke depan depan loby rumah sakit.
Tim medis yang sudah menunggu langsung melarikan Luna ke ruang perawatan, sebuah ruang rawat presidential suite memang sudah disiapkan untuk menyambut menantu pemilik rumah sakit itu.
Rara menyerahkan kunci mobilnya pada security, lalu segera menyusul ke ruang rawat. Dia duduk di ruang tunggu keluarga pasien sembari menunggu tim medis melakukan pertolongan untuk Luna.
Sebelum berangkat ke rumah sakit tadi, Rara juga sudah menghubungi keluarganya. Baru sekitar 5-menit duduk di sana, Rara melihat keluarganya sudah berdatangan. Di antara mereka yang datang, Gio berjalan paling depan dengan wajahnya yang begitu panik.
"Apa yang terjadi, Ra? Mengapa Luna bisa mengalami pendarahan?" tanya Gio cemas.
Gio mengkerutkan dahi. "Bagaimana bisa di koridor bangunan utama ada tumpahan minyak goreng?"
Rara menggelengkan kepalanya. "Entahlah Gi, untuk itu aku pun tidak mengerti."
"Ra, minta petugas keamanan panti untuk mengirimkan rekaman CCTV," perintah daddy lucas.
Rara mengangguk, dia mengutak-atik ponsel untuk menghubungi petugas keamanan. Kurang dari 5-menit kemudian rekaman itu sudah dikirimkan e-mailnya.
Gio lantas menyalakan laptop untuk memutar rekaman CCTV tersebut. Hasilnya membuat mereka semua menggelengkan kepala, kecuali Gio yang menggeram kesal. Dalam rekaman itu tampak Rio sedang berlari, sebelum akhirnya terjatuh dengan tangan yang membawa minyak goreng.
"Ini karena ulah anakmu, Sean. Istriku pendarahan karena anakmu! Dia yang menumpahkan minyak goreng di lantai itu!" geram Gio sembari menatap kesal pada Rio.
__ADS_1
Sementara itu Rio yang ditatapnya terlihat tenang, anak itu tidak memiliki rasa takut sama sekali.
"Ini bukan salah anakku, enak saja kau ingin menyalahkan anakku! Kau bisa lihat sendiri dalam rekaman itu, anakku terjatuh, dia tidak sengaja menumpahkannya, dan yang menjadi korban bukan hanya istrimu saja, tapi istriku juga ikut menjadi korban!" balas Sean membela anaknya.
"Tapi istriku celaka karenanya! Lagi pula untuk apa anakmu membawa minyak goreng ke gedung utama?" kesal Gio.
"Sudah, berhentilah berdebat!" Seru ayah Brian yang membuat kedua pria muda itu bungkam.
"Lebih baik kita berdo'a agar Luna dan kandungannya baik-baik saja!" Daddy Lucas menambahkan.
Memang tidak ada yang perlu diperdebatkan, dan tidak ada yang bisa disalahkan. Karena dalam rekaman itu terlihat jelas bahwa Rio tidak sengaja menumpahkannya. Jadi pilihan terbaiknya adalah meredakan emosi masing-masing, sembari berdoa untuk kebaikan Luna.
Rara berpindah duduk ke samping anaknya. "Rio, bilang sama mama. Kenapa kamu bawa-bawa minyak goreng?"
"Aku mau main masak-masakan di depan, tapi pas lewat di situ aku jatuh," jawab Rio tenang, dengan mimik wajah yang sangat meyakinkan, membuat semua orang yang ada di sana menghela napas berat.
"Lain kali Rio harus hati-hati, ya ... kalau begini kan jadinya membahayakan orang." Rara menasehati putranya dengan lembut.
Setelah itu mereka sama-sama terdiam, menunggu kabar dari tim medis yang sedang melakukan pertolongan untuk Luna.
Sekitar 30-menit kemudian, tampaklah dokter Alya menghampiri mereka setelah mengawasi tim dokter kandungan yang melakukan penanganan.
Gio bergegas bangkit dan menghampiri wanita paruh baya itu. "Bagaimana keadaan Luna dan calon anak kami, Onty?"
"Tenanglah, Luna dan janinnya masih tertolong, dia hanya perlu bedrest untuk beberapa hari." Dokter Alya menepuk bahu Gio, "Tapi karena kandungannya lemah, kau harus memastikan hal semacam ini tidak terjadi lagi," imbuhnya mengingatkan.
"Oh, syukurlah!" Gio menghembuskan napas lega, disambut seluruh keluarga yang ada di sana turut mengucap sukur.
"Apa aku sudah boleh, menemui istriku, Onty?" tanya Gio.
Dokter Alya mengangguk. Gio pun segera melangkah untuk menemui istrinya dengan perasaan lega.
__ADS_1
Bersambung.
Terus ikuti kelanjutannya, ya. Terimakasih.