
2-bulan kemudian.
Luna duduk di tepi ranjang sambil memandangi Gio yang masih tertidur pulas, tanpa ada niatan untuk membangunkan suaminya tersebut.
Tadi malam Luna tidak berhenti merengek, yang betisnya sakit, pinggangnya pegal, dan masih banyak lagi.
Tanpa ada satu keluhan yang keluar dari mulut Gio, suami Luna itu merelakan dirinya begadang semalaman.
Saat Luna mengatakan ada yang sakit, dia memijatnya. Saat Luna menginginkan ini dan itu, dia mengambil atau membuatkannya.
Wanita mana yang tidak bahagia dimanjakan seperti itu, dilayani layaknya seorang ratu.
Hidup Luna terlihat sempurna, punya suami kaya raya, karirnya sendiri juga tidak kalah sukses, bahkan perusahaan yang ia bangun bersama sahabatnya sudah menjadi salah satu brand papan atas di pasar internasional.
Bagi orang yang hanya tahu keadaan Luna sekarang, pasti mereka mengira Luna adalah wanita yang sangat beruntung. Tanpa mereka tahu jalan berliku yang Luna lewati.
"I love you, Gi ... terimakasih, terimakasih untuk cinta yang sangat besar itu," gumam Luna penuh rasa sukur.
Dia menundukkan kepala lalu mengecup wajah suaminya yang tampak polos saat sedang terlelap, setelah itu beranjak turun dari ranjang.
Susah payah Luna berjalan membawa perut besarnya ke kamar mandi, lalu berendam di dalam bathub dengan air hangat.
Setelah mandi dan mengenakan pakaian rumahan, Luna turun ke bawah untuk sarapan.
Mumpung Gio masih tidur dan mertuanya sedang berada di rumah kakak iparnya, Luna ingin memanjakan seleranya sendiri yang sudah ia tahan selama masa kehamilan.
"Pagi ini menunya apa, Pak?" tanya Luna pada seorang koki yang bertugas di dapur.
"Ada nasi merah, roti panggang isi daging, sama omelet bayam. Untuk penutupnya ada smothie dengan susu almond, yogurt, sama kiwi."
"Yaaah ...." Luna mendesah kecewa.
__ADS_1
"Ini sudah sesuai arahan dari dokter gizi, Nyonya."
"Ehmm ... bisa buatin nasi goreng nggak, Pak?" bujuk Luna.
"Maaf, Nyonya. Tidak bisa, nanti saya yang kena marah."
"Sekali ini aja, Pak. Pliiss ...."
"Jangan, Nyonya. Nanti saya bisa kena pecat, anak saya masih kecil-kecil, butuh uang banyak untuk biaya sekolah. Tolong kasihani saya ...."
"Huh ...." Luna membuang napas berat setelah mendengar curhatan koki tersebut, "Ya udah deh, Pak ... kalau nggak bisa."
"Aku tunggu di meja makan ya, Pak. Jangan lama, udah laper," ujar Luna lalu meninggalkan dapur dengan perasaan kecewa.
Dia mengayunkan kakinya selangkah demi selangkah menuju ruang makan. Untuk berjalan saja dia sangat kesusahan, karena selain perutnya yang sangat besar, tubuhnya juga ikut membengkak.
Bagaimana tidak, dokter bilang berat bayi dalam kandungannya di atas rata-rata, dengan kondisi yang sangat sehat.
Saking besar perut Luna sekarang, dia harus menahan pinggang belakangnya dengan tangan ketika berjalan.
"Aduh, sakit ...." Luna menjerit kesakitan saat tiba-tiba mengalami kontraksi.
Jeritan itu membuat koki dan para pelayan berlari ke ruang makan. Wajah mereka semua tampak cemas, khawatir terjadi sesuatu yang buruk pada sang nyonya muda.
"Apa yang sakit, Nyonya?" tanya seorang pelayan wanita sambil merangkul Luna.
"Perutku, Bi. Perutku sakit sekali," ringis Luna.
"Sepertinya Nyonya mau melahirkan, kita ke rumah sakit sekarang ya."
"Tapi kata dokter lahirannya masih dua minggu lagi."
__ADS_1
"Itu kan hanya perkiraan, Nya ... jadi bisa lebih cepat, atau mungkin lebih lambat. Mau lahirannya sekarang atau belum, yang penting Nyonya mendapat penanganan dokter dulu," saran pelayan tersebut.
"Ya sudah, kalau begitu tolong bangunkan Gio, Bi," lirih Luna lemah.
Saat ini dahi Luna sudah dipenuhi keringat yang nyaris sebesar biji jagung, akibat kontraksi hebat yang baru saja dialaminya.
Gio yang dibangunkan oleh pelayan, tanpa buang waktu segera berlari keluar kamar, wajahnya sampai berkeringat dingin karena saking cemasnya.
Dengan napasnya yang masih ngos-ngosan, Gio mengusap wajah Luna yang penuh keringat. "Kamu kenapa, Sayang?"
"Sepertinya aku mau melahirkan, Gi."
"Apa? Melahirkan?"
"Iya bayinya sudah mau keluar."
Untuk sesaat otak Gio berhenti bekerja, lalu entah apa yang ia pikirkan, dia langsung langsung berlari ke arah luar.
"Gi, kau mau ke mana?" panggil Luna.
"Ke rumah sakit, kan katanya mau melahirkan!"
"Sayang, yang mau melahirkan itu aku, bukan kamu!" Luna mendesis menahan sakit sekaligus tawa, karena reaksi suaminya yang konyol.
Sementara para pelayan yang ada di sana berusaha menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak tertawa.
Gio menepuk dahi, baru menyadari kekonyolannya sendiri. "Astaga ... maaf, Sayang. Aku benar-benar panik."
Gio melangkah cepat, lalu menggendong Luna untuk dilarikan ke rumah sakit.
Bersambung.
__ADS_1