Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Pembawa Petaka


__ADS_3

Setelah mendapatkan pertolongan dari tim medis terbaik. Akhirnya Luna dan janin yang yang dikandungnya bisa diselamatkan.


Kini Gio sudah diperbolehkan menemani istrinya. Dia duduk di samping ranjang sambil menatap istrinya dengan perasaan khawatir.


Saat ini Luna masih terbaring lemah di atas brankar pasien. Ini adalah kali kedua dia menghuni ruang rawat dalam kurun waktu satu minggu, karena mengalami pendarahan.


Sorot mata Luna menoleh ke Gio yang sedang menggenggam erat jemarinya. Leopard betina itu kini terlihat tidak berdaya, dia seolah kehilangan kegarangan di masa kehamilannya ini.


"Gi, di mana Rio? Aku ingin bertemu dengannya," ucap Luna pelan.


Sorot mata Gio yang tadinya teduh berubah menjadi kesal, tentu saja karena Luna langsung menanyakan keberadaan Rio, padahal anak itulah yang membuatnya celaka, dan berakhir di rumah sakit seperti ini.


"Untuk apa kau menanyakan anak itu, Lun? Dua kali dia nyaris membuat kita kehilangan janin yang sedang kau kandung," kesal Gio.


"Aku ingin melihatnya, Gi ... aku merindukannya! Rio sangat menyayangiku, dan dia bukan berniat sengaja untuk mencelakaiku. Tolong bawa dia ke sini untuk menemuiku," pinta Luna memohon.


"Tidak, aku tidak akan membiarkan anak nakal itu menemuimu, bisa-bisa nanti dia mencelakai anak kita lagi," tolak Gio dengan tegas.


"Gi, Rio itu tidak seperti yang kau pikirkan, dia tidak nakal. Aku kenal betul siapa Rio, aku ikut merawatnya sejak dia masih bayi. Bawa dia ke sini, aku rindu!" rajuk Luna.


"Tidak, aku tidak mau. Tidak peduli kau akan marah dan merajuk padaku. Tapi satu yang harus kamu tahu, Lun. Aku melakukannya demi kamu dan calon anak kita," tegas Gio tidak ingin dibantah.


Gio menjauh dari sana, dan membiarkan mommy Delia menjaga istrinya itu. Dia malas mendengar Luna terus merengek menyebut nama Rio.


***


Sudah tiga hari Luna bedrest di rumah sakit, tapi selama itu pula Rara tidak datang menjenguk, karena Gio memang tidak mengizinkannya.


Saat ini Rara sedang berada di sebuah mall untuk menemani anaknya ke gamezone. Setelah lelah bermain-main, mereka pun berniat untuk pulang.


"Aaaaaa ...." Rara tiba-tiba terjerit saat tubuhnya kehilangan keseimbangan.


Rara terguling ke bawah, dan baru berhenti setelah kepalanya membentur keras hiasan patung yang ada di bawah tangga eskalator.


Rara bersimbah darah, detik itu juga dia kehilangan kesadaran. Saat terguling tadi Rara tidak mampu melindungi perutnya, sehingga mengalami pendarahan.

__ADS_1


Rio pelakunya, anak itu menjegal langkah ibunya saat mereka hendak menuruni tangga tersebut.


Kejadian ini membuat bodyguard yang mengawal langsung panik, mereka harus bersiap menerima amukan majikannya karena sudah lalai menjalan tugas. Dua bodyguard itu sama sekali tidak menyangka kecelakaan ini akan terjadi, terlebih disebabkan oleh anak majikannya itu sendiri.


Selanjutnya Rara segera dilarikan ke rumah sakit, agar mendapatkan pertolongan medis secepatnya.


Kini, 2-orang bodyguard itu berdiri dengan cemas di depan ruangan ICU, menanti detik-detik majikannya datang, dan sudah pasti akan mengamuk.


Benar saja, tak lama kemudian keluarga majikannya pun berdatangan. Sean yang melangkah paling depan tampak berang, dengan wajahnya yang memerah padam.


Bugh ... bugh!!


2-kali pukulan Sean langsung menghantam wajah kedua bodyguad itu bergantian. Mereka hanya menunduk, tanpa berani menatap wajah majikannya yang sedang kalap.


"Dasar tidak berguna kalian! Bagaimana bisa kalian lalai menjaga istriku? Apa kalian sudah bosan bekerja pada keluargaku?" bentak Sean meledak-ledak.


"Maafkan kami, Tuan ... kami selalu waspada seperti biasa. Tapi kami sungguh tidak menyangka kecelakaan ini akan terjadi, karena Tuan Muda Rio sendiri yang menjegal Nyonya, saat hendak menuruni tangga eskalator," ujar salah satu bodyguard itu tanpa mengangkat wajah.


"Apa?" Sean melotot tidak percaya.


"Sebelum melarikan Nyonya ke sini, saya sempat meminta petugas keamanan mall untuk mengirimkan rekaman CCTV pada saat kejadian, seharusnya sekarang ini sudah dikirim." Bodyguard itu mengeluarkan ponselnya lalu memeriksa pesan masuk.


"Sudah dikirim, Tuan. Ini buktinya." Pria berbadan tegap itu menyerahkan ponselnya.


Sean menggelengkan kepala, sulit baginya untuk mempercayai bahwa yang mencelakai sang istri adalah anak kandungnya sendiri.


Seperti orang kesetanan, Sean menghampiri anaknya berada tak jauh dari sana.


"Apa yang ada di kepalamu, Rio? Mengapa kau terus membuat ulah dan mencelakai orang? bahkan yang kau celakai adalah keluargamu sendiri!" bentak Sean sambil menatap putranya dengan sorot mata berapi-api.


Sementara itu Rio yang ditatapnya tidak bergeming. Anak itu benar-benar tidak memiliki rasa, dia tidak merasa takut, maupun rasa bersalah.


"Daripada kau hidup hanya untuk mencelakai orang, lebih baik kau mati saja Rio!" Sean mengeluarkan senjata api yang tersimpan di pinggang belakangnya, kemudian ia arahkan ke kepala putranya.


Duuarr!

__ADS_1


Untung saja bodyguard yang ada di sana melesat dengan cepat untuk mendorong tubuh Sean. Sehingga peluru yang dilepaskan majikannya itu urung menembus kepala Rio, dan mengenai dinding yang tepat di sebelahnya. Bodyguard itu juga dengan cekatan merampas senjata dari tangan majikannya.


"Apa kau sudah gila, Sean? Kau ingin membunuh anakmu sendiri?" bentak ayah Brian.


"Lebih baik dia mati, Ayah. Dia hidup hanya untuk mencelakai orang, sudah besar nanti pun dia pasti akan menjadi seorang pembunuh. Baru beberapa hari yang lalu dia membuat hubunganku dengan Gio menjadi retak. Sekarang dia sudah kembali mencelakai mamanya sendiri. Jika dia hidup, maka keluarga kita akan hancur, Ayah ... dia akan membuat kita saling membenci satu sama lain!" raung Sean yang sudah kehilangan kendali.


Sementara itu ibu Lidya dan mommy Delia mengusap dadanya masing-masing, mereka hampir terkena serangan jantung saat melihat timah panas yang nyaris menembus kepala Rio.


Lain halnya dengan daddy Lucas, sejak melihat Rio tidak bergeming saat dibentak Sean, dia terus memperhatikan ekpresi anak itu. Bahkan yang lebih luar biasa, mata anak itu tidak berkedip saat peluru nyaris menembus kepalanya.


"Al ...," panggilnya dengan suara bergetar.


"Ya ... aku juga melihatnya, Luke!" ujar dokter Alya menyahut panggilan daddy Lucas.


"Lid, bawa cucumu ke lab," suruh dokter Alya.


Meski tidak mengerti apa tujuan dokter Alya, ibu Lidya dibantu mommy Delia segera membawa Rio pergi, setidaknya ini akan membuat Sean tidak melihat Rio untuk sementara.


Mereka berempat pun beranjak menuju laboratorium rumah sakit.


"Apa menurutmu ada sesuatu yang mendorong cucuku berbuat tidak normal seperti ini, Al?" tanya ibu Lidya.


"Kemungkinan besar, iya. Kau bisa lihat Rio bahkan tidak memiliki rasa takut."


"Jadi menurutmu ada yang menstimulasi pikirannya untuk berbuat jahat, begitu Kak?" tanya Delia.


"Lebih dari itu, tapi hasil lab akan memperjelas semuanya," jawab dokter Alya.


"Kita mau ke mana, Oma?" tanya Rio.


"Kita jauh-jauh dari papa dulu, ya. Biar papa nggak marah lagi sama Rio," bujuk Lidya.


Setelah tiba di lab, dokter Alya langsung mengambil sampel darah Rio. Dia curiga, bagaimana mungkin anak sekecil Rio telihat begitu tenang, jika bukan karena ada sesuatu yang mengkontaminasinya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2