
"Sean, bangun!" Rara mengguncang tubuh suaminya setelah mendapat telpon dari mommy Delia.
Pria yang baru saja terlelap itu pun menggeliat, diliriknya jam di dinding baru menunjukkan pukul sebelas malam. "Kenapa, My Cherry ... apa jatahmu kurang?" tanya Sean dengan suara malas.
"Ck, kau ini! Apa isi pikiranmu hanya itu saja!? Aku mau ke rumah sakit, kau mau mengantarku atau aku pergi sendiri?'' kesal Rara.
"Ke rumah sakit? Siapa yang sakit?'' Sean mendudukkan dirinya.
Rara yang sudah turun dari ranjang menjeda langkahnya sebentar. "Luna, dia masuk rumah sakit lagi," jawabnya sebelum meneruskan langkah menuju walk in closet.
"Hah?'' Sean terkejut, entah apa lagi yang menimpa sahabat istrinya itu hingga harus dilarikan ke rumah sakit tengah malam seperti ini.
Sean menyusul Rara menganti pakaiannya, setelah itu mereka pun bergegas menuju rumah sakit.
Saat tiba di rumah sakit, mereka mendapati semua keluarga Morelli sedang berkumpul di ruang tunggu pasien. Mommy Delia duduk bersisian dengan daddy Lucas, juga ada Aurellia bersama Sammy suaminya.
Di depan mereka Gio duduk di single sofa dengan kepala tertunduk, seperti seorang tersangka yang tengah disidang. Ah bukan, lebih tepatnya Gio adalah terdakwa.
Rara mendudukkan diri di samping Aurellia, kemudian bertanya pada kakak sepupunya itu. "Luna kenapa, Kak? Apa dia masuk rumah sakit karena efek racun yang ia minum sebelumnya, tapi bukannya kata onty Alya, Luna itu sudah pulih total, ya?"
"Bukan karena racun, Ra ... tapi kau tanyakan saja pada Gio, dari tadi dia juga tidak mau menjawabnya," sahut Aurellia.
Rara pun mengalihkan pandangan pada Gio. "Luna kenapa, Gi?"
Gio menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak tahu, Ra ... dia tiba-tiba pingsan," jawab Gio dengan suara lemah.
Setelah itu mereka pun sama-sama diam hanyut dalam pikiran masing-masing, sambil menunggu hasil pemeriksaan dokter untuk mendapat jawaban yang lebih jelas.
Tak lama kemudian dokter Alya selesai melakukan tugasnya, dia menghampiri keluarga itu dan mendudukkan diri di samping Gio.
"Apa yang membuat menantuku pingsan lagi, Kak?" tanya Delia tidak sabaran.
__ADS_1
Dokter Alya tersenyum Geli sembari menepuk bahu Gio. "Bagaimana kabarmu anak muda?"
Dokter Alya mengalihkan pandangan pada mommy Delia yang sejak tadi menunggu jawaban. "Menantumu hanya mengalami syok, penyebabnya karena anak nakalmu ini tidak sabaran. Dia melakukannya dengan tergesa-gesa tanpa foreplay yang cukup. Luna yang belum siap menerima dirinya menjadi tegang, rasa takut membuat tubuh Luna tidak merespon, yang ia dapatkan hanyalah rasa sakit hingga akhirnya jatuh pingsan."
Gio memijat pelipisnya, dia tidak memiliki pembenaran di sini.
Mendengar penjelasan itu, daddy Lucas langsung meringis sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan, dia tidak tahu harus berkomentar apa, hasrat besar yang dimiliki Gio memang menurun darinya, tapi dia tidak sampai membuat sang istri pingsan di malam pengantin mereka, ini seperti rekor baru di keluarganya.
Sementara itu mommy Delia menggelengkan kepala tidak habis pikir.
Sedangkan Sean, Rara, Sammy, dan Aurellia hanya bisa saling pandang, mereka melipat bibir masing-masing untuk menahan tawa yang akan segera meledak. Pantas saja Gio tadi tidak mau menjelaskan penyebab Luna menjadi pingsan.
Saat orang-orang itu terdiam, dokter Alya kembali menambahkan, "Yang sukurnya pendarahan di bagian intinya tidak parah, kau sudah bisa mengajaknya berhubungan antara tiga sampai empat hari lagi."
Apa yang baru saja keluar dari mulut dokter Alya ini menjadi angin segar bagi Gio, itu artinya dia tidak akan berpuasa terlalu lama.
Belum ada satu detik senyuman lega terlukis di wajah Gio, dokter Alya kembali berucap, "Tapi ...."
"Dengan catatan Luna tidak trauma diajak berhubungan. Jika itu sampai terjadi, maka kau harus berjuang lebih lama." jawab dokter Alya.
"Apa ada kemungkinan Luna akan trauma?"
"Tentu saja, sentuhan fisik yang tidak mengenakkan itu pasti akan meninggalkan ingatan buruk pada memori seseorang, tidak terkecuali itu dilakukan oleh suaminya sendiri," ucap doker Alya.
Gio memijat pelipisnya yang pusing, bagaimana jika Luna trauma, apakah istrinya itu nanti akan membencinya?
"Onty, tapi aku tidak melakukannya dengan paksaan. Luna sendiri yang mengatakan bahwa dia sudah siap dengan malam pengantin kami, apakah dia tetap akan trauma padaku?" sesal Gio.
"Untuk jawaban dari pertanyaanmu itu bisa kita lihat dari reaksi Luna saat ia sadar nanti."
Gio menghela napas berat, menurutnya dia sudah melakukannya dengan lembut. Tapi mungkin lembut menurut Gio itu lain, sebelumnya yang pernah naik ke atas ranjangnya adalah gadis-gadis yang tidak perawan, tentu saja berbeda dengan Luna yang baru pertama kali melakukannya.
__ADS_1
"Jika nanti Luna sudah sembuh, kau bisa melakukan pendekatan perlahan sebelum berhubungan. Coba ciptakan suasana romantis agar pikirannya lebih rileks, ada banyak cara untuk melakukan itu, salah satunya dengan membawanya ke tempat yang dia sukai, jika melakukannya di kamar cobalah untuk menyalakan lilin beraroma terapi untuk menciptakan suasana temaram yang syahdu, pikiran yang rileks adalah kunci utama sebelum berhubungan," pesan dokter Alya.
"Oh ... satu lagi, saat Luna siuman nanti biarkan dia bertemu orang lain dulu sebelum Gio. Aku khawatir jika orang pertama dilihatnya adalah Gio, memori di kepalanya akan langsung mengakses kejadian buruk yang baru saja ia alami, dan itu bisa menimbulkan trauma tambahan," ujar dokter Alya menambahkan.
"Biar aku yang menemani Luna, Onty," sahut Rara, yang langsung disetujui oleh dokter Alya.
Karena kondisi Luna yang tidak mengkhawatirkan, kedua orang tua Gio pun pamit pulang, mereka akan kembali besok pagi. Sammy dan Aurellia juga pulang, karena sudah ada Rara yang akan menjaga Luna.
"Bodoh, gara-gara kelakuan konyolmu ... malam ini aku harus tidur di sofa tanpa memeluk istriku," geram Sean dongkol sembari merebahkan dirinya. Di sini dia lah yang merasa paling dirugikan.
***
Pagi harinya Luna terbangun, tak jauh ranjang dia melihat Rara sedang menyusui putrinya yang masih berumur 2-bulan.
"Kamu udah bangun, Lun! Bentar ya." Rara menunggu putrinya sampai kenyang, sebelum mengembalikannya ke dalam baby box.
Setelah itu Rara membantu Luna ke kamar mandi untuk sekedar mencuci muka, lantas menyiapkan sarapan untuk sahabatnya itu.
Rara tidak menanyakan apa-apa, dia membiarkan Luna menghabiskan sarapannya terlebih dulu.
Barulah setelah Luna selesai dengan sarapannya, Rara menanyakan kondisi sahabatnya itu. "Gimana perasaanmu, Lun? Apa ada rasa takut, atau semacamnya gitu?"
Luna menggelengkan kepala. "Aku baik-baik aja, Ra."
"Oh, sukurlah ... eh, tapi gimana ceritanya sampai kamu pingsan gini, emangnya Gio kasar banget ya?"
"Nggak juga sih, tapi dia nggak mau berhenti padahal aku udah nggak sanggup," desah Luna.
Luna kembali terbayang saat Gio terlalu buru-buru untuk membenamkan miliknya, saat itu yang Luna rasakan hanyalah perih luar biasa, bahkan membuat nyawanya seperti tercabut. Gio yang sudah terlanjur tidak mampu menghentikan dirinya untuk terus bergerak, sampai akhirnya membuat Luna kehilangan kesadarannya.
Bersambung.
__ADS_1