Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Mengejar Aline.


__ADS_3

Aline sudah tiba apartemen Vita, dia ingin menceritakan kabar baik. Namun, dia tidak menemukan keberadaan temannya itu.


'Ah, mungkin dia sedang keluar,' gumam Aline seraya mendudukkan dirinya di sofa.


Mengingat dirinya berhasil meracuni minuman Luna, Aline pun tersenyum puas. Yang dia pikirkan saat ini Luna pasti sudah merengang nyawa, gadis itu tidak akan bertahan sampai ke rumah sakit, karena racun yang dia berikan pasti sudah menyebar ke seluruh pembuluh darah, dan akan menggerogoti organ tubuh Luna hingga hancur.


Jika Luna sudah Tiada, maka kesempatan untuk mendapatkan Gio akan terbuka lebar.


Aline mengutak-atik ponselnya untuk menghubungi Vita, dia sudah tidak sabar ingin memberi-tahu kabar baik ini kepada temannya tersebut.


"Kau ada di mana, Vit? Aku punya kabar baik untukmu," ujar Aline saat panggilan mereka tersambung.


"Kabar baik apa?"


"Aku berhasil meracuni Luna, sebentar lagi dia pasti diantar ke pemakaman. Aku sudah membalaskan dendammu kepada wanita yang sudah merusak wajahmu," ujar Aline dengan bangga.


"Kau meracuni minuman Luna?" tanya Vita.


"Ya, aku menyusup sebagai pramusaji di resepsinya. Aku sangat cerdas, bukan?''


"Di mana kau sekarang?" tanya Vita dengan suara yang terdengar panik.


"Di apartemenmu."

__ADS_1


"Cepat pergi sana sekarang juga, sebelum keluarga itu menemukanmu! Kau pikir dirimu sudah melakukan tindakan cerdas Aline? Kau baru saja melakukan tindakan terbodoh dalam hidupmu. Sudah aku katakan jangan bertindak gegabah, dan tunggu instruksi dariku. Tapi kau malah mengacaukan semuanya," geram Vita.


"Mereka tidak akan menemukanku, Vit. Aku melakukan penyamaran dengan sangat hati-hati," sahut Aline.


"Itu menurutmu, BODOH!! Sana lemparkan dirimu ke kandang macan jika tidak percaya ucapanku. Ibuku yang merancuni kakaknya pelan-pelan selama bertahun-tahun saja bisa mereka bongkar, apalagi kau yang meracuni Luna secara terang-terangan!''


"Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang?" Saat ini Aline mulai cemas.


"Tinggalkan apartemen itu sekarang juga, aku akan memberi alamat baruku jika keadaan sudah aman. Jangan coba bawa-bawa namaku jika kau sampai tertangkap." Vita lantas memutuskan sambungan mereka dengan kesal.


Aline yang semula tidak khawatir mulai panik setelah mendengar cerita Vita, buru-buru dia meninggalkan unit apartemen tersebut untuk menyelamatkan diri.


Baru saja Aline tiba di parkiran, 2-orang pria berbadan tegap langsung mencekal tangannya, lalu menyeretnya dengan paksa.


"Ikut saja, Nona. Jangan mencoba melawan, atau kami akan berbuat kasar," sahut salah satu pria tersebut.


"Lepaskan ... aku tidak mau ikut dengan kalian!" Aline menjerit dengan keras.


Karena tidak ingin memancing perhatian dari orang-orang, salah satu pria itu memberikan kode kepada temannya agar membuat gadis buruan mereka kehilangan kesadaran. Cukup satu pukulan, Aline pun terkulai pingsan. Lalu pria itu dengan mudah memasukkannya ke dalam sebuah mobil SUV.


***


Gio, Sean, dan Sandy turun secara langsung untuk mengejar Aline. Mata Sandy terus terfokus pada layar tabnya untuk memantau pergerakan Aline.

__ADS_1


"Sean, Wanita itu pergi meninggalkan gedung," ujar Sandy.


Sean memutar arah, mengikuti jalur yang diarahkan Sandy. Sementa itu Gio sejak tadi hanya diam saja, pikirannya terus mengkhawatirkan keselamatan Luna.


Meski cemas akan nasib istrinya, dia tidak sanggup untuk berada di sisi Luna, bahkan hanya dengan melihat Luna dipasangi alat-alat medis sudah membuat tubuhnya melemah tanpa daya.


Tidak kuat melihat wanita yang belum genap satu hari ia nikahi itu menderita, Gio pun memutuskan untuk ikut memburu Aline, dan mempercayakan sepenuhnya keselamatan Luna kepada tim dokter.


"Sean, sepertinya ada yang mengikuti kita." Sandy memperhatikan dari arah spion, mobil-mobil itu memang membuntuti mereka.


Ciiittt ....


Hanya beberapa saat, mobil-mobil itu sudah menghalangi jalan mereka, sehingga Sean pun harus mengeram mendadak.


Gio yang butuh pelampiasan langsung menggeram, dia turun terlebih dulu untuk memastikan siapa yang berani menghalangi jalannya.


"Siapa kalian? Keluar!" teriak Gio dengan suara menggelegar.


Seorang pria pemilik aura misterius keluar dari mobil tersebut, dia menanggapi kemarahan Gio dengan begitu tenang.


"Apa kabar, Gio? Kau pasti mengenalku, bukan?"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2