Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Awal Pembalasan


__ADS_3

Saat ini Gio dan Sean sudah berada di ruang bawah tanah gedung URM Group, di sana sudah ditugaskan beberapa pengawal, untuk mengawasi Vita agar tidak bisa melarikan diri.


"Di mana wanita itu?" tanya Gio kepada salah satu pengawal tersebut.


"Di sebelah sana, Tuan." Bodyguard itu menunjuk salah satu bilik di ruangan bawah tanah tersebut, "Mari." Dia melangkah mendahului kedua majikannya untuk membukakan pintu.


Duduk di sebuah kursi dengan tangan terikat, Vita mengangkat wajah saat melihat kedatangan kedua pria itu, menghunuskan tatapannya yang menantang.


Dengan amarah yang siap meledak Gio menghampiri Vita, tangannya yang sudah mengepal langsung menjambak rambut wanita itu.


"Siapa kau sebenarnya? Siapa yang menyuruhmu untuk mengganggu keluarga kami?" tanya Gio dengan suara tertahan.


"Ka-kau! Kenapa putraku yang kau rusak? Kenapa kau menjadikan Rio sebagai boneka untuk menjalankan rencanamu?!" Sean meraung melepaskan kemarahannya.


Plaak!!


Sebuah tamparan dari Sean membuat sudut bibir wanita itu pecah, ini adalah kali pertama dia berbuat kasar pada wanita.


Ah, bukan. Yang ada di hadapannya ini bukan seorang wanita, melainkan seorang iblis betina. Jadi Sean merasa tidak perlu merasa kasihan, dan menahan luapan emosinya.


Mengabaikan rasa sakit akibat tamparan itu, Vita malah tertawa keras. Seolah-olah dia sudah berhasil membalaskan dendamnya.


"Jawab sialan! Apa kau berpikir bisa mempermainkan kami?" Gio memperkeras cengkeramannya di kepala Vita.


Mata Vita menyorot tajam ke arah Sean. "Putramu ... hahaha! Apa dia masih hidup? Kalaupun dia bisa bertahan, dia pasti akan menjadi gila setelah ini, dia sudah tidak memiliki masa depan. Lebih baik kau bunuh saja anakmu itu, dia anak pembawa sial bagi keluargamu, bukan?"


Sean menggeram, emosinya semakin memuncak karena Vita sengaja memancingnya.


"Apa kalian mendapatkan zat psikotropika yang dia berikan pada putraku?" tanya Sean pada bodyguardnya dengan raut wajah dingin.

__ADS_1


"Ada, Tuan ... kami menemukan benda itu di dalam tas ini." Bodyguard tersebut menyerahkan tas milik Vita.


Sean mengeluarkan benda tersebut sembari menarik sudut bibirnya. "Kau tega memberikan barang haram ini kepada anak yang tidak berdosa, huh! Sekarang aku akan membuatmu mencicipinya sendiri."


"Tengadahkan kepalanya, Gi!" pinta Sean.


Saat ini di tangan Sean, sudah ada sekitar sepuluh butir permen dengan kandungan zat psikotropika yang selama ini dikonsumsi Rio. Sean berniat membuat Vita menelan benda tersebut sekaligus.


Dipicitnya rahang Vita hingga mulut wanita itu ternganga lebar, lalu mencekoki benda tersebut ke tenggorokannya, tanpa memberi air hingga Vita menelannya sambil terbatuk-batuk.


"Tuan, kita harus mengambil sampel darahnya," ujar salah satu bodyguard.


Gio menoleh seraya memberi perintah. "Bawa ke sini jarumnya!"


Vita meringis melihat sebuah jarum yang kini sudah berpindah ke tangan Gio, dia tahu penyamarannya sudah pasti akan terbongkar.


Gio menancapkan jarum tersebut di lehernya tanpa perasaan, dia langsung terkulai pingsan saat Gio mencabutnya.


"Ini, bawa ke rumah sakit!" perintah Gio seraya mengembalikan jarum yang sudah berisi sampel darah Vita kepada bodyguardnya.


Pria berbadan tegap itu menangguk, lalu segera mohon diri.


"Bawakan air untuk membangunkannya!" perintah Gio pada bodyguard lainnya.


Tak lama kemudian bodyguard itu kembali dengan membawakan seember air di tangannya.


"Tengadahkan lagi kepalanya, masukkan air itu pelan-pelan melalui hidungnya!" perintah Sean pada bodyguard tersebut.


Satu dari bodyguard itu menarik kepala Vita, sedangkan satu orang lagi mulai menuang air seperti perintah Sean. Sontak saja membuat Vita yang hanya pura-pura pingsan itu langsung tersedak, dia menggeliat berharap ikatannya bisa terlepas tapi sia-sia.

__ADS_1


Bodyguard itu terus melakukan perintah sebelum mendapat aba-aba untuk berhenti. Membuat Vita terbatuk-batuk dan kesulitan untuk bernapas.


Gio mengangkat tangan membuat bodyguard itu berhenti sejenak.


"Tidak berperasaan, aku akan menuntut kalian karena telah menyiksaku seperti ini!" Vita meraung saat ia sudah berhasil mengendalikan dirinya.


Sean menatap Vita dengan raut wajah dingin. " Dengan semua yang sudah kau lakukan pada anakku, kau masih berharap bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan bernyawa?"


"Butuh satu kali dua puluh empat jam bagi petugas medis melakukan cek laboratorium. Terserah kau mau mengaku atau tidak. Tapi jika aku yang ada di posisimu, aku lebih baik mengaku saja dari pada terus disiksa selama satu hari kedepan." Gio menambahkan.


Sedetik kemudian tubuh Vita mulai mengejang, hal ini membuat Gio dan Sean saling tatap untuk sejenak.


"Apa dia bersandiwara lagi?"


"Entahlah." Gio menggidikkan bahunya.


"Saya rasa bukan, Tuan. Sepertinya efek dari obat itu mulai bekerja, dia over dosis," ujar salah seorang bodyguard yang melihat Vita mulai mengeluarkan busa dari mulut.


"Siram dia sampai terjaga lalu biarkan dia menggila di ruangan ini. Tambahkan lagi obatnya jika dosisnya mulai menurun!" perintah Sean.


Setelah itu Gio dan Sean kembali ke rumah sakit, mereka ingin membiarkan Vita merasakan bagaimana zat tersebut akan menyiksanya seharian ini.


Saat tiba di rumah Sean langsung menghampiri ibunya di ruang tunggu. "Bagaimana keadaan Rara, Bu?" tanyanya.


"Belum ada perkembangan, dia masih kritis," jawab ibu Lidya lesu.


Sean mengusap wajahnya dengan kasar, sudah dua hari kondisi istrinya kritis. Dia semakin cemas karena keadaan Rara yang saat ini juga tengah hamil muda.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2