Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Kabar Bahagia


__ADS_3

"Selamat, Nona. Anda memang positif hamil, umur kandungan Anda juga sepuluh minggu," ujar dokter tersebut sambil menunjuk layar monitor.


"Fiiuuuh ...." Rara menghembuskan napas berat.


"Selamat ya, Ra ... usia kandungan kita sama, nanti kita bisa ngelahirin bareng-bareng," seru Luna seraya memeluk Rara.


Sadar Rara tidak menyahut, dan reaksi tubuhnya juga biasa saja, Luna pun melepas pelukannya.


"Kok sepertinya kamu nggak senang gitu, Ra? Kenapa?" tanya Luna heran.


"Aku senang kok, Lun. Cuma aku kasihan sama Caca, umurnya baru 5-bulan tapi sudah harus berhenti nyusu," keluh Rara sambil menghela napas berat sekali lagi.


"Namanya juga rizki, Ra. Mau gimana lagi? Udah ... jangan cemberut gitu! Itu sama saja nggak bersukur namanya," celutuk Luna.


Rara menganguk, anak memang rizki yang dititipkan Tuhan. Dan ia wajib mensukurinya meskipun ini agak kurang adil untuk putri keduanya, tapi setidaknya Rara akan berusaha adil membagi kasih sayang untuk anak-anaknya.


Mereka menunggu dokter untuk membuatkan surat keterangan dan meresepkan vitamin. Setelah itu mereka pun beranjak meninggal ruang praktik dokter obgyn tersebut.


Di perjalanan Luna mengutak-atik ponselnya, dia ingin menghubungi Gio untuk menanyakan keberadaan suaminya itu.


'Halo, My Kwen.' Terdengar suara Gio menjawab panggilan Luna.


"Kamu di mana Gi?" tanya Luna.


'Aku di mansion uncle B, kenapa lun?' Gio memberitahu keberadaannya sebelum balik bertanya.

__ADS_1


"Bukan apa-apa, ya sudah ... aku akan menyusulmu ke sana," ujar Luna seraya memutuskan sambungan telponnya.


Luna menoleh ke arah Rara yang tengah fokus menyetir. "Ra, kita langsung ke mansionmu aja, Gio ada di sana katanya."


Rara yang matanya fokus pada jalanan itu hanya mengangguk. Dia pun melajukan mobilnya ke mansion Richard.


Saat tiba di sana mereka langsung menuju taman belakang, karena mereka yakin saat ini Gio berada di sana bersama mertua Rara.


Tepat seperti tebakan, keluarganya memang berada di sana termasuk orang tua Gio, dan sepertinya mereka sedang membahas hal yang serius.


Luna memberi salam kepada para tetua, sebelum duduk di samping suaminya. Dia memandangi suaminya dengan tatapan berbinar.


"Lagi bahas yang serius ya?" tanya Luna.


"Ehmm, aku sedang meminta saran dari Daddy dan Uncle B untuk memilih bisnis yang prospek. Aku tidak boleh kelihatan menganggur di depan istriku yang cantik ini." Gio mengusap puncak kepala istrinya.


Gio langsung sumringah saat membaca keterangan di kertas tersebut. "Kamu hamil?"


Luna menganggukkan kepala. "Iya."


"Ya, Tuhan ... kita harus merayakan ini, My Kwen," ujar Gio sembari merangkul Luna, dengan pandangan yang tertuju keluarganya bergantian. "Istriku hamil, aku akan jadi ayah!" imbuh Gio penuh suka.


"Benarkah, coba mommy lihat!" sahut mommy Delia, dan Gio memberikan surat keterangan dokter yang masih dipegangnya.


"Waah ... sudah sepuluh minggu, ya! Selamat ya, sayang. Keluarga kita akan semakin besar," ujar mommy Delia.

__ADS_1


"Aku juga hamil," ujar Rara lesu.


"Hah? Bukannya kalian sendiri yang bilang mau tunggu minimal Caca umur 2-tahun dulu, baru mau punya anak lagi," Ibu Lidya menaggapi sambil menatap heran.


"Maunya begitu, Bu. Tapi ini kecolongan waktu di Lombok," sahut Rara pelan.


Ibu Lidya mengalihkan pandangan pada putranya dengan sedikit kesal. Tapi bagaimanapun tidak ada yang perlu disalahkan, karena yang datang itu adalah Karunia Tuhan, meski si kakak harus kehilangan haknya di sini.


Sementara itu Sean yang ditatap ibunya menggaruk kepala. Mau bagaimana lagi? Dia pun tidak menyangka kecebongnya akan seganas itu.


Selepas membuat rencana untuk mengadakan sedikit perayaan atas kehamilan ini, Luna dan Rara pun pergi ke panti asuhan untuk menjemput Rio. Hari memang sudah sore dan sudah waktunya Rio untuk pulang.


Saat tiba di panti, mereka langsung menuju aula belakang, karena jam-jam segini Rio biasanya ada di sana bersama teman-temannya.


Karena berjalan sambil mengobrol, Luna dan Rara tidak ada yang memperhatikan kondisi lantai, tiba-tiba ....


"Aaaah ...."


Luna kehilangan keseimbangan, dia berusaha menggapai Rara untuk menopang dirinya. Tapi sayangnya Rara juga kehilangan keseimbangan, hingga akhirnya mereka berdua sama-sama terjerembab.


"Aduuh ...." Rara meringis sembari memegangi pinggangnya, di saat yang sama ia terbeliak melihat darah yang mengalir dari paha Luna. "Ya, Tuhan, Luna ...." lirih Rara cemas.


"Perutku sakit, Ra ...." Luna memegangi perutnya yang seperti diremas-remas.


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa like, vote, dan komentarnya juga, ya ... terimakasih.


__ADS_2