Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Tidak Punya Pilihan


__ADS_3

"Apa kabar, Gio? Kau pasti mengenalku, bukan?"


"Ka-kau ...." Gio terkejut saat melihat pria yang ada di hadapannya adalah Justino.


"Iya, ini aku ... apa aku berhasil memberimu kejutan? Bahkan aku sengaja menunggu hari ini, untuk mengubah hari bahagiamu menjadi hari kehancuran."


"Bajingan ... ternyata kau adalah biang keladinya? Seorang pria pengecut yang hanya berani bermain racun!" Gio menggeram dengan tangan yang sudah mengepal keras.


"Ehmm ... untuk yang satu itu bukan ulahku! Aku tidak menggunakan cara rendahan seperti itu untuk menghadapi musuhku!" Justino menatap Gio sambil tersenyum tipis.


"Banyak omong!" geram Gio seraya melayangkan pukulan ke arah Justino.


Pria itu masih berdiri dengan santai, anak buahnya langsung mengambil alih serangan Gio.


Pukulan Gio berhasil ditahan anak buah Justino, sejurus itu sebuah tendangan dari belakang menghantam punggung Gio dengan telak.


Gio tersungkur, melihat itu Sean dan Sandy juga begegas turun, mereka membantu Gio berdiri dan bersiap menghadapi anak buah Justino.


Saling unjuk kemampuan bela diri pun terjadi, awalnya tiga orang itu mampu memberikan perlawanan. Namun, tiga lawan banyak tetaplah bukan hal yang baik.


Buugg .... satu pukulan stik baseball mengenai tengkuk Sandy, dia kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya jatuh tersungkur.


Sean ingin membantu Sandy, tapi sebuah tendangan lebih dulu menghantam perutnya.


"Ahhkk ...."


Di saat yang sama anak buah Justino juga berhasil mengakhiri perlawanan Gio.


"Apa yang kau inginkan?" tanya Gio sambil memegangi dadanya yang sesak.


"Ap yang aku inginkan? Tentu saja aku ingin membalas apa yang kalian lakukan terhadap kakakku. Awalnya aku berencana menjadikan gadis buruan kalian sebagai alat tukar, agar aku bisa membebaskan kakakku. Tapi sepertinya aku jauh lebih beruntung, menjadikan kalian sebagai tawanan tentu akan membuat posisi tawarku semakin kuat," kekeh Justino seraya menampakkan seringaian bengisnya.


"Kau tidak akan keluar dari Negara ini dengan selamat!" seru Sean.


Justino berjongkok di depan Sean. "Kau memang seorang Richard rupanya, aku hormati keberanianmu. Tapi aku Justino tidak mungkin membuat masalah dengan kalian tanpa perhitungan matang."

__ADS_1


"Kau akan melanjutkan hidupmu di neraka!" desis Gio.


"Masih merasa hebat, huh? Bahkan di saat nama besar keluarga besar Richard dan Morelli akan tinggal cerita!" Pria itu terkekeh bengis, sebelum melangkah menuju mobilnya.


"Bawa mereka!" perintah Justino kepada anak buahnya.


***


Saat ini di kantor pusat URM Group, Brian , Lucas, dan Fanny, menunggu kabar dari anak-anaknya dengan perasaan cemas.


"Bagaimana kondisi mereka?" tanya Brian pada Fanny.


"Tidak ada pergerakan, sepertinya mereka sedang berada di dalam sebuah gedung!" sahut Fanny yang terus mengawasi layar monitornya.


Sejurus kemudian ponsel Brian menerima panggilan masuk, dan itu dari nomor anaknya.


Brian lantas menjawab panggilan tersebut. "Sean, apa kalian sudah berhasil mendapatkan wanita itu?"


"Halo Tuan Richard ... akulah yang berhasil mendapatkan anak-anakmu!" jawab Justino.


"Siapa kau?" Brian langsung membentak saat mengetahui ponsel anaknya dipegang orang lain.


"Kau ... Justino?" tebak Brian.


"Akhirnya kau mengenaliku Brian, sekarang lakukan perintahku tadi!"


"Aku ingin memastikan dulu keberadaan anak-anakku!" sahut Brian.


"Tidak masalah!"


Hening untuk beberapa saat, dan hanya terdengar suara langkah kaki.


"Ayah ... jangan lakukan apa pun yang dia katakan!" terdengar teriakan Sean.


"Kau sudah mendengarnya sendiri, Brian ... sekarang lakukan persyaratan yang aku berikan tadi!"

__ADS_1


"Baiklah ... jangan sakiti mereka, aku akan membawakan Julian untukmu!" Brian terpaksa menyetujui, karena memang tidak ada pilihan lain.


Brian lantas memutuskan sambungan, lalu berdiri dengan wajah panik.


"Ada apa, Brian?" tanya Lucas.


"Justino menangkap anak-anak, dia ingin menukarnya dengan Julian," ujar Brian cemas.


"Fanny ... apa pun yang terjadi pada nanti, jangan melakukan tindakan apa pun. Jika sampai pagi kami belum kembali, tolong sampaikan pada keluargaku, aku sangat menyayangi mereka." Brian berpesan jika sesuatu yang terjadi padanya.


"Brian, jangan bicara seperti itu! Aku akan menyiapkan bantuan." Fanny menggelengkan kepala tidak setuju.


"Jika kau lakukan itu, maka Justino akan mengeksekusi anak-anak. Jadi biarkan kami yang menggantikan anak-anak!" ujar Brian yang lantas mengajak Lucas pergi.


Fanny terdiam sendiri di ruangan tersebut, tanpa bisa mencegah kepergian kedua temannya. Akal cerdasnya bekerja dengan cepat, tapi harus terbentur dengan penyekapan anak-anak yang tidak memiliki solusi.


***


Gio, Sean, dan Sandy, ditahan dalam kondisi yang babak belur karena terus-terus dipukuli anak buah Justino. Tangan mereka dibelenggu menggunakan rantai dengan posisi menggantung.


Justino menatap satu-persatu tawanannya sambil tersenyum puas.


"Selama ini keluargamu terlalu menyusahkan, tapi untuk saat ini aku yang pegang kendali. Mari kita lihat sampai di mana kemampuan Lucas dan Brian untuk menyelamatkan anak-anaknya!" Justino menarik sudut bibirnya sambil bersedekap dadanya.


Bukan hanya untuk membalaskan dendam kakaknya, keluarga Morelli juga sering mengacaukan bisnisnya. Bahkan beberapa kali transaksi gelapnya harus tercium pihak berwajib karena ulah keluarga itu.


"Cih, kau akan mati sebentar lagi!" cibir Gio.


Justino menggelengkan kepala. "Apa yang bisa kau lakukan, huh? Bahkan sebentar lagi Lucas akan menukar nyawanya demi keselamatanmu. Tapi itu saja belum cukup, karena setelah itu aku tetap akan melenyapkan seluruh keluargamu. Hanya untuk menjamin agar tidak ada dendam lagi di masa depan."


"In your dream!" raung Sean.


"Kaulah yang akan kukirim ke nereka!" sinis Sandy.


"Kalian anak-anak yang memiliki mental hebat, untuk itu aku tidak mau lama-lama berurusan dengan orang-orang seperti kalian. Aku akan melenyapkan kalian sekarang juga, setelah itu aku tinggal menjebak Lucas dan Brian saja!" Justino mengeluarkan senjata api yang tersimpan di balik jasnya.

__ADS_1


"Aku akan memulainya darimu terlebih dulu Richard!" Justino menodongkan senjatanya ke arah Sean.


Bersambung.


__ADS_2