Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Masa Rehabilitasi


__ADS_3

Seperti yang sudah diprediksi, Rio pasti akan seperti orang kesurupan setelah dosis zat psikotropikanya habis. Dia membutuhkan barang haram itu agar tubuhnya tidak sakit.


Hari ini dia mengamuk sejadi-jadinya, menghancurkan apa pun yang ada di kamarnya, karena tidak diizinkan pergi ke panti. Hal ini membuat psikolog anak yang menemaninya lari ketakutan.


Rio tidak berhenti mengamuk, sampai kakinya terluka akibat menginjak pecahan beling yang baru saja ia lemparkan.


Alih-alih merasa sakit, dia malah mencium darahnya karena memiliki aroma yang sama dengan zat psikotropika yang ia butuhkan.


Saat pertama mencicipinya, dia pun menyadari jika darahnya sendirilah yang ia butuhkan.


"Enak ... ini enak!" serunya lalu mulai melukai bagian tubuhnya yang lain.


Sedangkan psikolog yang berlari meninggalkan kamar Rio, berpapasan dengan Luna dan Gio yang baru saja kembali ke mansion.


"Nona, Rio mengamuk. Saya takut, saya tidak berani mendekatinya," adu wanita itu dengan suara yang masih bergetar cemas.


"Ke mana onty Lidya?" tanya Luna.


"Nyonya sedang ke rumah sakit, untuk menjenguk nona Rara."


Luna mendesah berat. "Harusnya kau tidak menerima pekerjaan ini, jika kau tidak berani menanggung risikonya!" serunya geram.


Luna pun bergegas meninggalkan wanita tersebut dengan raut wajah kesal, dia hendak menuju kamar Rio.


"Jangan, Lun. Ini sangat berisiko untukmu!" Gio mencegah dengan menahan tangan Luna.


"Lepasin, Gi. Aku bisa menjaga diri!" Luna menepis tangan Gio, lalu melangkah dengan cepat.


Gio menggelengkan kepala, dia pun ikut menyusul Luna menuju kamar Rio.


Di dalam kamarnya, Rio sedang menghisap darah dari bagian tubuhnya yang ia lukai. Luna langsung syok, matanya memanas melihat kondisi Rio yang sangat memprihatinkan.


Luna melangkah masuk kemudian mendekap Rio, agar anak itu berhenti melakukan perbuatannya.


"Hentikan, Nak! Onty sedih melihat kamu seperti ini!" lirih Luna, dia terus mendekap Rio yang terus meronta meminta dilepaskan.


Gio yang juga ada di sana berdiri mematung. Meskipun cemas, dia berusaha mempercayai Luna bisa menjaga diri dari amukan Rio.

__ADS_1


"Pecat psikolog tidak bertanggung-jawab itu, Gi. Dia tidak layak dipekerjakan, dia membiarkan keponakanku menjadi seperti ini, mulai sekarang biar aku sendiri yang menemani rehab Rio!" raung Luna kesal.


Gio mengangguk pelan. "Aku akan menghubungi onty Lidya untuk memberhentikannya."


"Lepasin, Onty ... Rio mau permen!" Dia masih berusaha memberontak sekuat tenaga.


"Rio, onty tahu kamu pasti sakit, tapi Rio harus kuat biar bisa sembuh. Rio ingat nggak? Permen itu bikin onty sakit, bikin mama jadi sakit juga. Rio nggak mau seperti itu terus, kan? Rio sayang sama mama, sama onty juga, kan? Rio anak hebat, jadi Rio harus sembuh, Rio nggak boleh makan permen itu lagi. Percaya sama onty, sakitnya Rio nggak akan lama. Kalau Rio sakit, Rio peluk onty, biar sakitnya onty rasain juga. Kamu dengar onty kan, Sayang?" lirih Luna dengan airmata beruraian.


Entah karena perkataan Luna yang berhasil mensugesti pikirannya, atau mungkin dia memang sudah puas menghisap darahnya sendiri, anak itu pun mulai tenang.


Mengetahui Rio tak lagi berontak, Luna pun melepas dekapannya. "Sekarang Rio istirahat sama onty ya, biar kamarnya dibersihkan dulu. Rio juga harus cepat sembuh, biar bisa jenguk mama. Kasihan mama sekarang lagi sakit."


Anak itu menggangguk pelan. Luna meminta Gio untuk menggendong Rio, karena kondisinya yang tengah hamil muda tidak cukup kuat untuk menggendong anak itu.


Kini Luna menemani Rio sampai anak itu tertidur, Luna terus mencoba menstimulasi pikiran Rio dengan hal-hal baik. Setelah anak itu tertidur lelap, barulah Luna mengobati luka yang tadi dibuatnya.


Luna menghampiri Gio, suaminya itu duduk di sofa dan sejak tadi terus memandanginya dengan perasaan haru.


"Kamu lihat, Gi. Dia sekarang baik-baik saja," ujar Luna sembari mendudukkan diri di samping Gio.


"Aku masih tidak habis pikir, mengapa Vita sampai begitu tega menyasar Rio untuk dia jadikan alat balas dendam," ujar Luna geram, mengirim wanita itu ke neraka belum cukup untuk membuat perasaannya lega.


"Namanya juga orang yang sudah dibutakan oleh dendam, My Kwen. Dia pasti akan melakukan apa saja agar dendamnya terbalas. Untung saja daddy dan onty Alya cepat menyadari keanehan Rio. Jika tidak, mungkin salah satu dari kamu dan Rara pasti akan menjadi korbannya," sahut Gio.


"Ya, kau benar. sebenarnya saat ini aku juga ingin ke rumah sakit untuk menjenguk Rara, tapi kasihan Rio di sini. Aku tidak mau mempercayakan penyembuhannya pada psikolog. Kau lihat sendiri tadi, Rio bisa mati karena terus melukai diri sendiri. Sementara psikolog itu malah lepas tanggung jawab," ujar Luna yang masih kesal.


***


Hari demi hari Luna habiskan untuk menemani penyembuhan Rio, dia merawatnya dengan penuh kasih-sayang. Luna slalu bersabar karena beberapa minggu awal masa rehabnya, Rio terus mengamuk setiap hari.


Tanpa terasa waktu 3-bulan telah berlalu, kini kondisi Rio sudah jauh membaik, meski anak itu sesekali masih merasakan sakit di kepalanya.


Luna berjalan menuju kamar Rio, hari ini mereka akan pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Rara, yang selama 3-bulan ini belum juga siuman dari komanya.


"Apa kamu sudah siap, Sayang?" tanya Luna pada Rio yang baru saja selesai mengganti pakaian, dibantu oleh pengasuhnya.


"Sudah, Onty."

__ADS_1


Luna berjongkok di depan Rio. "Nanti di rumah sakit Rio ajakin mama bicara ya, biar mama cepat bangun. Mama pasti senang Rio datang, karena mama pasti kangen banget sama Rio."


"Iya, Onty," jawabnya patuh.


"Aku senang deh lihat kamu sudah sembuh!" Laura tersenyum menggemaskan, memperlihatkan barisan gigi depannya yang ompong.


"Makasih, Laura," tutur Rio tulus.


Laura selalu datang untuk menemani Rio. Selain Luna, dia adalah salah satu faktor yang membuat proses penyembuhan Rio menjadi lebih cepat.


Dia akan terus datang ke mansion ini, walau Rio sering membuatnya menangis, memarahi, membentak. Semua itu terjadi saat Rio tidak bisa mengendalikan diri dari kecanduannya.


Tapi Laura tidak menyerah, dia tetap ingin berteman dengan Rio, tidak peduli apa pun yang terjadi.


"Yuk, kita berangkat!" ajak Luna pada keduanya.


"Yuk, Mi."


"Iya, Onty," balas keduanya bersamaan.


Saat tiba di rumah sakit, Rio langsung diizinkan menemui mamanya. Dia tampak terpukul melihat mamanya yang belum juga sadar, apalagi yang menimpa mamanya adalah ulah dirinya sendiri.


Meski masih kecil, dan saat itu sedang dalam pengaruh obat, tapi dia masih ingat jelas kejadian buruk itu. Insiden penjegalan yang mengantarkan mamanya ke rumah sakit, dan belum sadarkan diri sampai sekarang.


Rio duduk di kursi samping brankar, matanya menatap sedih melihat mamanya yang tampak sangat pucat.


"Ma, bangun, Ma ... maafin Rio, Rio janji nggak nakal lagi." Dia menangis terisak sambil menggengam tangan mamanya.


Entah memang sudah waktunya untuk sadar, atau mungkin karena mendengar suara anaknya, mata Rara pun mengerjap perlahan.


Luna yang bahagia melihat sahabatnya tiba-tiba siuman, bergegas membantu melepaskan selang ventilator dari mulutnya.


"Pergi kamu, pergi ... jangan dekat-dekat, pergi!"


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like, dan komentarnya, ya.

__ADS_1


__ADS_2