
Satu bulan kemudian.
Di usia kehamilan Luna yang kini menginjak bulan ke tujuh, Luna dan Gio mulai menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut calon bayi perempuan mereka yang akan segera hadir.
Sebuah kamar bayi yang letaknya di sebelah kamar mereka pun telah disiapkan, kini hanya tinggal mengisinya dengan pakaian, serta segala pernak-pernik bayi lainnya.
Rencananya hari ini Luna akan pergi untuk membeli perlengkapan tersebut.
"Kamu yakin nggak mau aku temanin?" tanya Gio pada Luna.
Pagi ini Luna dan Gio masih betah di atas ranjang tidur mereka, dengan tangan Gio tak henti-hentinya mengelus perut Luna yang sudah membuncit.
Luna menggelengkan kepala. "Nggak perlu, Gi ... aku sudah janjian sama Rara. Kan dia juga mau beli perlengkapan buat bayi mereka."
Gio mengangguk. "Ya sudah, kebetulan aku ada pertemuan dengan klien penting pagi ini, tapi aku bisa menyusul saat jam makan siang nanti."
"Ehmm ...." Luna berdecak sebal.
"Kamu bilang ada pertemuan dengan klien, tapi jam segini masih bermalas-malasan di tempat tidur," sungut Luna yang ditanggapi Gio dengan kekehan jahil.
"Aku selalu merasa berat untuk beranjak dari sisimu, Sayang," goda Gio sambil tersenyum menggoda.
Sejurus kemudian ia terkejut sumringah ketika merasakan pergerakan di perut Luna. "Ya, Tuhan. Apa kau merasakannya, Sayang? Anak kita menendang lagi, sepertinya dia sudah tidak sabar untuk lahir, dan bermain bersama kita."
"Iya, dan rasanya sangat menyenangkan setiap kali dia bergerak ataupun menendang di dalam sini." Luna juga ikut mengelus perutnya sendiri.
__ADS_1
"Sekarang pergilah mandi, nanti kau bisa terlambat," tambah Luna.
"Baiklah," sahut Gio dengan suara malas.
Ia pun turun dari ranjang tapi masih sempat memberikan beberapa kecupan di wajah Luna, lalu berpindah sekilas ke bibir manis istrinya tersebut, sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi.
Setelah bergantian mandi lalu sarapan bersama, Gio pamit untuk berangkat kerja. Luna kembali ke dalam mansionnya setelah mengantar ke depan.
Kini Luna hanya tinggal menunggu Rara, lalu mereka akan pergi bersama.
***
Luna dan Rara memasuki toko perlengkapan bayi di salah satu mall. Luna tampak begitu antusias, pandangannya berbinar memandangi serba-serbi pakaian bayi yang lucu-lucu, rasanya dia tidak sabar untuk melihat bayi perempuannya mengenakan baju-baju itu nanti.
Sedikit berbeda dengan Rara yang terlihat biasa saja mengingat ini adalah kehamilan ketiganya.
"Iya, Lun. Kenapa?" Rara yang saat ini tengah memilih pernak-pernik bayinya menoleh.
"Datang ke tempat ini membuatku kepikiran ingin mengembangkan Paradise Fashion pada bisnis pakaian bayi. Aku rasa prospeknya cukup bagus," ujar Luna.
Rara menggelengkan kepala, lalu menepuk dahi sendiri. "Astaga, Luna ... bahkan di saat seperti kau masih memikirkan uang, lebih baik pikirkan saja dulu bayimu yang akan segera lahir."
"Kenapa memangnya? Tidak ada salahnya kita menangkap setiap peluang yang datang."
"Iya, tapi tujuan kita ke sini untuk menghabiskan uang suami. Apa kau tidak lelah setiap saat hanya memikirkan perusahaan?" Rara tidak habis pikir.
__ADS_1
"Ya sudah, nanti kita bicarakan setelah pulang," sahut Luna yang masih ngotot dengan idenya.
Rara tidak menggubris ucapan Luna, ia lanjut saja memilih pakaian yang diinginkannya.
Sesaat kemudian Rara kembali dengan membawakan sebuah jumper untuk bayi perempuan yang terlihat sangat cantik, lalu memberikannya pada Luna. "Nah, ini aku pilihkan untuk keponakanku nanti."
"Jika memilih pakaian bayi, kau harus memeriksa jahitannya dulu, jangan sampai mengambil yang jahitannya tembus ke dalam. Itu akan membuat bayimu tidak nyaman, dan kulitnya juga bisa iritasi," ujar Rara.
"Oh, begitu." Luna mengangguki perkataan Rara.
Meski dirinya adalah seorang desainer hebat, tetap saja Luna masih cukup buta perihal bayi.
Mereka lanjut ke sisi lain toko untuk mencari barang-barang seperti handuk, selimut, dan aksesoris lainnya, setelah memilih pakaian yang diinginkan.
Lalu kedua wanita itu beranjak menuju kasir untuk menyelesaikan pembayaran.
"Apa kalian sudah selesai?" tanya seseorang dari belakang.
Luna menoleh ke belakang. Sesuai dugaan, itu adalah suara suaminya. Gio tidak sendiri, tapi juga ada Sean di sampingnya.
"Kebetulan sekali para suami itu datang, kita suruh saja mereka jadi kuli angkut," bisik Rara.
"Setuju, jadinya kita ada sedikit hiburan," kekeh Luna sambil melirik jahil ke arah suaminya.
Sementara itu Gio dan Sean jadi saling tatap, mereka tidak tahu apa yang sedang direncanakan istri masing-masing.
__ADS_1
Bersambung.