Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Pembukaan Panti Asuhan


__ADS_3

Luna dan Rara sedang berada di panti asuhan. Rumah ini baru selesai direnovasi seminggu yang lalu. Selain bangunan lama yang diperbesar, panti asuhan ini juga membangun bangunan baru sebagai asrama tambahan.


Pada halaman depan dibuatkan taman bermain, yang lengkap dengan pendopo-pendopo, bangku-bangku, perosotan, ayunan, dan masih banyak lagi. Sementara itu di belakang bangunan utama, dibangun aula besar sebagai tempat belajar, yang lengkap dengan perpustakaannya.


Hari ini rumah asuh ini sudah mulai diisi oleh anak-anak. Sebagian dari mereka diambil dari yayasan lain yang sudah kelebihan kapasitas, dan sebagian lagi adalah anak-anak jalanan yang memang tidak memiliki tempat tinggal.


Luna tersenyum senang, anak-anak asuhnya tampak bahagia memiliki tempat tinggal baru. Dia juga lega, karena amanat dari Giselle sudah berhasil ia laksanakan.


"Senang ya, Lun ... akhirnya panti asuhan ini resmi dibuka," ujar Rara.


"Ya, Giselle pasti senang karena cita-citanya sudah tercapai. Terimakasih, Ra," tutur Luna.


Rara mengkerutkan dahinya. "Terimakasih buat apa?"


"Kamu tahu sendiri, kan? Selama proses renovasi tempat ini berjalan, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk merawat Gio. Jadinya kamu yang waktu itu sedang hamil Caca harus repot mengawasi jalannya proses renovasi tempat ini, kamu juga harus mencuri-curi waktu untuk mengurus pekerjaan kantor, padahal kamu sudah mendapat larangan keras dari mertuamu," ucap Luna tidak enak hati.


"Ya, Tuhan, Luna ... kirain apa?" Rara menggelengkan kepala seraya merangkul sahabat terbaiknya itu. "Kenapa kamu jadi mellow gini? Jangan-jangan kamu udah tekdung, ya?"


Luna menyeringai. "Pintanya sih begitu, Ra ... tapi kalaupun aku beneran udah ngisi, tetap belum bisa diperiksain, kan? Aku sama Gio aja baru berhubungan pertama kali 2-minggu yang lalu."


"Ya belum bisa sih, udah jangan mellow-mellow lagi! Kamu itu adalah keluarga satu-satunya yang aku miliki sebelum aku menjadi menantu di keluarga Richard, Lun ... selamanya akan seperti itu, dan sesama keluarga nggak ada yang namanya merepotkan," ujar Rara.


Senyuman Luna mengembang. "Kamu benar, Ra ... kita adalah keluarga. Kita menjalani masa-masa sulit bersama, dan mencapai hari-hari yang menyenangkan bersama. Di masa tersulit kita, aku bahkan nggak berani untuk sekedar membayangkan kebahagiaan yang kita miliki sekarang ini," lirihnya.


"Dan yang paling nggak terbayangkan adalah kita menjadi saudara ipar!" Rara menambahkan sembari terkekeh kecil.


Luna mengangguk seraya ikut terkekeh. "Iya, ya ... aku juga nggak nyangka bisa gitu."


mereka pun lanjut berkeliling memantau pekerjaan para pelayan yang sedang mengatur kamar untuk anak-anak.


"Oh, ya, Ra ... apa kamu sudah mendapatkan guru pembimbing untuk anak-anak?" tanya Luna.


"Ya, sesorang yang sempurna. Sebentar lagi dia akan sampai," jawab Rara.


Nyonya inggrid datang menghampiri mereka. "Selamat ya Luna, Rara ... kalian berdua wanita hebat, dan berhati mulia."


Nyonya Inggrid menyalami Luna dan Rara bergantian.

__ADS_1


"Saya juga berterimakasih sama Ibu, karena bersedia menjadi salah satu donatur di sini," tutur Luna.


"Saya senang bisa melakukannya. Apalagi Laura terlihat sangat senang bertemu teman-teman baru." Dengan isyarat dagu nyonya Inggrid menunjuk cucunya yang sejak tadi mengintili Rio.


"Kamu bisa nggak sih jangan ngikutin aku terus!" seru Rio kesal karena tidak nyaman diikuti Laura.


Laura melipat bibir ke dalam. "Aku mau main sama kamu," sahutnya lirih.


"Di sini banyak anak-anak, kenapa cuma aku yang kamu nganguin?" suntuk Rio mulai nyolot kepada gadis kecil di hadapannya.


"Tapi aku maunya temenan sama kamu," ucap Laura sedih.


"Aku nggak mau temenan sama kamu. Sana jauh-jauh, jangan gangguin aku!" usir Rio tidak peduli dengan kekecewaan Laura yang sangat berharap bisa berteman dengannya.


"Sayang, kamu nggak boleh ngomong kasar sama perempuan. Gimana nanti kalau adik kamu sudah besar, terus dibentak-bentak sama orang, Rio nggak mau seperti itu, kan?" tegur Rara yang datang menghampiri karena mendengar anaknya marah-marah.


"Tapi dia gangguin Rio, Ma ... Rio nggak suka," sungutnya sambil memberikan lirikan kesal kepada Laura.


"Maafkan anak saya ya, Bu," tutur Rara merasa tidak enak hati pada nyonya Inggrid. "Saya akan menasehatinya," lanjutnya berjanji.


"Tidak apa-apa, Ra. Hal seperti ini biasa terjadi pada anak-anak," sahut nyonya Inggrid penuh pengertian.


"Rio, coba cerita sama mama, kenapa tadi Rio marah-marah sama Laura?" bujuk Rara pelan.


"Rio nggak suka, Ma. Dia ngikutin Rio terus," jawabnya datar.


Luna yang juga ada di sana berjongkok di samping keponakannya. "Rio tau nggak? Mamanya Laura itu sudah meninggal, dia nggak punya mama lagi. Makanya dia pengen temenan sama Rio karena Rio punya mama, punya onty juga. Rio denger, kan? Laura itu manggil mami sama onty, itu karena dia pengen banget punya mama."


Meski umur Rio belum genap enam tahun, tapi dia cukup mengerti apa yang baru saja diceritakan onty Lunanya, dia pun terdiam.


"Laura itu kesepian, Sayang ... emangnya Rio nggak kasihan?" imbuh Luna dan kali ini Rio mengangguk.


Rara tersenyum melihat Rio mau mengerti pada akhirnya. "Kalau Rio kasihan sama Laura, sana minta maaf sama Laura terus ajak dia temenan!"


"Iya, Mama, Onty." Anak itu mengangguk patuh, lalu pergi menghampiri gadis kecil yang tadi ia kecewakan.


Dari kejauhan Luna dan Rara tersenyum senang melihat anak sekecil Rio sudah berani mengakui kesalahannya dan kemudian meminta maaf. Anak itu juga mengulurkan jari kelingkingnya pertanda mengajak Laura berteman.

__ADS_1


Tak lama kemudian pandangan Rara tertuju pada seorang wanita yang baru saja tiba di sana. Dia adalah wanita yang dikirimkan agensi jasa pengajar untuk menjadi guru pembimbing di panti ini.


Rara berpamitan pada Luna, dia membawa wanita tersebut menuju ruang pembina panti, untuk memberikan sedikit arahan tentang pekerjaannya nanti.


"Nona Rita."


"Iya, Nyonya." Wanita itu mengangguk pelan.


Saat ini Rara tengah membaca profil, daftar riwayat hidup, pengalaman kerja, serta sertifikasi pendidikan wanita calon pengajar tersebut.


"Kau akan memiliki pekerjaan yang cukup berat, karena sebagian besar anak didikmu di sini ada pada rentang usia aktif, apa kau sanggup untuk menerima tugas ini?" tanya Rara.


Wanita itu mengangguk pelan, raut wajahnya sangat tenang dan sama sekali tidak terbaca. "Saya bersedia, Nyonya."


"Ya, aku pun percaya kau pasti mampu setelah melihat riwayat pengalaman kerja yang kau miliki, kau diterima bekerja di sini," ujar Rara.


"Terimakasih, Nyonya."


"Baiklah, sepertinya aku tidak perlu memberimu terlalu banyak arahan. Aku percaya kau sudah paham betul job deskmu, jadi silakan temui pelayan di luar, minta mereka untuk mengantar ke kamarmu," tukas Rara.


Belum sempat wanita bernama Rita itu menyahut, pintu ruangan itu terbuka dan menampilkan sosok Luna.


Rita berdiri kemudian membungkuk memberi penghormatan. "Selamat siang, Nyonya."


Luna membalas, "Selamat siang."


Rita mengalihkan pandangan pada Rara. "Baiklah, Nyonya ... saya permisi untuk istirahat."


"Silakan," sahut Rara.


"Topimu ketinggalan," ujar Luna tepat di saat wanita itu hendak melangkah.


Rita urung melangkah, kemudian berbaik badan. "Maaf, tadi cuaca di luar sedang panas, jadi saya datang memakai topi, di sini tidak panas lagi."


Wanita itu mengambil topi bowler berwarna cream dari atas meja, topi ini memiliki hiasan beludru berbentuk garis bulat berwarna putih, yang pada bagian vitanya terdapat hiasan permata.


"Bowler limited edition keluaran L.V!?" gumam Luna.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like, dan juga komentar, ya.


__ADS_2