
"Arrgghh, sial ... apa dia sudah gila?" Gio menggeram, dia ingin mengambil pakaian Luna tapi sudah hanyut terbawa oleh ombak.
Sementara itu di depan jejeran sun lounger yang tak jauh dari Gio, Luna berpura-pura meregangkan otot tubuhnya sebelum berenang ke pantai. Gerakannya yang sensual, ditambah kulit mulusnya yang terekspos bebas karena hanya berbalut bikini super seksi itu, memberikan tontonan menggoda kepada para pria yang ada di sana.
Sontak saja para pria itu menjadi heboh, ada yang bersiul, ada memanggil Luna untuk duduk di sun loungernya, ada juga yang nyaris tertelan jakunnya sendiri.
Gio menggelengkan kepala, serangan panik mulai menguasai pikirannya. Dengan perasaan kesal kaki panjang itu mengayun ke arah Luna, hendak menyeret istrinya itu menjauh dari para pria tersebut.
"Kau gila, ya? Mata para bajingan itu nyaris melompat keluar karena melihat tubuhmu!" sentak Gio.
Luna menepis tangan Gio, hingga cengkeraman suaminya itu terlepas dari lengannya.
"Apanya gila? Mereka hanya melihat, tidak bisa menyentuh, apalagi memiliki! Karena aku adalah milikmu seutuhnya, Giovanniku!" Luna bicara dengan suara lembut yang merayu, tapi jelas pada saat ini dia tengah menyindir suaminya itu.
Gio menggelengkan kepala, mulutnya terbuka kemudian kembali tertutup, dia tidak tahu harus membalas apa saat Luna membalikkan perkataanya tadi.
"Hei ... apa maksudmu mengatai kami bajingan!" seru seorang pria yang tidak terima dengan perkataan Gio.
Gio menoleh sambil mendecakkan bibirnya. "Cih, memang kau bajingan! Aku tahu isi otak kotormu itu saat melihat tubuh istriku!"
"Kurang ajar! Kau sengaja ingin mencari gara-gara dengan kami, ya!" Teman dari pria tersebut tidak terima.
Mereka berdua berderap maju untuk memberi Gio pelajaran.
"Mampus kau!" ejek Luna, sebelum berlari ke arah pantai, menceburkan dirinya ke air laut.
Luna asik sendiri berenang di air laut, dia hanya jadi penonton saat Gio berkelahi dikeroyok kedua orang itu. Apalagi melihat Gio mampu menghadapi kedua lawannya, membuat Luna tidak ada niatan untuk membantu sama sekali.
Setelah lawannya melarikan diri, Gio pun menyusul Luna bermain air. Gio melepaskan pakaiannya sebelum menceburkan diri dan menyambarkan Luna, hingga membuat tubuh mereka terbenam sesaat disapu ombak.
"Kau gila, Lun ... kau benar-benar gila. Setelah memamerkan tubuhmu pada orang-orang itu, kau bahkan seperti tidak memiliki dosa meninggalkanku dikeroyok oleh mereka!" suntuk Gio seraya menyiramkan air ke wajah istrinya.
"Aku tidak melihatmu membutuhkan bantuan, jadi lebih baik aku mandi saja!" cengir Luna sembari terkekeh menggemaskan.
"Jangan lakukan lagi, Lun ... aku bisa membunuh orang jika ada yang menggodamu seperti tadi," ujar Gio.
__ADS_1
"Aku tidak akan melakukannya jika kau tidak mulai duluan. Itu cuma peringatan, karena aku akan membalas semua yang kau lakukan padaku, termasuk jika kau berani mengkhianatiku," balas Luna dengan nada mengancam.
"No, My Kwen ... aku tidak akan pernah mengkhianatimu. Tapi balasanmu tadi itu berlebihan, My Kwen. Para gadis tadi hanya melihat kita berjalan, sama sekali tidak ada unsur kesengajaan dariku. Sedangkan kau sengaja melepas pakaianmu, kemudian bergoyang-goyang menggoda pria jahannam itu," keluh Gio.
"Aku bukan sengaja bergoyang untuk mengoda mereka, Gi. Aku hanya meregangkan otot tubuhku sebelum berenang," elak Luna sembari menahan kekehan tawanya, dan sepertinya Gio percaya.
Cukup lama mereka bermain air, berenang ke sana-sini sembari bergurau. Sampai akhirnya Gio teringat bagaimana mereka akan pulang ke resort, karena Luna sudah membuang pakaiannya, sementara mereka tidak ada yang membawa ponsel.
Tidak mungkin Gio akan membawa Luna berjalan kaki ke resortnya hanya dengan mengenakan bikini seperti itu. Jika itu terjadi, mungkin setiap beberapa langkah Gio akan berkelahi karena ada yang menggoda istrinya.
"Kau pergi saja ke toko pakaian untuk membelikanku baju, aku akan menunggumu di sini, aku tidak akan keluar dari air sebelum kau datang," ujar Luna memberikan solusi.
Gio tampak berpikir sebentar, saran Luna memang masuk akal, tapi melihat ramainya pengunjung yang juga sedang mandi membuatnya mengurungkan niat untuk pergi. Dia takut istrinya itu pasti akan digoda oleh para pria jika ditinggal sendiri.
Sesaat kemudian mata Gio tertuju pada seorang anak laki-laki yang berumur sekitar sepuluh tahun sedang bermain di pinggir pantai.
"Hei, kau ... kemarilah!" panggil Gio seraya berjalan keluar dari air.
"Aku?" Anak kecil itu menunjuk dirinya.
"Iya kamu!" Gio lantas mengambil pakaiannya lalu memberikan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu kepada anak tersebut.
"Baik, Om," sahut anak itu dengan penuh semangat, kemudian pergi meninggalkan Gio.
Setelah anak itu pergi, Gio pun kembali menghampiri istrinya yang masih asik berenang.
"Aku sudah menyuruh anak-anak untuk membelikan baju ganti untukmu!" ujar Gio.
Luna mencebik, dia tidak yakin ide dari suaminya itu akan berhasil. "Kau yakin anak itu akan kembali lagi?"
"Tentu saja!"
"Kita, Lihat saja nanti!" balas Luna.
Benar seperti yang diperkirakan Luna. Setengah jam sudah berlalu, tapi anak yang mereka tunggu tidak juga kembali. Hingga Gio pun mulai kesal.
__ADS_1
"Makanya jangan terlalu mudah mempercayai orang, apa lagi di tempat wisata seperti ini," celutuk Luna.
Gio pun menghela napas berat, menyesali kecerobohannya sampai bisa ditipu oleh anak kecil tadi. Sementara itu Luna sudah mulai kedinginan karena terlalu lama berendam.
Untungnya sesaat kemudian Gio melihat Sean sedang jalan-jalan bersama Rara tak jauh tempat mereka mandi. Bergegas Gio keluar dari dalam air untuk menghampiri sepupunya itu.
"Sean, apa kau bawa ponsel?" tanya Gio sembari mengatur napasnya.
"Ada, kenapa?" tanya Sean heran.
"Hubungi siapa saja yang ada di resort, suruh mereka datang ke sini untuk membawakan baju istriku!" ujar Gio.
Dahi Rara berkerut heran. "Memangnya Luna tidak membawa pakaian?"
"Dia membuangnya!"
"Hah?"
"Sudah, jangan banyak tanya lagi. Suruh saja pelayan di resort mengantarkan pakaian ke sini!" sela Gio sebelum kedua orang itu sempat bertanya lagi.
Setelah memastikan Sean melakukan permintaannya, Gio kembali menghampiri Luna di dalam air. Mereka menunggu selama lima belas menit, barulah pelayan dari resortnya datang membawakan bathrobe dan pakaian ganti untuk Luna.
Mereka kembali ke resort dengan kondisi Luna yang menggigil kedinginan, karena kelamaan berendam.
"Ini akibatnya karena kau membuang pakaianmu," celutuk Gio sembari merangkul Luna. Mencoba menyalurkan sedikit hawa panas agar istrinya itu tidak terlalu menggigil.
"Kau yang duluan memancingku!" sungut Luna tak mau kalah.
Begitu sampai cottage, Luna langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari bekas air asin.
"Kau mau ke mana?" tanya Luna saat melihat Gio hendak mengikutinya.
"Mandi bareng!" Gio menyeringai.
"Belum boleh, ingat kata onty Alya, tidak boleh berhubungan dulu tiga sampai empat hari!" tukas Luna seraya menutup pintu kamar mandinya.
__ADS_1
Gio menghembuskan napas berat, dia menyandarkan tubuh di pintu yang sudah tertutup itu dengan raut wajah lesu. Mau tidak mau dia masih harus berpuasa, setidaknya untuk beberapa hari ke depan.
Bersambung.