
Dari dinding kaca gedung URM Group, Fanny memandangi mobil Lucas dan Brian yang meluncur menuju jalan raya.
Wanita paruh baya yang dikenal cerdas dan energik itu sedang memaksa otaknya untuk berpikir lebih keras, Tapi sayangnya tidak ada jalan keluar yang bisa ia temukan.
Dia tahu Justino tidak akan main-main dengan ancamannya, pria itu tidak memiliki rasa iba terhadap lawannya.
Siapa yang harus dipilih? Pilihan yang buruk untuk merelakan Justino mengeksekusi anak-anak, tapi membiarkan Brian dan Lucas mengorbankan diri untuk menyelamatkan anak-anak juga bukan pilihan yang baik, kan?
Fanny mendesahkan napas berat, dia tidak siap untuk menyampaikan berita buruk kepada keluarga kedua pria itu nanti.
Sedangkan saat ini saja keluarga besar mereka tengah berduka karena insiden yang dialami Luna, bahkan sampai saat ini belum ada kabar apakah gadis itu bisa diselamatkan. Haruskah mereka menerima kabar buruk lagi? Tentunya tidak!
"Sorry, Brian ... kali ini aku tidak bisa menuruti permintaanmu!" gumamnya.
Fanny akhirnya mengambil keputusan, dia akan menghubungi orang-orang lama yang biasa terlibat dalam masalah seperti ini. Bukan dia mengabaikan ancaman Justino yang ingin mengeksekusi anak-anak, tapi dia tahu betul pria itu hanya ingin mendapatkan lebih banyak mangsa. Ya, pria itu pasti akan tetap mengeksekusi anak-anak, walaupun Brian dan Lucas sudah menyerahkan diri sebagai gantinya.
Jadi pengorbanan yang dilakukan dua temannya itu tetap akan sia-sia, bukan?
Satu yang Fanny harapkan saat ini, yaitu ketiga pria muda yang sudah ia anggap sebagai anak sendiri itu harus bisa menyelamatkan diri mereka masing-masing. Karena hanya itu jalan satu-satunya.
***
__ADS_1
Justino tersenyum bengis, rencananya sangat jelas. Dia akan melenyapkan keluarga musuhnya sampai tidak bersisa.
"Aku akan memulainya darimu terlebih dulu Richard!" Justino menodongkan senjatanya ke arah Sean.
Sean memejamkan mata, dia sudah pasrah jika detik berikutnya adalah akhir kehidupannya. Dalam hati dia berdoa kepada Tuhan, memohon agar menjaga istri dan anak-anaknya yang masih kecil.
Trraankk ....
Satu upaya dari Gio berhasil membuat rantai yang membelenggunya terlepas dari gantungan. Suara sentakan Gio membuat Justino menoleh, kini laras senjata api yang tadi mengerah kepada Sean pun berpindah padanya. Belum sempat Justino menarik pelatuk, Gio sudah lebih dulu mencambukkan rantai yang masih membelenggu tangannya ke lengan Justino, hingga membuat senjata pria itu terlepas. Sembari melompat turun Gio mengalungkan Rantai itu pada leher Justino, dia menjepit ujung rantai tersebut pada lipatan siku, sebelum menyentaknya dengan tenaga penuh. Justino pun meregang nyawa dengan lidah terjulur.
Asisten Justino terkesiap karena gerakan Gio yang tak terduga, bersamaan dengan pria itu ingin mengeluarkan senjatanya, Sandy juga berhasil melepaskan rantainya dari gantungan, dia juga melakukan hal sama seperti yang dilakukan Gio tadi pada asisten Justino.
Gio bergegas menutup pintu ruangan tersebut, agar anak buah Justino tidak ada yang tahu bahwa dua atasannya sudah menjadi mayat.
"Ya, kau benar. Lebih baik kita di sini dulu," sahut Sandy.
Sean baru membuka mata saat mendengar percakapan kedua temannya. Dia terkejut saat menyadari musuhnya sudah terkapar di lantai. Melihat tangan Gio dan Sandy masih terbelenggu rantai, Sean menjadi tahu apa yang dilakukan kedua kawannya itu. Dia pun menyentak rantai yang menggantungnya sekuat tenaga, hingga berhasil lepas.
Mata Sean tertuju pada Justino yang sudah menjadi menjadi mayat dengan lidah terjulur, dia pun mendekati pria itu untuk melampiaskan kekesalannya.
"Dasar manusia busuk ... tidak berguna!" Sean meraung seraya mengangkat mayat pria itu dan melemparkannya ke dinding sekuat tenaga.
__ADS_1
"Aahhkk!!" Gio menjerit kesakitan.
Yang Sean tidak sadari, saat melemparkan tubuh Justino, ternyata rantai yang membelenggunya mengayun ke pinggang Gio.
"Inikah balasanmu pada orang sudah menyelamatkan nyawamu, Sean?" geram Gio sembari memegangi pinggangnya yang perih bekas cambukan Sean.
Sean menoleh sambil menggaruk kepala, memasang wajah tidak berdosanya. "Ups ... sorry, Bro ...," kekehnya.
Sandy yang sedang mencari kunci borgol di saku asisten Justino pun terkekeh geli. "Dasar kau bajingan tengik!" Dia mengumpat kelakuan Sean.
Mereka tetap bersembunyi di dalam ruangan sembari menunggu bantuan, karena memang hanya itu pilihan terbaik. Akan jadi pekerjaan bunuh diri jika harus keluar dari ruangan, dan menghadapi puluhan anak buah Justino yang bersiaga penuh di luar sana dengan perlengkapan seadanya. Apalagi tenaga mereka juga sudah terkuras habis, karena sebelumnya dipukuli oleh anak buah Justino.
Sekitar satu jam kemudian terdengar suara helikopter yang memekakkan telinga, sejurus itu letupan senjata api pun mulai terdengar saling sahut menyahut, disusul lengkingan kesakitan yang mereka yakini adalah suara anak buah Justino.
"Itu bantuan sudah datang!" ujar Gio.
Sandy mengangguk, dia mengambil senjata milik Justino dan asistennya tadi, lalu memberikan salah satunya kepada Gio.
"Aku pakai apa?" tanya Sean.
"Kau bersembunyi saja di belakang kami, Sean! jika kau pegang senjata, nanti yang adanya kepalaku yang kau tembak," suntuk Gio yang masih kesal.
__ADS_1
Setelah bersiap-siap, mereka perlahan keluar dari ruangan tersebut. Merayap dengan hati-hati untuk memberikan serangan tambahan.
Bersambung.