
Keesokan hari.
Gio pergi untuk menemui Luna, jika ada harapan untuk mendapatkan gadis itu, maka dia akan memanfaatkan sekecil apa pun kesempatan yang datang.
Tok ... tok!
"Masuk!" sahut Luna dari dalam ruangannya.
Perawat yang mengantar Gio membukakan pintu, setelah itu Gio mendorong sendiri kursi rodanya untuk masuk, memerintahkan perawatnya menunggu di luar.
"Mau apa kau ke sini?" tanya Luna ketus.
"Ya Tuhan, kau masih bicara begitu ketus padaku, Lun. Bahkan di tengah kondisiku yang tidak berdaya ini, apa kau tidak kasihan padaku?" Gio memasang wajah meradang.
"Bukankah kau benci dikasihani?"
Gio menggelengkan kepala. "Cukup, Lun ... aku datang ke sini bukan untuk berdebat, aku ke sini hanya untuk berbagi sedikit cerita."
Luna keluar dari balik meja, lalu membantu Gio pindah dari kursi rodanya ke sofa.
"Apa yang ingin kau katakan?"
Gio menghela napasnya terlebih dulu. "Maaf, aku memang memiliki banyak gadis dalam hidupku. Tapi tidak ada yang spesial seperti kamu Lun. Aku selalu tertarik saat melihatmu, sewaktu kita masih kecil maupun saat kau berkelahi di club milikku, tapi sayangnya aku selalu kehilanganmu. Terakhir aku kembali melihatmu lagi di pernikahan Sean, naluriku berkata aku tidak boleh kehilanganmu lagi, meskipun saat itu aku belum tahu apa yang membuatku merasa seperti itu."
Gio kembali melanjutkan. "Kau tahu? Aku sangat mengkhawatirkanmu sejak kau pindah sekolah. Karena apa? Karena aku tahu kau pasti sedang memiliki masalah, dan itu yang menyebabkanmu selalu menyendiri di sekolah kita. Aku mencoba untuk mencarimu, tapi aku bisa apa Lun? Aku hanyalah anak kecil yang masih berusia sepuluh tahun. Lalu aku nekat meminta daddy untuk mencarimu, aku ingin bertemu gadis kecilku yang menghilang, tapi kau tahu apa yang aku dapatkan? Aku malah jadi bahan tertawaan satu keluarga, terutama kak Lia yang selalu mengejekku setiap hari, mereka bilang puberku terlalu dini."
"Pubermu memang terlalu dini, kau bahkan mencuri ciuman pertamaku waktu itu," sungut Luna. 'Dan konyolnya tidak bisa kulupakan sampai saat ini,' lanjutnya dalam hati.
"Aku ke sini untuk menanyakan siapa aku di hatimu Lun?"
Tidak ada suara dari mulut Luna, yang ada hanya matanya tampak berkaca-kaca. Tanpa tahu harus menjawab apa, karena pria ini memang sudah mengunci hatinya sejak lama. Sesaat kemudian Luna menghambur memeluk Gio, menumpahkan segenap kerinduan yang selama ini ia tahan.
Gio membiarkan Luna memeluknya sampai puas, hingga akhirnya gadis itu sendiri yang mengurai pelukannya.
"Apa kamu mencintaiku Lun?"
Luna mengangguk. "Lebih dari yang kau tahu Gi, kau sudah mengunci hatiku sejak lama."
"Tapi kau juga mencintai kakakku?"
Luna menggelengkan kepala. "Sama seperti di pernikahan Rara, aku lagi-lagi salah mengenali orang. Aku memberikan seluruh hatiku untuknya karena berpikir dia adalah kamu. Sampai akhirnya aku menyadari kekeliruanku saat pertama kali aku datang ke mansionmu. Aku sedang memandangi photo anak kecil dengan seragam sekolah dasarnya yang aku kira adalah Geovanni, lalu onty Delia memberitahuku bahwa saat kecil Geo tidak sekolah reguler karena penyakit dideritanya. Saat itulah aku tahu kenyataan, bahwa aku telah dua kali salah mengenali orang. Ternyata kamulah pangeran kecilku, orang yang selama ini mengunci hatiku."
__ADS_1
"Aku pangeran kecilmu?" Gio menaikkan sebelah alis matanya tinggi-tinggi.
Wajah Luna bersemu merah. "Jangan menatapku seperti itu Gi, aku malu ...."
"Menatap pacar sendiri tidak ada salahnya, 'kan? Yang salah itu kalau menatap pacar orang, lagi pula setiap melihat kamu mataku seperti ada kaca mata kudanya. Terfokus sama kamu, tanpa bisa melihat ke arah lain."
Luna mencebik berusaha sekuat hati menahan senyum. Gio dan mulut manisnya sudah seperti laut dan pantai, mustahil untuk dipisahkan.
"Memangnya kapan kita jadian?" Luna menaikkan sudut bibir atasnya.
"Entahlah, mungkin saat kau pertama kali menciumku," sahut Gio.
"Aku? Menciummu?" Luna menunjuk diri sendiri.
"Apa kau lupa Luna? Kau lah yang pertama kali menciumku sebagai bayaran aku mengobati luka di kakimu!" Gio menaik-turunkan alis matanya dengan mimik wajah menggoda.
'Ya Tuhan, mengingat kejadian itu malunya masih terasa sampai saat ini,' erang Luna dalam hati.
Luna yang tidak ingin terjebak dalam situasi ini segera berdiri dari tempat duduknya. "Aku harus kembali bekerja Gi. Pekerjaanku menumpuk, dan aku harus mengerjakan semuanya sendiri, karena Rara sedang di Madrid."
Luna melangkah balik ke meja kerjanya, apa yang baru saja dia katakan hanyalah sebuah alasan untuk menghindar, padahal pekerjaannya tidak pernah seberat itu. Memang Rara dan Wina sedang sedang di Madrid, tapi Paradise Fashion memiliki rataan karyawan yang benar-benar kompeten, semuanya divisi tidak hanya menjalankan tugasnya dengan baik, tapi juga terus menemukan ide-ide brilian untuk kemajuan perusahaan. Yang membuat tugas Rara dan Luna sebenarnya hanyalah menjaga karyawan-karyawan terbaiknya agar tetap betah bekerja di sini.
"Kau tidak ingin makan siang bersamaku, Gi?"
"Lain kali saja Lun."
"Kamu marah?"
Gio menggembangkan senyumnya. "Apa yang membuatku harus marah di hari sebahagia ini? Aku ingin pulang lalu berlatih bersama terapisku, aku tidak ingin berlama-lama duduk di kursi roda ini Lun, yang mungkin akan membuatku kehilanganmu lagi."
"Itu tidak akan terjadi, Gi. Percayalah," lirih Luna.
"Bisa bantu aku kembali ke kursi roda?"
Luna mendekat lalu memapah Gio kembali ke kursi rodanya.
"Menikahlah denganku saat aku sudah sembuh nanti Lun!"
Luna berjongkok di depan Gio. "Tidak perlu menunggu sembuh pun aku mau Gi," ucapnya sungguh.
"Bahkan sekarang?" pancing Gio.
__ADS_1
Luna menggangguk pelan. " Kapan pun kau ingin meminangku."
"Aku ingin sembuh dulu Lun. Aku tidak ingin menjadi suami yang tidak bisa melindungi istrinya. Kau mau menungguku, kan?"
Luna kembali mengangguk. "Pasti."
Luna mendorong kursi roda Gio keluar dari ruangan. Di sana seorang perawat sudah menunggunya.
"Aku akan ke mansionmu sepulang kerja," ujar Luna.
"Aku tunggu Lun."
Luna tersenyum, dia menunggu sampai Gio menghilang masuk ke dalan lift. baru kembali masuk ke ruang kerjanya.
***
Di taman belakang mansionnya Gio melatih dirinya dengan penuh semangat, bahkan terkesan dipaksakan. Beberapa kali ia terjatuh hingga membuat sang terapis mencoba menginngatkannya, terapis itu malah khawatir ini malah mengundang cidera lain di kakinya.
"Tuan, ini sudah sore. Berhentilah memaksakan diri!" tegur terapis itu.
"Aku masih ingin berlatih, aku ingin sembuh secepatnya,'' tolak Gio.
"Tuan, sesuatu yang dipaksakan hasilnya pasti tidak baik. Ini tidak akan mempercepat pemulihan, malah dikhawatirkan bisa menghadir trauma kambuhan pada otot yang baru mulai pulih," ujar terapis tersebut mengingatkan.
Akhirnya Gio pun mengalah. "Ya sudah. Tolong bantu aku kembali ke kursi roda."
Gio sudah mengerahkan segalanya hari ini, tapi tidak mungkin cideranya bisa sembuh dalam sekejap. Saat dia ini memang sudah berhasil berdiri, tapi sebenarnya bukan kaki yang menahan bobot tubuhnya, melainkan tangannya yang bergantung pada penyangga.
Gio duduk di tepi kolam renang untuk beristirahat. Aurellia yang sedang berada di mansion, datang mendekatinya.
"Minumlah, aku membuatkannya untukmu!" Aurellia meletak gelas berisi jus buah delima di samping adiknya.
"Terimakasih, Kak." Gio menyesap jus buah yang kaya dengan kandungan vitamin k dan magnesium tersebut.
"Kau terlihat begitu bersemangat, apa ada sesuatu?" tanya Lia menelisik.
"Karena aku akan segera menikah, Kak," ujar Gio yang langsung disambut tawa keras dari kakaknya itu.
Bersambung.
Termakasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya ya.
__ADS_1