
Setelah Gio pergi, mommy memandangi menantunya itu dengan penuh telisik, membuat Luna menjadi salah tingkah.
"Mengapa Mom memandangiku seperti itu?" tanya Luna kikuk.
"Apa anak itu menyakitimu? Apa dia mengasarimu? Katakan pada mom, biar nanti mom beri dia pelajaran!" ujar mommy Delia.
Luna tertawa bahagia karena mendapatkan perhatian yang begitu besar dari sang mertua, dia kemudian memeluk mertuanya itu. "Terimakasih, Mom ... tapi aku tidak kenapa-kenapa, mungkin semalam itu aku terlalu gugup, makanya jadi seperti ini."
"Sukurlah kalau begitu, mom paling tidak suka jika ada pria yang menyakiti perempuan." Mommy Delia mengusap punggung Luna yang masih memeluknya.
"Oh, ya, Lun. Mom juga sudah menyiapkan rencana bulan madu untuk kalian ... ehmm, bukan untuk kalian tapi untuk kita, kita akan pergi bersama-sama, apa kamu setuju?" lanjut mommy Delia bertanya.
Luna mengurai pelukannya lalu mengangguk dengan antusias. "Aku setuju, Mom. Aku senang kita bisa berlibur sama-sama."
"Kalau begitu aku juga ikut!" Adalah Rara yang menimpali seraya berjalan mendekat ke arah mereka.
"Nah, lebih ramai lebih seru!" balas mommy Delia setuju.
"Rencananya kita mau ke mana, Onty?" tanya Rara seraya mendudukkan diri bersisian dengan kedua wanita itu.
"Lombok, itu adalah salah tempat favorit Gio. Dia pasti senang sekali jika kita merencanakan liburan ke sana," jawab Mommy Delia.
"Wah kebetulan sekali, aku juga sudah lama ingin ke sana. Dulu waktu aku hamil Caca, Sean pernah berjanji akan membawaku melihat sunset di Bukit Merese, yang sampai sekarang belum kesampaian," ujar Rara antusias.
Karena sudah sepakat, keesokan harinya mereka pun berangkat ke Lombok. Di antara orang-orang itu hanya Gio saja yang tidak bersemangat.
Mana ada bulan madu beramai-ramai seperti ini, ini namanya liburan!
Yang membuat Gio semakin keki, sepanjang perjalanan mommynya terus memonopoli Luna. Dia bahkan tidak diberi kesempatan untuk duduk di kabin yang sama dengan istrinya itu.
Sebelum tengah hari, pesawat mereka pun mendarat di Lombok International Airport, kemudian dilanjutkan dengan perjalanan darat menuju resort milik URM Group yang berada di kawasan Pantai Kuta.
Saat tiba di depan resort, gerbang megahnya pun terbelah dua memberikan akses bagi mobil yang mereka tumpangi untuk masuk.
Resort ini memiliki desain modren dengan hiasan bebatuan alam, halaman depannya tampak begitu asri dipenuhi ratusan bunga. Tapi hanya ada satu jenis bunga di sana, yaitu mawar, di tengah-tengahnya terdapat air mancur yang didesain mirip dengan air mancur dewi cibelle di Madrid, tapi dalam versi mini. Dan patung wanita yang duduk di atas gerobaknya menggambarkan sosok wanita lokal.
'Sepertinya resort ini terinspirasi dari tempat-tempat wisata di Madrid,' gumam Luna memindai halaman depan Resort tersebut.
__ADS_1
Resort ini dibagi menjadi beberapa cottage terpisah, semuanya berjejeran mengelilingi gedung utama yang berada di tengah-tengah.
"Ayo My Kwen, kau pasti butuh istirahat," ajak Gio.
"Sebentar, Gi ... mengapa resort ini sepi sekali?" tanya Luna bingung.
"Resort ini memang sudah dikosongkan karena pemiliknya akan datang, My Kwen. Mommy sudah mengaturnya agar yang ada di sini hanya keluarga kita dan pelayan saja," ujar Gio.
"Oh ... begitu rupanya." Luna menganggukkan kepala.
"Yups, bahkan seharusnya hanya kita berdua yang datang ke sini, agar tidak ada yang mengganggu bulan madu kita," Gio mengedipkan matanya sebelum menggendong Luna menuju cottage yang paling belakang.
***
Sore harinya Gio mengajak Luna jalan-jalan menyisir bibir pantai, lebih tepatnya dia melarikan Luna sebelum dimonopoli lagi oleh mommynya.
Mereka hanya perlu berjalan kaki beberapa ratus meter dari resort untuk mencapai Pantai Kuta, pantai ini berpasir putih nan cantik, ditambah airnya bewarna biru kehijauan sehingga menghasilkan pemandangan yang sangat memanjakan mata.
Selain memiliki panorama luar yang memukau, Pantai Kuta LombokĀ ini masih memiliki nilai plus lainnya, yaitu keindahan bawah lautnya yang sangat-sangat menawan. Ya, Lombok memang surganya diving.
Mereka terus berjalan menyisir bibir pantai, ditemani hembusan angin sepoi-sepoi yang membuat suasana kian terasa romantis. Selain menikmati keindahan laut dan pantainya indah, Luna juga dipuaskan dengan pemandangan bukit-bukit hijau yang berjejer di sekitar pantai. Dan tak seberapa jauh mata memandang, Luna dapat melihat sebuah bukit yang sangat terkenal, yaitu Bukit Merese.
"Aku belum pernah diving, tapi sepertinya menarik," sahut Luna.
"Bagus ... kalau begitu besok aku akan mengajakmu ke Gili Air," ujar Gio penuh semangat.
"Gili Air? Apa itu?" tanya Luna.
"Gili Air adalah salah satu dari 3-pulau terkenal di sini. Di sana adalah surganya diving, kita bisa menikmati pemandangan beraneka ragam terumbu karang, dan juga biota bawah laut lainnya seperti kuda laut, kura-kura, beragam ikan dengan berbagai warna yang cantik, dan masih banyak lagi." Gio menjelaskan dengan antusias.
"Baiklah, ayo besok ke Gili Air," balas Luna tak kalah semangat.
Sembari meneruskan jalan-jalan sorenya, ekor mata Luna menangkap sekelompok gadis yang tengah berbisik-bisik sembari menatap Gio dengan penuh minat.
Saat ini Gio hanya mengenakan baju khas pantai, dengan kancing bajunya dibiarkan terbuka begitu saja, sehingga memamerkan dada bidang dan perut six packnya yang menggoda iman.
'Sialan ... dia sengaja ingin tebar pesona rupanya,' Luna menggerutu kesal dalam hati, tapi Gio seperti tidak menyadarinya.
__ADS_1
"Gi ... bisakah kau pasang kancing bajumu itu!" seru Luna sembari besedekap kesal.
"Memangnya kenapa?" Gio menaikkan alis matanya sebelah.
"Kau lihat itu!" rajuk Luna sembari menunjuk para gadis yang menatap Gio dengan tatapan penuh minat. "Jangan sampai aku tergoda untuk mencokel mata mereka satu-persatu!" imbuhnya kesal.
Mengetahui kecemburuan Luna, Gio pun terkekeh jahil.
"Kau Lihat itu, My Kwen ... mereka bahkan tidak memakai baju!" Gio menunjuk para pria yang rebahan di atas sun lounger dengan bertelanjang dada.
Mendengar Gio mengabaikan protesannya membuat Luna menjadi semakin kesal. Padahal Gio tahu Luna sangat terganggu dengan tatapan para gadis, yang sedari tadi terus menatap suaminya itu dengan penuh maksud.
Luna menghentikan langkahnya. "Cepat pasang kancing bajumu, Gi ... kau sengaja ingin tebar pesona, ya?"
"Aku tidak tebar pesona, My Kwen ... tapi memang wajah dan tubuhku ini yang terlalu menggoda iman. Jadi wajar saja jika banyak wanita yang terpikat!" Gio memuji diri sendiri dengan pongahnya.
Luna berdecak kesal seraya melangkah meninggalkan Gio, moodnya langsung memburuk karena Gio sengaja memancing emosinya.
Dengan setengah berlari Gio mengejar lalu menangkap tubuh Luna. dia mendekap istrinya itu agar tidak melarikan diri lagi.
"Sana dekati para gadis itu jika memang ingin tebar pesona!" usir Luna dengan ketus.
Luna merasa tidak terima dengan tatapan penuh maksud dari para gadis itu pada Gio, ia merasa ada bergejolak di dalam dirinya dan membuat hatinya panas.
"Kau seharusnya tidak perlu cemburu, My Kwen ... mereka hanya bisa melihat tanpa bisa memiliki, karena aku hanya milikmu seutuhnya," Gio mengeluarkan rayuan mautnya.
Luna memutar mata malas, lalu mendorong tubuh Gio hingga pelukannya terlepas.
"Oh, begitu? jadi boleh melihat walaupun tidak bisa memiliki?" suntuk Luna.
Dia pun melepas dress pantai yang ia kenakan lalu membuangnya hingga tersisa dalaman saja, kemudian melenggok dengan genit ke arah para pria yang tengah bersantai di jejeran sun lounger.
Bikin cerita liburan, membuat jiwa traveling ku meronta-ronta. Hehe ....
Bersambung.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya, ya.