
Luna terdiam untuk beberapa saat, dia sedikit khawatir Rara akan membencinya ketika mengetahui apa yang telah ia lakukan pada Vita.
Namun, di sisi lain Luna juga merasa bingung, dia percaya cepat atau lambat Rara pasti akan tahu dengan sendirinya.
"Lun, bisa jelaskan maksud perkataanmu mengirimnya ke neraka?" desak Rara membuyarkan lamunan Luna.
Luna mengangguk pelan, dia menghela napas berat sebelum akhirnya berkata, "Aku melenyapkannya."
Rara menatap Luna penuh telisik, dia mulai menebak arah pembicaraan Luna, tapi dia berharap apa yang ada di pikirannya tidaklah nyata.
"Katakan yang jelas, Lun! Aku tidak mengerti!" seru Rara yang secepatnya ingin tahu.
"Aku membunuhnya, Ra ... maaf, hanya itu yang harus aku lakukan," jawab Luna pelan.
Luna menatap sendu pada Rara, berharap sahabatnya itu tidak akan membencinya.
"Apa? Kau membunuhnya?" tanya Rara merasa kurang jelas.
Luna mengangguk. "Iya ... maaf, mungkin ini akan membuatmu membenciku, tapi bagiku meleyapkannya adalah pilihan terbaik, Ra. Daripada membiarkan dia terus berkeliaran, dan tidak menutup kemungkinan dia masih memiliki seribu siasat keji untuk mencelakai kamu, Rio, dan juga aku sendiri."
Rara hanya bisa mengelengkan kepala setelah mendengar penjelasan itu, dia juga membuang napas berat.
"Lun, aku mengerti alasanmu. Aku juga tidak akan membencimu meski dia adikku, tapi mengapa kau sampai harus membunuhnya? Ingat sekarang ini kau sedang hamil!" desah Rara tidak habis pikir.
"Aku khawatir ini bisa memberi efek buruk pada kandunganmu," tambah Rara.
"Semoga saja tidak terjadi apa-apa, Ra ... tapi apa kau benar-benar tidak marah padaku?"
__ADS_1
Rara lantas menarik Luna ke pelukannya agar sahabatnya itu tidak merasa disalahkan. Bagi Rara, Luna sendiri bukan sekedar sahabat, lebih kuat dari itu mereka adalah keluarga.
Sebelum ini Rara memang sempat berharap Vita bisa berubah. Rara berusaha memaafkan Vita atas dasar hubungan darah yang mereka miliki.
Namun, alih-alih mensyukuri kebaikan hati Rara, wanita itu malah semakin menjadi-jadi dengan segala macam akal liciknya untuk membalas dendam.
Hingga mungkin kematian adalah jalan terbaik bagi Vita, agar ia tidak bisa lagi meneror Rara dan keluarganya.
"Lalu bagaimana dengan masalah hukumnya?" tanya Rara khawatir.
"Uncle Brian dan Daddy Lucas yang mengurusnya, masalahnya sudah selesai," jawab Luna.
"Oh, sukurlah."
Rara akhirnya bisa bernapas lega, setelah mendengar semua penjelasan tentang Vita.
"Lun, tolong panggilkan Rio, aku ingin bertemu dengan anak itu," ujar Rara setelah melepas pelukannya.
"Baiklah, tunggu sebentar," sahut Luna sembari beranjak turun dari ranjang.
"Biar aku saja!" potong Sean.
Ia lantas melangkah keluar dari ruang rawat, sekalian memberi waktu bagi Luna dan Rara bicara lebih banyak.
Di ruang tunggu keluarga, Rio tertunduk lesu sebab berpikir Rara membencinya. Raut wajah anak itu tampak begitu sedih, meski sudah dibujuk oleh keluarga besar yang ada di sana.
Sean langsung duduk di samping putranya, dia mengusap puncak kepala Rio mencoba menghibur hati putranya tersebut.
__ADS_1
Sean tersenyum lembut lalu berkata, "Jangan sedih, Jagoan ... mama tidak marah lagi padamu, dan sekarang mama ingin bertemu denganmu."
Rio menoleh dengan tatapan penuh penyesalan. "Benarkah mama sudah nggak marah lagi sama Rio? Mama nggak benci sama Rio?"
Sean menggelengkan kepalanya. "Tentu tidak, Nak. Mana mungkin mama akan membenci jagoan papa ini."
Sean lantas berdiri kemudian mengendong putranya ke ruang rawat.
Saat mendekati brankar ibunya, Rio langsung menunduk takut.
"Kemarilah, Sayang ... mama nggak marah lagi kok. Rio nggak salah apa-apa," panggil Rara sembari merentangkan tangannya yang masih lemah.
Rio baru berani mengangkat kepala setelah mendengar intonasi lembut itu keluar dari mulut ibunya .
Anak itu langsung memeluk Rara tepat saat Sean menurunkan dirinya di samping sang bunda.
"Mama, maafin Rio ya ... Rio janji nggak nakal lagi," lirihya tersedu.
Rara menangkup wajah putranya. Menatap sirat penyesalan pada sorot mata Rio, sebelum menghujani kecupan di wajah putranya tersebut.
Suasana bahagia pun seketika memenuhi perasaan mereka masing-masing. Hingga tanpa terasa air mata bahagia ikut mengalir dari pipi Luna, sebab terhanyut oleh pemandangan mengharukan di depannya.
Bersambung.
Halo man-teman, aku kembali melanjutkan cerita ini.
Semoga kalian masih untuk membacanya ya, hehe ....
__ADS_1
Maaf, karena harus terbengkalai sekian lama🙏🏼🙏🏼