Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Wanita Misterius


__ADS_3

"Bowler limited edition keluaran L.V!?" gumam Luna.


Rita menoleh ke arah Luna sembari menyunggingkan sedikit senyumnya. "Ini tiruannya, Nyonya."


Luna mengangguk, kemudian matanya tertuju pada tas yang dijinjing Rita dengan sorot menelisik.


"Saya permisi dulu, Nyonya," pamit Rita, yang diangguki Luna dan Rara.


Saat mereka berpapasan, Luna merasa ada yang lain dengan wanita tersebut.


Luna kemudian duduk di depan Rara. "Kamu lihat nggak, Ra. Yang dia pake branded semua, bajunya, topinya, tasnya juga merk cendol!"


Rara mengibaskan tangan seraya terkekeh kecil. "Trus kenapa kalau dia make brand dari perusahaan lain? Lagian brand kita juga nggak kalah pamor kok dengan brand yang dia pake."


"Maksudnya bukan itu, Ra ... cuma kurang masuk akal gitu ngelihat barang-barang yang dia pake serba branded, sementara kerjaannya dia cuma guru les," ujar Luna.


"Hush, ah ... nggak baik ngomong gitu, kita juga pernah susah," sela Rara tidak setuju karena ucapan Luna terdengar merendah profesi seseorang. Apalagi guru adalah profesi yang sangat mulia. "Bisa aja kan barang-barang dia pake itu pemberian pacarnya atau siapa gitu. Lagian dia juga bilang kalau barang dia pake itu tiruan."


"Kalau pemberian orang masih masuk akal, tapi kalau dia bilang palsu, aku kurang yakin," sahut Luna.


"Penglihatanku juga itu barang ori, mungkin dia cuma merendah dengan bilang itu barang tiruan. Ya ... apa pun itu, aku harap dia bisa jadi guru pembina yang baik bagi anak-anak di sini, walaupun auranya agak misterius," ujar Rara.


"Iya, memang misterius, pake banget malah!" sahut Luna.


"Air mukanya tenang, sorot matanya juga nggak terbaca. Jadi kita sulit banget untuk membaca kepribadiannya." Rara memberitahu penilaiannya.


"Sepemikiran. Tapi ya, bisa jadi juga sih ketenangan yang dia miliki itu adalah tuntutan profesi, karena dia sudah benar-benar terlatih menghadapi kenakalan anak-anak." Luna berpraduga.


Rara mengangguk, lagi pula mana mungkin yayasan yang ia hubungi mengirimkan pengajar yang tidak kompeten.


***


"Hai, Sayang ... sedang apa kamu di sini?" Rita menghampiri Rio yang sedang duduk sendiri ayunan depan panti.


Rio menoleh dengan tatapan yang tidak bersahabat, apalagi wanita yang menghampirinya adalah orang asing.


"Kamu kenapa nggak main sama teman yang lain?" tanya Rita lagi.

__ADS_1


"Kamu pergi aja, jangan gangguin aku!" usir Rio.


Rita tersenyum lembut. "Tante bukan orang jahat kok, Sayang ... tante adalah guru di sini. Kamu pasti anaknya mama Rara, ya kan? Nanti kalau kamu bosan belajar sendiri di rumah, kamu datang aja ke sini, belajar rame-rame sama teman-teman yang lain."


"Tante beneran guru di sini?" tanya Rio.


"Iya dong, buat apa tante bohong? Ehmm, tante punya permen yang eeenak ... banget, kamu mau, nggak?" bujuk Rita.


Rio menoleh, dia tidak menjawab penawaran Rita.


Mengetahui Rio tidak tertarik, Rita kembali melancarkan rayuannya. "Permennya enak banget ... bisa bikin hati orang yang sedang sedih jadi senang, kalau kamu udah makan permen pemberian tante kamu nggak bakal murung lagi seperti sekarang. Gimana? Mau apa nggak?"


"Memangnya ada permen seperti itu?" tanya Rio menelisik.


Entah apa yang dipikirkan anak itu, dia memang merasa ada yang kurang dari hidupnya. Dan itulah yang membuatnya sering kelihatan murung, dan tidak mau bergaul dengan orang baru.


"Ada dong, tante bakal kasih kamu, tapi ada syaratnya!" Rita terus melancarkan aksinya.


"Apa syaratnya?" tanya Rio. Kali ini dia mulai tertarik.


"Mana permennya?" pinta Rio yang sudah tertarik.


"Tapi kamu harus janji dulu nggak boleh melanggar syarat yang tante kasih," ujar Rita.


"Iya aku janji." Rio mengulurkan jari kelingkingnya.


"Good Boy ...." Rita memberikan sebuah permen yang ia ambil dari dalam tas. "Ingat, kalau besok kamu mau minta lagi, kamu cuma boleh minta sama tante di ayunan ini."


"Iya, Tante." Rio membuka bungkus permen yang diberikan Rita kemudian memakannya.


"Sini bungkusnya kembaliin," pinta Rita.


"Kenapa begitu?" tanya Rio heran.


"Kan tante udah bilang ... ini permen mahal, nanti kalau ada yang lihat pasti banyak yang minta. Tante itu mau ngasih kamu karena kasihan melihat kamu murung," jelas Rita.


"Ya udah, ini ...." Rio mengembalikan bungkus permennya, yang lantas dibakar oleh Rita.

__ADS_1


Setelah Rio menghabiskan permen pemberiannya, Rita masih di sana untuk menunggu reaksi dari anak itu.


Benar seperti yang dikatakan Rita, permen itu bisa membuat suasana hatinya membaik. Rio seakan terlupa dengan apa yang selama ini mengusik pikirannya.


"Bagaimana? Apa kamu suka?" tanya Rita.


Rio mengangguk antusias, efek dari benda manis yang dikonsumsinya tadi membuatnya lebih bersemangat. "Suka, Tante, besok aku boleh minta lagi, kan?" tanyanya penuh harap.


"Boleh, dong ... tapi ingat pesan tante tadi." Rita mengingatkan sekali lagi.


"Iya, Tante."


Tak lama kemudian Laura menghampiri mereka, gadis itu tertunduk karena takut dimarahi Rio. Mereka memang sudah berteman, tapi dengan syarat dia harus menuruti semua permintaan Rio.


Sebelum ini dia diperintahkan Rio mengambil minuman. Namun, tiba-tiba saja perutnya sakit, akibatnya ia harus ke kamar mandi terlebih dulu.


"Rio, maaf ... tadi perutku sakit, jadinya aku terlambat," ucap Laura seraya memberikan satu cup minuman dingin yang diminta Rio.


Rio menerima minuman pemberian Laura, lalu menyesapnya. "Nggak apa-apa kok, ayo kita main lagi," ajaknya ramah.


Laura mengangkat wajah, yang dia bayangkan tadi Rio pasti akan marah-marah. Namun, semua yang ia pikirkan tidak terjadi, bahkan sikap Rio jauh lebih hangat daripada sebelumnya.


Rita tersenyum melihat kedua anak itu bermain sepuasnya, hingga tanpa terasa hari sudah mulai sore.


Rita berdiri dari tempat duduknya, dia membungkuk hormat saat melihat kedatangan Rara dan Luna. "Selamat sore, Nyonya."


"Sore," jawab Luna dan Rara bersamaan.


"Anak-anak, ayo pulang!" panggil Rara.


Kedua anak yang tengah asik bermain itu menoleh, kemudian berlari menghampiri orang-tuanya. Laura ikut dengan mereka karena omanya sudah pulang duluan.


Rita ikut mengantar sampai ke mobil. "Hati-hati di jalan, Nyonya," pesannya sebelum mobil yang dikemudikan Rara meluncur.


Dia masih berdiri di sana, menyoroti mobil Rara yang melaju semakin jauh dengan senyuman yang sulit diartikan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2