
Hai ... Hai! Yang kemarin minta dibuatin visual, ini aku kasih, ya😊😊
Luna Mailor
Ini lho Luna yang cantik tapi keras kepala itu.
Jago bela diri lagi, hehe ....
Cantik banget kan si Luna, author aja suka, hehe ....
Giovanni Morelli
Kira-kira cinta dia buat Luna seputih pakaaian yang dia pake nggak sih?
Vita
Ini Vita setelah oplas, kira2 makin cantik atau gimana?
Mario Richard
Nih anak, kira-kira bakal jadi playboy kayak bapaknya nggak, ya? Atau dia bakal tumbuh jadi cowok yang setia banget? Mewarisi sifat onty Luna'nya gitu!?
Laura Purnama
Ini anak yang pengen banget Luna jadi maminya, kira-kira nanti bakal cocok sama Rio nggak, ya? Atau mereka bakal terjebak friendzone? Aduh ... cinta yang bertepuk sebelah tangan itu sakit tau!
Nah, segitu dulu ya visual, soalnya aku cuma kasih visual untuk tokoh yang akan mengisi garis besar cerita ini aja.
Untuk visual Rara sama Sean bisa dilihat di MBP, ya.
Thor, kenapa sih masukin visual anak-anak? Padahal kan itu bukan anaknya Luna sama Gio? Soalnya, cerita ini nanti bakal banyak part di panti asuhan, jadi bakal banyak anak-anaknya, ya kira-kira gitu deh jawaban author ....
Salam hangat dariku My Beloved Readers (Author Reno)
Yuk kembali ke alur ceritanya.
****
"Sayang ... cepatlah sedikit!" teriak Gio dari ruang tamu.
__ADS_1
Gio mendecakkan lidahnya, sudah hampir setengah jam dia menunggu Luna mandi, tapi wanitanya itu belum juga keluar dari kamarnya.
Karena tidak sabar menunggu, kaki panjang itu pun mengayun menuju kamar Luna. Dia terpana sesaat melihat gadisnya itu tengah duduk di depan meja rias, hanya mengenakan tank top berbahan tipis membiarkan sebagian kulit mulusnya terekpos dengan jelas.
Sambil menyeringai penuh maksud Gio mendekati Luna, lalu mendaratkan kecupan-kecupan nakal di pundak wanita yang tengah berdandan itu.
Luna menggelinjang kegelian, lalu sikunya mengayun ke belakang mengenai perut Gio, hingga pria itu mengaduh dan menjauh selangkah.
"Sakit, Lun ... apa tidak bisa sehari saja kau tidak bar-bar," keluh Gio sambil meringis memegangi perutnya.
"Ck, salah sendiri kenapa usil! Kalau kamu gangguin terus kapan aku selesai dandannya?!" erang Luna kesal.
"Kita cuma pergi ke rumah sakit, lalu ke pemakaman, Lun. Tidak perlu dandan serepot itu!" Gio sudah jengah menunggu Luna yang dari tadi tidak selesai-selesai.
Luna memutar hadap setelah riasan di wajahnya selesai, dia menyeringai melihat wajah Gio yang meradang.
"Kan aku dandan cantik buat kamu juga!" ujar Luna enteng, lalu melangkah menuju walk in closet.
Setelah berpakaian rapi Luna pun keluar dari sana, lalu menghampiri Gio yang menunggunya di sofa.
"Yuk berangkat!" ajak Luna.
Gio menangguk sebelum berdiri dari tempat duduknya. Mereka berjalan keluar apartemen dengan tangan Gio yang melingkar posesif di pinggang Luna, seolah takut kekasihnya itu akan lepas. Bahkan pria itu sesekali mencuri kecupan di wajah Luna, yang membuatnya mendapatkan sikutan ataupun pelototan tajam dari Luna.
Setelah sembuh dari cidera kekasihnya itu memang sangat jahil, tiada kesempatan yang dia lewatkan untuk mengerjai Luna, bahkan tak jarang Gio mengajaknya bermesraan di kantor. Tidak peduli jika Luna tengah sibuk-sibuknya, mengurusi pekerjaan kantor seorang diri.
Semenjak kehamilan Rara menginjak trimester ketiga, sahabatnya itu tidak pernah lagi datang untuk bekerja, dia diminta beristirahat penuh oleh keluarga suaminya. Jadi semua pekerjan di kantor harus dikerjakan Luna seorang diri, termasuk menghandle laporan dari cabang mereka di Luar negeri.
***
"Apa ini adiknya Rio, Kak?" tanya Luna saat melihat bayi yang ada dalam gendongan Rania.
"Iya, kau mau menggendongnya?"
Luna pun mengangguk cepat, dia meraih anak kedua Rara dari tangan Rania.
"Siapa namanya, Kak?" tanya Luna.
"Keluarga kita memanggilnya Caca," jawab Rania.
Luna pun menimang-nimang Baby Caca di tangannya. "Baby Caca, sayang onty yang cantik. Kamu cepat besar ya, nanti onty Luna akan ajarin kamu bela diri!"
"Nanti sama onty Rania juga bisa," ucap Rania lalu menunduk untuk mencium ponakannya.
"Bagaimana menurutmu, Gi? Dia cantik, bukan?" tanya Luna pada Gio, lalu mulai menciumi bayi Caca yang ada di tangannya dengan gemas.
Baby Caca pun merasa terganggu karena terus diciumi oleh Onty Luna'nya, hingga akhirnya bayi yang baru lahir itu terbangun dan menangis sejadi-jadinya.
Luna panik, dia merasa dejavu. Apa yang dia lakukan persis seperti saat kelahiran Rio dulu. Sekeras apa pun usaha Luna untuk menenangkannya, Baby Caca tetap tidak mau berhenti menangis.
"Bawa dia ke Mamanya, Lun. Dia pasti haus!" suruh Rania.
__ADS_1
"Iya, Kak ...." Luna mengangguk.
Luna segera masuk ke dalam ruang rawat, dia melihat Rara tengah tidur di atas brankar electric, ditemani Sean yang tertidur di kursi samping.
"Ra, bangunlah. Baby Caca nggak mau berhenti nangis," ujar Luna merasa gelisah.
Rara perlahan mengerjapkan mata, lalu melihat putrinya yang menangis dalam gendongan Luna.
"Bawa sini, kamu pasti mengganggunya 'kan! Seperti Rio dulu," rutuk Rara sambil mengulurkan tangannya.
Luna hanya menyeringai, lalu menyerahkan Baby Caca pada mamanya.
"Makanya cepatlah kau lamar dia, Rio sudah punya adik, tapi kalian belum juga menikah," sutuk Rara sembari mengalihkan pandangan pada Gio.
"Kami sedang mempersiapkannya," sahut Gio penuh semangat.
Luna pun tersenyum, dia tak dapat menyembunyikan rona merah yang kini menghiasi wajahnya.
Memang rencana pernikahan mereka sudah dekat, tapi sebelum itu mereka akan pergi ke Italia terlebih dulu untuk meminta restu orang tua Luna, sekalian berziarah ke makam maminya dan juga Geovanni.
"Ra, rencananya lusa aku dan Gio akan berangkat ke Milan. Sementara urusan perusahaan akan dihandle Wina, aku sih yakin sama kapasitasnya, kalau menurut kamu gimana?" tanya Luna.
"Nggak masalah kok, Lun. Aku juga percaya Wina bisa diandalkan," sahut Rara setuju.
"Sukur deh, Ra. Aku jadi tenang kalau gitu. Oh ya, aku pamit dulu ya, Ra. Mau ke Ziarah makam Giselle soalnya," pamit Luna.
"Iya hati-hati, aku doain semuanya lancar!" ujar Rara sembari mengembangkan senyumnya, lalu mengalihkan pandangan ke arah Gio.
"Awas kau Gi kalau berani nyakitin Luna!" ancam Rara sambil menajamkan tatapannya.
"Me ne prenderò cura con tutto il cuore," sahut Gio seraya merangkul Luna merapat.
"Gombal!" Luna menyikut perut Gio, meskipun wajahnya tak urung bersemu merah.
"Itu bukan gombalan, Sayang ... tapi tulus dari hati ini," kekeh Gio.
"Sudah sana pergi, malah mesra-mesraan di sini. Katanya mau ke makam Giselle," suntuk Rara yang tak habis pikir melihat pasangan yang tengah berbunga-bunga itu.
"Eh, iya. Kita pamit ya, Ra."
Gio juga berpamitan pada Rara, lantas mereka meninggalkan ruang rawat.
Rara tersenyum tipis sembari menggelengkan kepala melihat kemesraan antara Gio dan sahabatnya itu. Rara cuma mau bilang, selamat datang di kehidupan bernama rumah tangga kepada Luna dan Gio.
Memangnya menikah itu akan serba indah seperti yang mereka rasakan saat ini apa? Tidak Santoso, Markonah! Akan ada banyak badai yang menunggu untuk dilewati, entah itu datangnya dari orang luar, atau dari egoisme dalam diri mereka sendiri. Jadi ingatkan Gio dan Luna untuk mempersiapkan mental, airmata, dan juga kesabaran yang tiada batas.
Bersambung.
Jangan lupa tinggalkan like, dan komentarnya ya.
Love u All My Beloved Readers.
__ADS_1