Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Keputusan Yang Tepat


__ADS_3

Sementara itu Brian dan Lucas sudah setengah perjalanan menuju lokasi yang ditentukan oleh Justino, keduanya tampak sudah pasrah jika ini akan menjadi akhir dari kehidupannya.


Tidak ada pengawal, hanya mereka berdua. Semua ini dilakukan agar Justino mau melapaskan anak-anaknya. Mereka juga tidak membawa Julian seperti permintaan Justino, pria itu sudah mati bunuh diri beberapa bulan yang lalu, karena merasa tidak memiliki harapan untuk bebas.


"Semoga saja Justino mau diajak bernegoisasi. Aku rela memberikan seluruh hartaku asalkan dia bersedia melepaskan anak-anak, dan tidak mengganggu keluarga kita lagi," ujar Brian seraya menghembuskan napas berat.


"Aku pun berharap begitu, kita tidak bisa membiarkan anak-anak menjadi korban. Inilah kesalahan kita di masa lalu, Brian. Kalau dulu kita tidak suka mengampuni musuh, anak-anak kita pasti tidak akan mengenal dunia yang penuh kekerasan ini," sesal Lucas.


"Kau benar, jika saja aku masih diberikan kesempatan lain. Aku pasti akan menghabisi mereka semua, agar keluarga kita tidak dihantui orang-orang pendendam."


Tanpa terasa mereka pun sudah dekat dengan lokasi, Lucas mencondongkan tubuhnya kedepan. "Brian, kau lihat itu!"


Dari jarak sekitar 200-meter, tampak lima unit helikopter milik perusahaan jasa keamanan dari URM Group sedang membombardir gedung yang mereka tuju.


Pasukan pilihan yang dibawa Fanny tampak turun dengan tali dan saling berbalas tembakan dengan anak buah Justino yang sedang berjaga di luar gedung.


"Astaga ... mengapa dia tidak mendengar perkataaanku!" sesal Brian yang lantas melepaskan kekesalan dengan memukul kemudi mobilnya.


"Cepatlah, Brian ... kita harus segera tiba di sana, dan semoga saja Justino masih mau diajak bernegoisasi," desak Lucas.

__ADS_1


Brian menambah kecepatan laju mobilnya. Bagi mereka Fanny sudah melakukan tindakan yang paling ceroboh, tapi ini bukan saatnya untuk saling menyalahkan.


Saat tiba di depan gedung, Brian dan Lucas bergegas keluar dari mobil, mereka berlari memasuki gedung, tapi suara tembakan tidak terdengar lagi, sedangkan mayat anak buah Justino bergelimpangan di sana-sini.


Brian menghela napas lega saat melihat anak-anaknya sedang melangkah keluar gedung dalam keadaan selamat. Di saat yang sama Fanny juga turun dari helikopter dan menghampirinya.


"Sorry, Brian ... aku harus membuat keputusan. Kita kenal betul watak Justino, aku yakin dia tidak akan melepaskan satu pun dari kita, meskipun kalian sudah mengorbankan diri. Jadi aku memilih bertaruh untuk percaya pada kemampuan anak-anak dalam menjaga diri mereka sendiri," ujar Fanny sembari tersenyum menatap Gio, Sean, dan Sandy yang berjalan mendekat ke arah mereka.


"Aku harus berterimakasih padamu," sahut Brian, lalu mengalihkan pandangan pada anak-anaknya dengan perasaan lega.


"Kau terlalu meremehkan kemampuan anak-anak, Brother," ujar Dirga sembari menepuk bahu Lucas besannya.


"Sudah lama sekali kita tidak berkumpul dalam situasi seperti ini. Ah ... rasanya aku seperti kembali muda," celutuk Fanny yang berhasil mengundang tawa teman-temannya, sehingga suasana yang tadinya tegang itu menjadi sedikit cair.


"Sukurlah, kalian bisa menjaga diri!" Lucas menepuk bahu Gio saat putranya itu tiba di hadapannya, lalu menatap bangga pada Sean dan Sandy.


"Tuan, siapa wanita ini? Dia juga disekap oleh Justino." Kedatangan Jefry asisten Brian dengan membawa seorang gadis membuat orang-orang itu menoleh.


Gio menatap dingin, tangannya yang masih memegang senjata api itu terangkat ke depan.

__ADS_1


Doorr ... doorr!!


Dua tembakan yang dia lepaskan menghujam jantung Aline. Jefry yang terkejut pun melepaskan gadis itu, dia terjatuh dan menghembus napas terakhir.


Gio menundukkan kepala, menyesali dirinya yang penuh dengan dosa. "Aku seorang pembunuh, Dad. Aku sudah menghilangkan beberapa nyawa di hari pernikahanku." lirihnya.


"Kau melakukannya dengan sangat baik, Nak. Itu caramu melindungi keluarga." Lucas merangkul bahu putranya.


"Ya, kami pernah melakukan kesalahan dengan mengasihani musuh. Dan kau tidak mengulangi kesalahan kami." Brian menepuk bahu keponakannya.


"Ehmm, sepertinya kalian harus segera ke rumah sakit," ujar Fanny kepada tiga keponakannya yang babak belur. "Dan kau, Gi ... Luna menunggumu di sana!"


"Biar kami yang mengurus perkara ini dengan pihak berwajib," imbuh Dirga.


Gio mengangguk, saat ini pikirannya memang mencemaskan Luna, dia ingin tahu kabar terkini istrinya.


Lalu mereka yang sudah tidak memiliki kepentingan pun beranjak meninggalkan tempat tersebut.


Bersambung.

__ADS_1


Ikuti terus kelanjutannya, ya. Terimakasih.


__ADS_2