
"Ya ampun, Gita! Kok masih belum siap juga sih, Nak. Ini sudah jam berapa? Nanti kita terlambat, loh ...." Luna mendesah berat saat melihat putrinya masih duduk santai di depan meja rias.
Luna memasuki kamar tersebut, lalu berdiri di samping putrinya.
Saat ini Gita sudah tumbuh menjadi gadis cantik berusia 19-tahun. Dan rencananya dalam beberapa hari kedepan dia akan segera bertunangan dengan Rio.
"Sayang, kok nggak semangat gini sih? Harusnya kamu bahagia, hari ini Rio pulang, dan sebentar lagi kalian akan bertunangan dan menikah," tegur Luna.
"Mom," panggil Gita.
"Iya, kenapa Sayang?" tanya Luna.
"Apa ini nggak terlalu cepat ya?"
"Maksud kamu, Sayang?" Luna mengkerutkan dahi.
"Iya, sekarang ini umur Gita masih 19-tahun. Akan tunangan dan segera menikah, sementara Gita masih kuliah semester tiga. Apa itu nggak terlalu cepat?"
"Lho ... lebih cepat itu lebih baik, Sayang. Apa kamu udah nggak sayang lagi Kak Riomu itu? Apa kamu mau dia direbut orang?" goda Luna menakut-nakuti putrinya.
Gita memberengutkan wajah saat membayangkan apa yang dikatakan ibunya. "Mommy jangan ngomong yang aneh-aneh deh, nanti kalau Kak Rio beneran direbut orang gimana?"
Mengingat Rio adalah salah satu pemuda paling diminati wanita versi berbagai majalah gosip, jelas saja apa yang baru saja dikatakan Luna bukan sebatas isapan jempol.
Luna merangkul putrinya. "Nah, makanya. Kalau takut Rio diambil orang, jangan berpikir untuk menunda pertunangan kalian. Lagi pula acaranya sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari, kenapa malah mau ditunda?"
"Gita bukan mau menunda pertunangan, Mom. Hanya saja Gita merasa terlalu cepat, Gita masih terlalu muda untuk menikah."
"Nggak ada hal baik yang terlalu cepat, Sayang. Dulu Oma Delia juga menikah saat masih kuliah, buktinya oma dan opa kamu bisa langgeng, dan hidup bahagia sampai sekarang."
"Iya, Mom ... Gita ngerti. Ya udah, Mommy keluar dulu gih, kapan Gita mau selesai dandannya, kalau diajakin ngomong terus."
"Oke, nggak pake lama ya. Nanti kita terlambat."
"Iya, Mom, bawel ...."
Luna melangkah keluar dari kamar putrinya, membiarkan Gita menyelesaikan dandanannya.
Gita menantap pantulan dirinya di depan cermin, entah mengapa gadis ini merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.
Benar, dia dan Rio memang saling menyayangi. Teruntuk Rio, pemuda itu selalu menjaga dan melindunginya sejak kecil, dia memperlakukan Gita layaknya sebuah permata.
__ADS_1
Namun, ada yang aneh dengan hubungan mereka. Kasih sayang Rio yang Gita rasakan, lebih seperti kasih sayang seorang kakak kepada adiknya, bukan seperti kasih sayang seorang pria pada kekasihnya.
Mereka sudah diberitahu tentang perjodohan sejak beberapa tahun yang lalu, tapi tetap saja cara Rio memperlakukannya tidak berubah.
Saat bertemu, Rio akan memeluk dan memberi kecupan di puncak kepala Gita. Saat berjalan, Rio akan menggenggam erat tangannya.
Tapi hanya itu saja, tidak pernah lebih. Rio bahkan tidak pernah mencium bibir Gita walau sekilas.
Benar-benar seperti hubungan kakak-adik, bukan?
Hingga di usia Gita yang kita kini menginjak 19-tahun, gadis ini sama sekali belum pernah merasakan seperti apa rasanya berciuman bibir.
Ah, sebentar. Tadi itu Gita pasti lupa, sebelumnya dia pernah berciuman satu kali, saat terjadi insiden kesalah-pahaman di Jembatan Harapan, di Paris.
Tapi itu bukan dengan Rio!
Akhirnya Gita pun selesai dengan dandanannya, lalu gadis keluar kamar, menuruni tangga menuju ruang keluarga.
"Yuk, Mom ... berangkat!" ajak Gita.
Luna mengangguk, mereka akan pergi ke bandara untuk menyambut kepulangan Rio dari Amerika.
Beberapa saat menunggu di bandara, sosok yang dinanti pun akhirnya muncul. Rio yang kini sudah tumbuh menjadi pria dewasa itu, tampak sangat gagah dengan tubuhnya yang tinggi besar.
Di samping Rio tampak seorang gadis yang seumuran dengannya. Gadis yang juga sudah tumbuh dewasa ini tak lain adalah Laura Purnama, anak angkat Luna.
Mereka berdua ini sama seperti amplop dan perangko, di mana ada Rio pasti ada Laura. Ke mana-mana selalu bersama, saling melengkapi satu sama lain.
"Apa kau tidak cemburu Laura terus bersama Rio setiap hari, Sayang?" bisik Luna pada Gita dengan maksud menggoda putrinya tersebut.
"Ya, nggak lah, Mom. Lagian mana mungkin Kak Lala tega mengkhianati Gita, mengkhianati keluarga kita," sahut Gita santai.
Satu lagi yang aneh, Gita tidak pernah cemburu meski tahu setiap harinya Rio selalu bersama Laura.
Bukan begini sifat alami seorang wanita yang sedang jatuh cinta. Bagaimanapun Laura adalah gadis dewasa, dia cantik, pintar, dan juga baik.
Jadi tidak menutup kemungkinan Rio akan jatuh cinta. Seperti kata pepatah, cinta akan tumbuh sendiri seiring berjalannya kebersamaan.
Namun, kekhawatiran itu sama sekali tidak ada di benak Gita.
"Mama sehat?" Rio langsung memeluk Rara begitu ia sampai.
__ADS_1
"Tidak pernah sesehat ini, Sayang," jawab Rara sembari membalas pelukan putranya.
"Mom, Laura kangen." Laura juga memeluk Luna.
"Mommy juga, Sayang," balas Luna lalu mencium pipi kanan dan kiri anak angkatnya.
Kemudian Laura berpindah memeluk Rara, begitu juga dengan Rio yang langsung memeluk onty Lunanya. Disusul Laura yang melepas rindu dengan Gita, adiknya.
Terakhir, barulah Rio menghampiri calon tunangannya. Seperti biasa, Rio akan merangkul lalu mengecup puncak kepala Gita.
"Gita rindu, Kak!" rengek Gita manja.
"Kakak juga merindukanmu tentunya!" balas Rio.
Lalu mereka berlima beranjak meninggalkan bandara. Laura sengaja satu mobil bersama Luna dan Rara, memberi kesempatan bagi Gita dan Rio untuk berdua saja.
"Kak," tegur Gita, saat ini mereka sudah berada di dalam mobil menuju mansion Richard.
"Iya, kenapa?"
"Bagaimana kehidupan kita nanti setelah menikah?"
Rio terkekeh, lalu mengacak-acak rambut Gita. "Mana aku tahu, kita jalani saja. Tidak perlu memikirkan sesuatu yang masih jauh di depan sana."
"Iya, Kak. Kau benar."
Lalu keduanya terdiam, hanyut dalam pikiran masing-masing.
Akankah mereka hidup bahagia jika jadi menikah nanti? Tidak ada yang tahu.
Tapi yang jelas keduanya pasti akan saling menjaga perasaan masing-masing, agar tidak ada yang tersakiti. Karena sebelumnya pun mereka adalah keluarga, yang saling menyayangi satu sama lain.
End.
Kira-kira nanti Rio jadi nikah sama Gita, atau kebersamaan dengan Laura akan menghadirkan cinta? Atau Rio malah dengan? Siapa ya, hehe ....
Ikuti kisah Rio, Gita dan yang lainnya setelah dewasa di novel berjudul "Gadis Malang Pilihan CEO" ya. Tinggal ketik judul di kolom pencarian, atau klik daftar karya di profil aku juga bisa kok.
Yuk pada mampir, covernya seperti gambar di bawah ini yaππΌππΌππΌ
__ADS_1