
Gio dan Luna tiba di makam Giselle, makam ini tampak begitu terawat karena Luna sering datang ke sini untuk berziarah.
Luna meletakkan buket bunga yang dibawanya di sisi nisan, lalu berjongkok di samping makam temannya itu.
Luna memejamkan mata sambil melipat bibir, bersamaan dengan hembusan napas yang ia lepaskan perlahan. "Gissele ... aku selalu berdoa agar kau mendapat tempat terbaik di sisiNya. Sekarang renovasi rumah untuk panti asuhanmu hampir selesai, dan seharusnya bisa diresmikan dalam waktu dekat. Aku berdoa agar setiap kebaikan yang kau tinggalkan di sini, akan menjadi ladang kebahagiaan untukmu di sana."
"Oh, ya, satu lagi ... aku dan Gio akan menikah. Doakan agar kami baik-baik saja, ya. Mohon restunya juga," imbuh Luna.
Gio yang berjongkok di seberang Luna mengusap nisan Giselle. "Maaf, aku dua gagal melindungimu. Aku harap kau tidak menaruh dendam padaku, aku berdoa untuk kebahagiaanmu di sana."
"Giselle, aku pamit, ya. Ini sudah sore, aku janji akan sering datang mengunjungimu." Luna mengusap nisan Giselle, kemudian berdiri.
Gio juga berpamitan, sepasang kekasih itu lantas meninggalkan area pemakaman.
Mereka langsung menuju apartemen Luna. Ketika sampai di parkiran gedung, Luna melirik heran karena Gio juga ikutan membuka seat beltnya.
"Kau mau ke mana?"
"Tentu saja ikut ke apartemenmu," sahut Gio sambil menampakkan seringai jahilnya.
Luna menggelengkan kepala. "Jangan, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Lusa kita sudah berangkat, aku tidak ingin Wina kelimpungan karena pekerjaan yang menumpuk!"
Luna sudah tahu modus calon suaminya itu, Gio tidak akan pernah berhenti untuk mengerjainya. Bahkan Luna terkadang sangat malu karena sering tertangkap basah sedang bemesraan oleh bi Eni.
"Baiklah, aku tidak jadi ikut ke apartemenmu." Gio memasang wajah meradang.
Detik kemudian Gio mencondongkan tubuhnya hingga tatapan mereka saling mengunci, di saat jarak semakin dekat Gio langsung meraup bibir Luna yang menjadi candunya itu. Rasanya manis, lembut, hangat, dan tentu saja menggairahkan, yang membuat Gio selalu ketagihan untuk menghisapnya.
Gio memperdalam ciumannya, lidahnya menari dengan sensual di dalam rongga mulut wanitanya. Dengan mata terpejam Luna membalas setiap belitan yang dilakukan Gio, menikmati sensasi yang membuat tubuhnya memanas.
Luna melepaskan pagutannya, dia menatap mata Gio yang berubah sayu dengan napas yang masih menderu. "Sudah puas? Sisanya setelah nikah!"
__ADS_1
Gadis itu terkekeh sembari bergegas turun dari mobil, dia tahu Gio pasti akan mengulangi kegiatan barusan jika dia masih tetap di sana.
Sementara itu Gio yang ditinggalkan Luna terenyum jahil sembari memandangi gadisnya yang semakin menjauh. Saat ini saja dia tidak pernah puas bermesraan dengan Luna, entah apa yang terjadi saat mereka sudah menikah nanti, mungkin dia tidak akan membiarkan Luna bebas walau hanya sedetik saja.
***
Palermo, Sisilia, Italia.
Palermo, yang dalam bahasa kuno disebut Panormus, adalah Ibukota provinsi Sisilia di Negara Italia. Daerah ini terkenal dengan daratannya yang subur, dan disebut Conca d'Oro 'Cangkang Emas', di mana orang akan disuguhkan hamparan kebun jeruk nan luas di kaki Gunung Pellegrino. Dari Monte Pellegrino orang-orang juga dapat mencuci mata dengan suguhan pemandangan kota yang indah, dan Laut Mediterania yang sangat memukau mata.
Selain memiliki pemandangan alam yang memukau, dan garis pantai yang eksotis untuk dijelajahi. Palermo juga memiliki beberapa destinasi kuno yang sarat akan sejarah seperti Katedral Palermo, Capella Palatina, Palazzo dei Normanni, dan tempat lainnya yang tak kalah memanjakan mata.
Namun, kedatangan Vita ke sini bukan untuk berwisata, ya kan? Setibanya di penginapan, dia langsung berusaha untuk menggali informasi tentang adik Julian.
Selain kaya akan destinasi wisata, Sisilia juga sangat terkenal sindikat mafianya, dan yang paling tersohor adalah Cosa Nostra. Sindikat mafia besar yang begitu menakutkan. mereka adalah dalang di balik perdagangan obat-obatan terlarang, senjata, pemerasan, pembunuhan, prostitusi, hingga mengolok-olok sistem pemerintahan di Italia yang lamban (Kira-kira dibanding Indo lebih lamban mana, ya? hehe ....).
Cukup sulit bagi Vita menemukan lokasi adiknya Julian, karena mafia di Sisilia terkenal akan kode etiknya yang disebut omerta, yang artinya setiap anggota berkewajiban tutup mulut dan dituntut kesetiaan penuh. Berani berkhianat atau membocorkan informasi kepada musuh, maka nyawa akan menjadi taruhannya. Tdak sampai disitu, mereka juga tidak segan menghabisi keluarga si pembelot.
Setelah 2-hari menggali informasi, ditambah bantuan dari seorang teman saat kuliah di Italia, Vita berhasil mendapatkan alamat villa kediaman Justino adik Julian, dan dia pun bergegas menuju lokasi.
Vita dicegat oleh pengawal Justino saat hendak memasuki gerbang Villanya. "Vi è vietato entrare!"
"Katakan pada bossmu, aku datang dengan informasi penting," sahut Vita santai.
Pengawal itu tampak mengernyit. "Informasi apa?"
"Informasi yang hanya ingin aku sampaikan secara langsung pada Justino," sahut Vita.
"Tidak bisa, Nona ... setidaknya katakan tentang apa!" pinta pengawal tersebut.
"Ini tetang Julian, apa bossmu tidak ingin mendengar kabar tentang kakaknya yang menghilang begitu saja? Ya ... jika bossmu itu tidak mau menemuiku pun tidak masalah, aku pulang saja," ujar Vita.
__ADS_1
"Sebentar, Nona. Saya akan hubungi Tuan." Pengawal itu mencegah Vita yang berpura-pura ingin pergi.
Vita mengganguk, pria tersebut menghubungi seseorang. Mereka berbicara dalam bahasa Sisilia yang tentu saja dapat dimengerti dengan baik oleh Vita.
Setelah memutuskan sambungan telepon, pria itu pun membawanya ke dalam Villa, dia diantarkan menuju ruangan Justino.
"Apa yang kau ketahui tentang Julian? Dan apa yang kau inginkan?" tanya Justino dengan suara rendah.
Vita meneguk salivanya, pria yang ada di hadapannya ini memiliki aura dingin, tenang, dan sama sekali tidak terbaca.
"Aku tidak mengharapkan apa-apa darimu. Bagiku, musuh dari musuhku adalah temanku," sahut Vita.
Justino mengangguk pelan. "Baiklah, katakan di mana Julian!"
Selama ini Justino memang sudah berusaha mencari keberadaan kakaknya itu, tapi dia tidak berhasil mendapatkan informasi apa pun. Yang dia tahu kakaknya pergi ke sebuah Negara di Asia selepas keluar dari penjara, lalu menghilang begitu saja.
"Aku tidak tahu entah Julian masih hidup atau tidak, tapi yang pasti dia disekap di ruang rahasia milik URM Group," ujar Vita, tentu saja dia tahu Julian pasti disekap di sana, karena ia sendiri pun pernah di siksa oleh keluarga Richard di sana, sebelum dijebloskan ke penjara.
"Jadi Julian pergi ke asia karena berurusan dengan keluarga itu?" Kali ini Justino tampak mengeraskan rahangnya, baginya berurusan dengan keluarga Richard ataupun Morelli tanpa persiapan matang adalah tindakan bodoh, dan itulah yang sudah dilakukan kakaknya.
Vita mengangguk. "Aku yakin kau ingin membalas perbuatan mereka terhadap kakakmu, bukan? Seharusnya informasi yang aku berikan sudah cukup bagimu untuk menentukan pergerakan."
Vita lantas berdiri dari tempat duduknya. "Baiklah, karena tujuanku ke sini sudah selesai, aku pamit!"
Justino tampak mengekerutkan dahi. "Jadi kau tidak mengharapkan apa-apa dariku?"
Vita menggelengkan kepala. "Tidak, balaskan saja dendammu dengan jalanmu, dan aku akan bergerak dengan caraku sendiri. Kau pasti paham betul, kita memiliki perbedaan cara dalam memecahkan masalah, hanya saja musuh kita kali ini adalah orang yang sama."
Justino berdiri dari tempat duduknya. "Baiklah, terimakasih atas informasimu!"
Bersambung.
__ADS_1
Ikuti terus kisah selengkapnya, ya.