Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Semakin Retak


__ADS_3

Gio menatap pilu pada Luna yang terbaring lemah di atas ranjang pasien, wajah istrinya itu terlihat pucat setelah kehilangan banyak darah.


"Gi," panggil Luna seraya mengulurkan tangannya.


"Iya, Luna." Gio menyambut uluran tangan Luna yang kemudian digenggamnya erat sebelum duduk di samping istrinya itu. "Bagaimana keadaanmu, Lun? Bagian mana yang sakit?"


Luna menggelengkan kepala. "Tidak ada, Gi. Aku sudah baik-saja."


"Apa kau ingin sesuatu?"


"Aku tidak ingin apa-apa, Gi. Aku cuma ingin kau di sini, jagain calon anak kita, aku takut kita akan kehilangannya," lirih Luna.


"Tidak, Lun. Tidak akan terjadi apa-apa pada anak kita. Aku, kamu, kita akan menjaganya, dia akan baik-baik saja," ucap Gio menenangkan kekhawatiran Luna.


"Terimakasih, Gi."


"Sudah menjadi kewajibanku, My Kwen!" Gio mengusap kepala Luna. "Benar, kau tidak menginginkan sesuatu?"


"Aku haus," kata Luna.


"Tadi kau bilang ingin apa-apa," protes Gio, yang dibalas senyuman kecil dari Luna.


Gio mengambil air mineral, dia tuangkan air itu ke dalam gelas untuk diberikan pada istrinya. Gio menaikkan stelan brankar Luna sebelum memberikan air tersebut.


"Minumlah," kata Gio.


Luna menyesap air itu hingga setengahnya, sebelum mengembalikannya pada Gio.


"Turunkan lagi brankarnya, aku ingin tidur," pinta Luna.


"Baiklah." Gio menuruti permintaan Luna, kemudian duduk di samping ranjang untuk menemani istrinya. "Tidurlah, aku akan di sini menjagamu."


Luna mengangguk, perlahan matanya tertutup dan tak lama kemudian ia pun mulai terlelap.


***


Seminggu sudah berlalu sejak insiden terakhir yang membuat Luna nyaris keguguran, Vita mengendurkan sedikit aksinya. Dia tidak ingin ceroboh dan membuat pekerjaannya sudah setengah jalan menjadi gagal.


Hari ini Luna dan Rara datang ke panti asuhan, karena ada janji temu dengan seorang donatur. Setelah memberikan apa yang Rio inginkan, Vita pun membisikkan tugas yang harus dilakukan Rio.


Saat ini Luna dan Rara ditemani suaminya masing-masing sedang berkeliling panti. Sembari terus menjelaskan apa saja program yang akan dijalankan yayasan ini kepada calon donatur.


Rio yang sedang main kejar-kejaran bersama teman-temanya, tiba-tiba berlari ke arah mereka.

__ADS_1


Jedugg ....


"Sakiiiiit ...." Luna menjerit histeris sambil memegangi perutnya.


Luna terduduk di lantai sedetik setelah tertabrak Rio, insiden ini membuat perut Luna terkena hantaman keras kepala Rio, akibatnya dia pun kembali mengalami pendarahan, dan kali ini jauh lebih parah.


Rio mematung di tempatnya, sedangkan anak-anak panti yang menjadi temannya bermain kejar-kejaran tadi, menyaksikan insiden ini dengan wajah pucat ketakutan.


"Ya, Tuhan!!" Betapa paniknya Gio saat melihat istrinya kembali mengalami pendarahan. Tanpa mempedulikan orang di sekitarnya, Gio langsung membawa istrinya itu ke rumah sakit.


Vita yang mengawasi mereka tersenyum puas. 'Kali ini kau pasti akan kehilangan janinmu itu,' gumamnya sembari tersenyum licik


Sementara itu Rara menjadi syok dengan kejadian ini. Sedangkan Sean memandangi putranya dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Rio ... apa yang kau lakukan, Nak? Kau baru saja mencelakai onty Luna," lirih Rara tidak habis pikir.


"Aku tidak sengaja Mama," sahut Rio tenang.


Sean menggelengkan kepala. Anaknya memang salah, tapi insiden tabrakan tadi bukan kesengajaan. Rio sedang bermain bersama teman-temannya. Mereka semua yang ada di sana juga menyaksikan itu.


Setelah berpamitan pada calon donatur, mereka pun menyusul Gio dan Luna ke rumah sakit.


***


Tidak ada yang bisa dia lakukan selain mengutuk diri sendiri. Berkali-kali dia mengusap rambutnya dengan kasar, memukul tembok, dia butuh pelampiasan karena merasa sudah lalai menjaga Luna. Padahal sebelumnya dia sudah diberi peringatan, bahwa kandungan Luna itu lemah.


"Bagaimana keadaan Luna, Gi?" Adalah Rara yang baru tiba di rumah sakit bertanya.


Gio menoleh, matanya langsung berkilatan marah saat melihat keberadaan Rio bersama Sean dan Rara.


"Ini karena ulah anakmu, Sean! Dia sengaja ingin membunuh anakku!" raung Gio dengan kedua tangan yang sudah mengepal di sisi tubuhnya.


Bugghh ....


Satu pukulan Gio mendarat di rahang Sean, membuat bibirnya pecah dan mengeluarkan darah segar.


Tidak puas memukul Sean, Gio kembali mengulurkan tangan untuk menyambar kerah baju Rio.


Untung saja Sean masih sigap menepis tangan sepupunya itu, kemudian mendorong Gio menjauh dari Rio.


"Aku tahu kau sedang marah, Gi! Aku biarkan kau memukulku untuk melampiaskan kekesalan! Tapi jangan sentuh anakku, dia tidak bersalah!" seru Sean mengeraskan suaranya.


"Tidak bersalah bagaimana maksudmu? Anakmu sudah membuat istriku celaka, bahkan ini untuk yang kedua kali!" balas Gio tak kalah keras.

__ADS_1


"Kau pun menyaksikan kejadian tadi dengan mata kepalamu sendiri, kan? Rio tidak sengaja menabrak Luna, dia hanya sedang bermain kejar-kejaran bersama temannya!"


Gio yang sudah kalap tidak mampu lagi menahan emosinya, dia kembali melayangkan pukulannya ke arah Sean. Kali ini Sean tidak tinggal diam, sehingga perkelahian antar saudara itu pun tak lagi terhidarkan.


Melihat kedua orang itu berkelahi, Rara pun menjadi panik, dia tidak tahu harus bagaimana untuk melerainya, tapi tidak mungkin juga membiarkan mereka terus baku pukul.


"Tolong ... tolong!" Pada akhirnya Rara memilih berteriak.


Mendengar teriakan Rara, dokter Alya yang sedang mengawasi tim medis meberikan penanganan untuk Luna pun keluar dari ruang rawat. Dia tersentak melihat Gio dan Sean sedang adu jotos.


"Hentikan! Apa-apaan kalian ini?" geramnya menengahi perkelahian itu.


Mulut Gio dan Sean sempat terbuka hendak memarahi orang yang melerainya. Tapi langsung menutup kembali setalah mengetahui siapa yang ada di hadapannya.


"Memalukan! Apa kalian sudah tidak memiliki rasa malu sehingga membuat keributan di rumah sakit?" geram wanita paruh baya itu.


"Anaknya sudah mencelakai istriku, Onty. Anaknya sengaja ingin membuat Luna kehilangan calon anak kami," geram Gio sembari menghapus darah dari sudut bibirnya.


"Sengaja bagaimana maksudmu? Sudah jelas Rio sedang bermain bersama teman-teman sebelum menabrak istrimu!" balas Sean tidak terima, dia juga memiliki sedikit robek di bagian pelipisnya.


"Sudah, sudah! Apa gunanya kalian berdebat? Lalu apa kalian pikir keadaan akan membaik dengan membuat keributan?" sela dokter Alya kesal, "Dan kau Sean, pergilah bawa anak dan istrimu pulang. Kalian bisa kembali ke sini lagi setelah keadaan lebih kondusif!"


"Onty Alya benar, pulanglah lebih dulu, bawa Rio. Aku akan di sini untuk menemani Luna," ujar Rara pada suaminya.


"Kau pun tidak aku izinkan menemui istriku! Sana pulang kalian semua!" usir Gio.


Rara mengkerutkan dahi, sebelum membalas perkataan Gio, "Apa maksudmu melarangku seperti itu? Apa kau pikir hanya kau saja yang khwatir pada Luna? Aku saudaranya, aku lebih khawatir padanya!"


"Kau tidak berhak menemuinya, akulah yang berhak menjaganya, aku suaminya!" balas Gio sengit.


Dokter Alya menghela napas berat, jika terus dibiarkan maka perdebatan ini tidak akan ada akhirnya. Dia kemudian merangkul Rara menjauh dari Gio.


"Sudahlah, Ra ... lebih baik kau pulang dulu bawa suami dan anakmu. Tidak ada gunanya kalian terus berdebat. Untuk saat ini lebih baik kalian meredakan emosi masing-masing terlebih dulu," bujuknya pelan.


Akhirnya Rara pun mengalah dan pergi dari sana, meninggalkan Gio dan dokter Alya di ruangan tersebut.


"Onty harap kau bisa berpikir lebih jernih, Gi! Saat ini istrimu sedang kritis, berdoalah untuk kebaikannya!" pesan dokter Alya dengan suara datar sebelum kembali ke ruang rawat.


Gio menghela napas panjang, kemudian melepaskannya pelan-pelan. Rasa cemas bercampur marah membuatnya sulit untuk berpikir jernih.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like, dan komentarnya ya.

__ADS_1


Salam hangat, terimakasih.


__ADS_2