Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Rio Lebih Menderita


__ADS_3

Dalam keadaan yang masih lemah karena baru saja sadar, Rara menoleh ke samping. Keberadaan Rio memaksa memori di kepalanya bekerja dengan cepat, mengingat kembali kejadian na'as yang membawanya ke rumah sakit ini.


Sorot mata Rara yang masih layu, berubah ketakutan ketika melihat Rio hendak mendekat.


"Pergi kamu, pergi ... jangan dekat-dekat, pergi!" jerit Rara histeris.


Meski suaranya terdengar lemah, tapi intonasinya jelas mengambarkan bahwa dia trauma melihat keberadaan Rio. Tatapan matanya juga menyiratkan kebencian pada anak itu.


"Mama, maafin Rio." Anak itu terisak.


"Pergi kamu, aku tidak mau melihat kamu di sini, kamu pembunuh!" Rara semakin histeris saat Rio berusaha mendekat.


"Mama ...." Napas Rio tercekat mendapat penolakan dari mamanya.


Tidak ingin kondisi psikis Rio yang baru mulai sembuh kembali terpuruk, Luna pun berinisiatif membawa anak itu keluar.


"Kamu jagain Rara di sini, biar aku yang tenangin Rio," ujar Luna pada Sean.


Sean mengangguk, dia bergegas naik ke atas brankar untuk menenangkan istrinya


Luna lantas menarik Rio keluar, mata anak itu berkaca-kaca dan belum juga terlepas dari mamanya. Dia sedih mengetahui ia dibenci oleh mamanya sendiri.


"Hei, tenanglah ... ada aku di sini, kamu tidak akan kenapa-kenapa," bujuk Sean seraya mendekap istrinya.


"Aku tidak mau melihat anak itu, Sean. Usir dia jauh-jauh, dia pembunuh!" isak Rara yang masih histeris.


"Ra, anak kita tidak salah, dia juga korban, sama sepertimu. Bahkan dia lah yang paling menderita di antara kita. Dia sakit, Ra ... dia sudah berjuang keras untuk sembuh seperti sekarang, kamu jangan membencinya. Sekarang kamu tenang dulu, aku akan panggilkan dokter untuk periksa keadaan kamu. Nanti aku akan ceritakan semuanya, tolong jangan membenci anak kita, Ra ...." bujuk Sean sambil mengusap punggung istrinya.


Di ruang tunggu, Rio tampak terpukul mengetahui kehadirannya tidak diinginkan oleh mamanya. Anak itu menunduk sambil menangis sesunggukan.


"Rio jangan nangis lagi, mama seperti itu karena lagi sakit, nanti kalau mama sudah sembuh, dia bakal baik lagi kok sama Rio, jadi kamu jangan sedih lagi," bujuk Luna mencoba menenangkannya.


"Tapi mama benci sama Rio," lirihnya.


"Bukan, Sayang ... mama nggak bakal benci sama kamu, percaya sama onty."

__ADS_1


"Lihat uncle, anak laki-laki itu tidak boleh cengeng. Kamu kuat, kan? Jadi sekarang kamu harus sabar nungguin mama kamu sembuh." Gio membantu menenangkannya.


"Aku punya milkshake, kamu mau nggak?" Laura menyodorkan satu cup minuman rasa vanila kesukaan Rio.


"Tuh, Rio main sama Laura dulu ya. Onty mau ke dalam dulu lihat mama kamu," bujuk Luna.


Setelah Rio mengangguk, Luna pun kembali ke ruang rawat. Di sana Rara sedang diperiksa oleh dokter.


Semua orang bernapas lega, setelah dilakukan tes pupil mata, tes denyut nadi, semuanya dinyatakan sudah stabil, dan tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan dengan kondisi Rara, dia hanya perlu bedrest selama beberapa hari.


Luna mendekati Rara setelah dokter selesai melakukan tugasnya dan pamit. Sean menahan Luna sebelum ia sampai ke brankar Rara.


"Jangan katakan padanya jika aku hampir menembak Rio. Aku takut dia akan terpukul mendengarnya," bisik Sean pelan.


Luna tersenyum miring, lalu menjawab dengan santai. "Iya, kau tenang saja, makanya belajarlah untuk mengendalikan emosimu."


Luna mendudukkan diri di atas brankar Rara, sementara itu Sean duduk di kursi sampingnya.


"Bagaimana perasaanmu, Ra?" tanya Luna.


"Ya, rasanya masih aneh, seluruh tubuhku lemas. Tapi semoga saja aku cepat pulih kembali," sahut Rara, lalu pandangan matanya memindai perut Luna yang sudah membuncit. "Lun, perut kamu?"


Rara meraba perut sendiri sambil menundukkan pandangan. Sama seperti Luna, perutnya juga sudah membuncit. Lalu ia mengalihkan pandangan pada suaminya.


"Sean?"


"Ya, My Cherry. Kau koma selama tiga bulan lebih, jadi saat ini usia kandunganmu sudah memasuki bulan ke enam," sahut Sean sambil menggenggam erat tangan istrinya.


"Anak kita?" Rara kembali meraba perutnya karena merasa khawatir.


"Anak kita kuat, Sayang ... sama seperti mamanya. Aku selalu menjaganya dan mengajaknya bicara selama kau tidur," jawab Sean lagi.


"Lalu Caca?"


"Dia juga baik-baik aja, Ra. Selama ini aku ikut merawatnya. Dan aku tinggal di mansionmu selama kamu berada di sini, aku tidak bisa mempercayakan penyembuhan Rio pada psikolog," ujar Luna.

__ADS_1


Mendengar nama putra sulung itu disebut, Rara mendengkus kesal bersamaan dengan tatapan matanya yang menyiratkan kebencian.


"Apa kau belum cerita, Sean?" tanya Luna.


Sean menggeleng. "Belum sempat."


"Ra, semua musibah yang kita alami, yang menimpa aku, kamu dan Rio. Itu semua bukan karena kenakalan Rio, bahkan di sini Rio lah yang menjadi korban utamanya," terang Luna.


Rara kembali mendengkus. "Korban? Bagaimana bisa dia disebut korban? Sementara dia adalah pelakunya! Dia memang masih anak-anak, Lun. Tapi perbuatannya sudah kelewat batas. Dan jika semua ulah yang dilakukan Rio membuatnya disebut sebagai korban, lalu siapa yang pantas disebut pelakunya? Iblis? Lantas kita akan mengarang cerita, bahwa dia melakukan semua itu karena dirasuki roh jahat, seperti itu?"


"Ya, dia memang dirasuki iblis, namanya Vita," sahut Luna menekankan nama adik tiri Rara itu.


"Vita?"


"Ya, mantan kekasih suamimu itu berhasil keluar dari penjara, lalu menyusup ke tengah-tengah kita ...."


"Kenapa aku dibawa-bawa?" Sean memotong ucapan Luna sambil melotot kesal.


Luna tidak menggubris, dia kembali melanjutkan penjelasannya. "Guru les panti yang kamu dapat itu, dia Vita. Dia mencekoki Rio dengan obat-obatan terlarang sampai kecanduan. Setelah Rio menjadi ketergantungan, dia menjadikannya sebagai boneka untuk mencelakai kita."


"Hah?"


"Rio jauh lebih menderita daripada aku ataupun kamu, Ra. Aku hanya masuk rumah sakit selama beberapa hari, kamu tertidur di sini selama tiga bulan. Tapi Rio, selama tiga bulan ini dia menderita, Ra. Dia menahan sakit setiap hari, dia berjuang keras untuk terlepas dari tinggkat kecanduannya sudah sangat tinggi. Bayangkan, Ra. Anak sekecil Rio harus menanggung semua itu, sementara dia sendiri baru genap satu tahun pasca menjalani bedah craniotomi." Luna mengakhiri penjelasannya.


Mendengar semua itu Rara menutup mulutnya, lalu menangis sesunggukan.


"Kamu jangan menangis, Sayang. Anak kita sudah sembuh, dia jauh lebih kuat dan hebat daripada yang kita bayangkan." Sean mempererat genggamannya.


"Lalu Vita, apa dia sudah tertangkap? Apa dia sudah dipenjara lagi?" tanya Rara dingin, menguap tak berbekas sudah semua rasa sayang, dan iba yang ia miliki untuk adiknya itu.


"Aku sudah mengirimnya ke neraka! Itu lebih baik untuknya daripada dipenjara," jawab Luna.


Rara menyipitkan mata. "Maksudmu mengirimnya ke neraka?"


Bersambung.

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like, dan komentarnya.


Terimakasih.


__ADS_2