Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Petaka Hari Pernikahan


__ADS_3

"Waktu berjalan begitu cepat ya, Kak. Rasanya baru kemarin aku naik ke atas panggung melemparkan buket bunga sebagai seorang pengantin," gumam Delia dengan sorot mata yang terus tertuju ke atas panggung.


"Kamu benar, Delia. Bahkan sekarang ini kita sudah menjadi nenek-nenek," sahut Lidya.


"Dan kita adalah nenek-nenek paling kece di dunia ini," timpal Karin seraya merangkul kedua wanita yang merupakan besan dan sahabatnya itu.


"Sayangnya sampai sekarang putraku belum menikah," celutuk Alya dengan nada mengeluh.


"Putriku pun ... dia terlalu asik dengan karirnya sampai lupa untuk menikah," timpal Fanny, matanya menatap kesal ke arah Noemi yang kini tengah berdesakan dengan tamu lainnya untuk berebut bunga.


Ketiga wanita paruh baya yang lain pun tertawa geli mendengar kedua temannya itu bersungut-sungut.


Tak lama kemudian terdengar hitungan dari atas panggung, Gio dan Luna membelakangi panggung lalu dalam hitungan ketiga melemparkan buket bunga tersebut ke arah kerumunan.


"Fanny, Alya, harusnya kalian jodohkan saja dua orang itu," celutuk Lidya sambil tersenyum geli melihat keributan di bawah panggung.


Kini mata kelima wanita itu pun tertuju pada Sandy dan Noemi yang tengah berdebat sengit, hanya demi memperebutkan bunga yang baru saja dilempar Gio dan Luna.


"Ide bagus, lagi pula mereka sudah saling kenal dan akrab sejak kecil," timpal Delia.


"Akrab bagaimana? Mereka selalu ribut setiap kali bertemu," sanggah Fanny.


"Benar, putraku yang kaku itu mana cocok sama Noemi yang ceria," imbuh Alya.


"Apa kalian lupa? Biasanya dua karakter yang bertolak belakang itu akan menjadi jodoh," ujar Karin.


"Entahlah!" Fanny dan Alya kompak menggidikkan bahunya.


Sementara para wanita baruh baya itu merencanakan perjodohan. Kehebohan tiba-tiba terjadi dari atas panggung, Gio tampak sedang menggendong Luna dengan panik. Membuat kelima wanita itu tersentak lalu segera mendekati panggung.


"Apa yang terjadi?" tanya Delia pada putranya.


"Entahlah, Mom ... mungkin Luna kelelahan dan akhirnya pingsan, aku akan membawa ke kamar untuk beristirahat," sahut Gio cukup tenang, berusaha menutupi kecemasannya.


"Tidak, langsung bawa dia ke rumah sakit! Luna itu fisiknya tidak lemah, jadi dia tidak mungkin pingsan jika bukan terjadi masalah pada kesehatannya!" Rara yang sudah berada di sana langsung menyela.


Alya yang merupakan seorang dokter, segera memeriksa denyut nadi di lengan Luna. "Ya ... Tuhan, dia bahkan tidak akan bertahan sampai ke rumah sakit."

__ADS_1


Mendengar itu membuat tubuh Gio langsung bergetar hebat. "Apa yang terjadi pada istriku, Onty?"


"Sepertinya dia keracunan! Cepat bawa ke kamar, dia harus segera menjalani pembersihan lambung!" perintah Alya.


Sekali lagi Gio tersentak kaget, benarkah istrinya itu keracunan? Tapi bagaimana itu bisa terjadi?


Sembari pikirannya terus bergelut dengan berbagai pertanyaan, Gio melangkahkan kakinya dengan cepat menuju kamar. Akan jadi kemalangan besar baginya jika Luna sampai tidak tertolong. Tuhan ... ini adalah hari pernikahan mereka, cobaan apalagi yang Kau berikan?


Setibanya di sana Gio langsung merebahkan Luna yang sudah tidak berdaya di ranjang pengantinnya. Saat ini wajah Luna sudah semakin pucat, dan membuat ketakutan berhasil mengusai pikiran Gio.


"Lun, bagunlah ... ada aku di sini. Ini hari pernikahan kita, jangan tinggalkan aku secepat ini ...," isak Gio sembari menepuk pipi Luna, berharap istrinya itu akan merespon ucapannya.


"Minggirlah, Gi. Istrimu harus segera mendapatkan penanganan," ujar dokter Alya, dia segera melepaskan gaun Luna dibantu 2-orang suster sebenarnya bertugas sebagai pengasuh anak-anak.


Gio menggeleng pilu, dia mundur perlahan untuk menjauh dari sana. Membiarkan dokter Alya melakukan penanganan dengan alat seadanya, sembari menunggu tim medis datang dari rumah sakit untuk membawa peralatan yang lebih lengkap.


Kini Gio bersama yang lainnya terduduk lesu di sofa yang ada di kamar pengantin tersebut. Mereka bungkam tanpa ada yang bersuara sama sekali, semuanya terpukul dengan bencana yang tiba-tiba datang di hari bahagia ini.


"Kamu mau ke mana Gi?" tanya mommy Delia saat Gio beranjak dari tempat duduknya.


"Aku harus menemukan pelakunya, Mom ... tolong jaga istriku!" sahut Gio seraya berlalu pergi.


***


Sementara di ruangan owner hotel, seorang wanita paruh baya yang merupakan pemilik dari vendor catering, tertunduk dengan wajah dipenuhi keringat dingin. Tubuhnya bergetar hebat karena mendapatkan tatapan membunuh dari daddy Lucas.


"Jelaskan!" ujar daddy Lucas dengan suaranya beratnya.


"Tuan, saya yakin tidak ada masalah dengan hidangan kami. Kita sudah bekerja sama selama puluhan tahun, dan saya tidak punya alasan untuk mencelakai menantu Anda," jawab wanita tersebut ketakutan.


"Jika hidanganmu tidak bermasalah, lalu apa yang membuat menantuku keracunan?" suara daddy Lucas mulai meninggi.


"Saya juga tidak tahu, Tuan ... tapi jika masalahnya ada pada hidangan kami, harusnya bukan nona Luna saja yang menjadi korban."


Ayah Brian duduk di samping daddy Lucas mengangguk, alasan dari wanita itu sangat masuk akal.


"Sekarang panggil semua karyawanmu ke sini!" perintah ayah Brian.

__ADS_1


Wanita itu mengangguk, lalu pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk mengumpul seluruh anak buahnya terlibat dalam acara ini.


"Tenanglah, menantumu pasti bisa diselamatkan." Ayah Brian menepuk bahu daddy Lucas.


"Aku khawatir, Brian. Tinggal Gio satu-satunya putraku, dia pasti terpukul dengan musibah yang tiba-tiba datang di hari pernikahannya," lirih daddy Lucas.


"Percayalah ... anak-anak pasti lebih kuat daripada kita," ujar Ayah Brian mencoba menyemangati adik iparnya.


Kurang dari sepuluh menit, mereka semua sudah berada di ruangan tersebut. Semua menunduk takut, meski sama-sama merasa tidak ada yang bersalah.


"Siapa menaruh racun ke dalam minuman menantuku?" Suara Brian yang penuh penekanan membuat orang-orang itu meremang ketakutan.


"Kami tidak berani, Tuan." Para pramusaji tersebut menjawab dengan kompak.


Brian menatap orang-orang itu satu-persatu, mencoba mencari kebohongan di mata mereka, tapi dia sendiri tidak berhasil menemukannya.


Di saat yang sama Gio memasuki ruangan tersebut, matanya memindai orang-orang tersebut dengan sorot berapi-api.


"Di mana pramusaji yang tadi membawakan minum untuk istriku?" tanya Gio.


Orang-orang itu saling pandang, tapi tidak satu pun yang mengaku.


"Kita cek CCTV saja!" ujar daddy Lucas ingin mengambil jalan cepat.


Dia lantas meminta petugas keamanan untuk mengirim file cctv. Rekaman itu kemudian diputar di layar monitornya, lalu dia melakukan zoom pada saat kejadian tersebut. Membuat wajah wanita yang memberikan minuman pada Luna tercetak jelas di layar monitor tersebut.


"Suruh wanita ini maju!" perintah daddy Lucas kepada wanita pemilik catering yang berdiri di sampingnya.


Wanita pemilik catering itu terkejut, pramusaji yang memberikan minuman kepada Luna bukanlah karyawan tetapnya, melain seorang gadis yang dipekerjakan sebagai pengganti karyawannya yang sedang cuti.


Dengan cemas dia memindai seluruh karyawannya, tapi sialnya gadis tersebut tidak berada di antara karyawannya.


"Tuan, gadis itu tidak ada." Wanita pemilik catering tersebut menunduk, mungkin hukuman teringan baginya adalah kehilangan kerja sama dengan URM Group.


"Memangnya ke mana dia bisa kabur?" celutuk Fanny yang baru tiba di ruangan tersebut.


Wanita paruh baya itu duduk dengan tenang, lalu mengambil alih laptop yang ada di hadapan daddy Lucas.

__ADS_1


Kurang dari 1-menit jemarinya menari dengan lincah di atas keyboard, dia pun berseru, "Tidak sulit!!"


Bersambung.


__ADS_2