
"Kau berhutang penjelasan padaku, Lun!" desak Gio.
"Apa yang harus aku katakan, Gi? Kau bisa lihat sendiri kenyataannya seperti apa!" sahut Luna.
Sebuah hembusan napas bernada keluhan Gio lepaskan begitu saja. "Aku tahu, tapi kau tidak bisa terlalu memanjakan anak itu, Lun. Dia akan mengira kau memang ingin menjadi maminya."
"Aku hanya kasihan padanya Gi, masa kecilku tak jauh beda dengannya. Aku tahu bagaimana sakitnya saat kita tidak mendapatkan perhatian dari orang tua. Dan Laura juga anak yang pintar, aku bisa menjelaskan padanya bahwa memanggilku dengan sebutan mami, bukan berarti aku harus bersama dengan daddynya," tukas Luna.
"Tapi, Lun ...."
"Sudahlah, Gi. Kau berlebihan dengan mengkhawatirkan sesuatu yang tidak nyata," pungkas Luna sambil mengibaskan tangan.
"Tidak nyata? Mungkin maksudmu belum nyata, karena apa pun bisa terjadi jika kau membuka diri. Bukankah lebih baik kita menepikan sebuah masalah lebih dulu, daripada membiarkannya menjadi benalu di masa depan!" tukas Gio.
Luna tertawa hambar, entah dari mana Gio mengutip kalimat itu, yang sayangnya tidak bisa ia terapkan di dalam kehidupannya.
"Kata-katamu itu sangat bijak, Gi. Tapi sekarang coba tela'ah ucapanmu tadi, lalu terapkan pada kehidupanmu secara langsung. Dunia ini sudah terlalu sesak dengan orang bijak yang hanya bisa koar sana koar sini, Gi. Tapi yang terjadi di kehidupan sehari-harinya zonk, tidak ada contoh nyata," sindir Luna.
"Apa maksudmu, Lun?"
"Aku rasa kau cukup pintar untuk mengerti maksud ucapanku!"
Gio menghela napas berat. "Astaga Luna ... sudah jelas dia itu hanya perawatku, dia melakukan tugasnya, sama sekali tidak ada yang berlebihan."
"Kau terlalu egois, Gi. Kau melarangku berbaik hati pada anak-anak, sementara dirimu? Kau tetap keukeh membiarkan perawat itu menyentuhmu, ya ... mungkin saja kau memang suka dimanjakan olehnya," tukas Luna kesal.
"Luna ...."
"Sudahlah ... aku malas berdebat denganmu, Gi. Lebih baik aku menemui Laura," ujar Luna lantas melangkah meninggalkan Gio.
Saat ini mereka tengah berada di rumah Laura, untuk menghadiri acara ulang tahun gadis kecil itu.
Gio menggelengkan kepala, serta mulai menyadari kesalahannya. Lantas Gio meminta supir untuk membawanya pulang.
***
__ADS_1
Di sebuah ruang jenguk.
"Mengapa wajahmu lesu seperti itu? Apa kau membawa kabar buruk?" tanya Vita menelisik.
"Sial ... Gio tiba-tiba memecatku kemarin sore, padahal aku sudah mejalankan misiku dengan hati-hati," keluh Aline sambil mendesahkan napas berat.
Vita tertawa sarkas. "Keluarga itu memang sulit didekati, mereka saling menyayangi dan selalu mendengarkan keluhan satu sama lain."
"Lalu langkah selanjutnya apa?" tanya Aline bingung.
Vita tampak berpikir sebentar. "Mereka tidak mencurigaimu kan?"
"Tidak ... aku tidak pernah menggoda Gio secara frontal. Dan mereka memecatku dengan alasan sudah mendapatkan perawat yang berpengalaman," jawab Aline.
"Bagus, itu artinya kau masih bisa mendekati Gio, meskipun tidak lagi bekerja sebagai perawatnya. Lalu, informasi apa yang kau dapat selama bekerja di sana?" tanya Vita.
"Gio mendapat cidera itu saat melakukan penyergapan untuk menyelamatkan mommynya dan juga Luna dari sekapan seorang mafia," jawab Aline.
"Mafia?"
"Iya ...." Aline menggangguk. "Namanya Julian, seorang mafia besar dari Italia, yang sekarang menghilang entah ke mana."
"Saat ini tidak ada yang tahu keberadaan Julian, bagaimana kau bisa se-optimis itu?" tanya Aline heran.
"Aku bisa menebak di mana Julian berada, meskipun mustahil untuk bertemu dengannya. Yang bisa aku lakukan adalah pergi menemui adiknya di Italia, dia pasti mau bekerja sama dengan kita jika tahu apa yang telah dilakukan keluarga Richard dan Morelli kepada kakaknya. Maka dari itu usahakan untuk membebaskanku dari sini secepatnya," perintah Vita.
Aline mengangguk paham. "Tenanglah, aku sedang mengerjakannya. Lagi pula pengacara keluargamu bekerja dengan baik, kau bisa mendapat remisi setelah kita bisa membuktikan kecelekaan itu bukan kesengajaan. Hanya saja untuk membebaskan orang-tuamu sepertinya mustahil, karena mereka terjerat pasal pembunuhan berencana yang tuntutannya berlapis-lapis."
"Tidak masalah, yang penting aku bisa bebas dulu. Aku sudah tidak sabar membuat wajah Luna menjadi cacat, seperti yang ia lakukan padaku," desis Vita dengan sorot mata penuh dendam.
"Kalau begitu aku pamit dulu, Vit. Percaya padaku, kau akan bebas sebentar lagi," ujar Aline dengan yakin.
Setelah Aline pergi, Vita kembali dibawa sipir ke dalam tahanannya.
'Bersabarlah Vita ... ini tidak akan lama lagi. Anggap saja saat ini kau sedang memberikan musuhmu kesempatan untuk tertawa, sebelum mengirim mereka semua ke lobang neraka!' Dia berinteraksi sendiri di alam imaginernya.
__ADS_1
***
"Lun, apa kau masih marah? Aku bahkan sudah menuruti keinginanmu untuk memecat perawat itu," keluh Gio.
"Aku tidak marah, Gi. Bisa kau lihat sendiri saat ini aku sedang sibuk. Kau boleh pulang lebih dulu ke mansionmu jika kau bosan di sini, nanti sepulang kerja aku menyusul," sahut Luna acuh, meskipun sudah tidak marah, tapi rasa kesalnya belum benar-benar hilang.
Lagi pula wajar, kan? Jika tidak ada perdebatan di rumah Laura kemarin, belum tentu Gio memiliki inisiatif untuk memecat perawatnya itu.
Gio memasang wajah meradang, dia mendorong sendiri kursi rodanya mendekati meja kerja Luna, memperhatikan apa yang dikerjakan oleh wanitanya itu.
Cukup lama Gio menunggu sampai akhirnya waktu beranjak sore, dan Luna pun keluar dari balik meja kerjanya, lalu mendorong kursi roda Gio keluar dari ruangan tersebut.
"Mau langsung pulang, atau jalan-jalan sebentar?" tanya Luna saat mereka berjalan melewati koridor kantor.
"Pulang saja, Lun. Memangnya kau tidak malu jalan-jalan bersama pria cacat sepertiku?"
"Aku bahkah tidak pernah berpikir seperti itu, Gi. Cukup kamu tidak membuatku jengkel, aku sudah senang," sahut Luna.
"Kita pulang saja, Lun. Ini sudah terlalu sore, kita bisa jalan-jalan lain kali," ujar Gio.
"Baiklah." Luna memapah Gio dari kursi roda, lalu mendudukkan pria itu di kursi penumpang.
Luna lanjut melipat kursi roda Gio untuk dimasukkan ke dalam bagasi, lantas dia masuk ke mobil dan melajukankannya meninggalkan parkiran paradise fashion.
Selama perjalanan Luna fokus saja pada kemudi mobillnya, dan ini membuat Gio bertanya-tanya apakah Luna masih marah?
Luna turun dari terlebih dulu setelah mereka tiba di tujuan. Dia mempersiapkan kursi roda Gio, lalu memapah pria itu turun dan mendudukkanya di kursi tersebut.
"Maaf, Lun ... aku benar-benar merepotkanmu!" ujar Gio dengan ketidak-berdayaannya.
Luna berjongkok di depan Gio. "Semua ini tidak ada apa-apanya, Gi. Dibanding aku harus menahan panas saat melihatmu disentuh wanita lain."
"Maaf, aku tidak peka dengan perasaanmu," sahut Gio.
Luna tersenyum lalu berdiri, kemudian mendorong kursi roda Gio memasuki mansion.
__ADS_1
"Luna ... temui uncle setelah kamu mengantar Gio ke kamarnya!" ujar daddy Lucas saat Luna dan Gio hendak memasuki lift.
Bersambung.