Cinta Untuk Luna 2

Cinta Untuk Luna 2
Luna Baik-baik Saja


__ADS_3

Rumah sakit Healt Mecidal Centre.


Di ruang tunggu keluarga pasien mommy Delia Tampak gelisah, karena hingga menjelang pagi anaknya belum juga datang.


Setelah berpikir-pikir, dia pun berinisiatif untuk menghubungi Gio. Saat hendak menelpon tiba-tiba sosok yang ditunggu itu muncul, membuatnya urung menekan tombol panggil.


"Apa yang terjadi? Mengapa kau lama sekali?" Mommy Delia lantas berdiri untuk menghampiri Gio.


Dahi wanita paruh baya itu pun berkerut heran melihat beberapa bagian di wajah putranya tampak biru lebam. "Apa terjadi sesuatu?"


Gio mengangguk. "Iya, tapi masalahnya sudah selesai."


"Kalian berhasil menemukan wanita itu?" tanya mommy Delia.


"Iya, sekarang dia sudah tidak bisa menganggu kita lagi," jawab Gio. "Bagaimana keadaan Luna, Mom?" lanjutnya bertanya.


Mommy Delia mengajak Gio medekat ke ranjang Luna, di sana wanita yang dicintai Gio itu masih terbaring tidak sadarkan diri.


"Dia sudah berhasil melewati masa kritis, sekarang dia tengah berjuang melawan racun itu," lirih mommy Delia.


"Setidaknya dia berhasil selamat, Mom ... aku akan menemaninya sampai dia sembuh!" Gio meraih tangan Luna lalu menciumnya. "Seperti dia yang begitu sabar menunggu kesembuhanku dulu."


"Itulah yang harus kau lakukan, Gi!" Momny Delia menepuk bahu putranya.


Gio menoleh ke arah ibunya, dia baru sadar bahwa kantung mata ibunya itu membengkak. Entah karena kurang tidur, mungkin juga karena kebanyakan menangis. Bisa jadi karena keduanya.


"Mommy pulang saja, pasti mommy belum tidur, kan? Terimakasih sudah menjaga istriku semalaman ini," tutur Gio.


Mommy Delia memandangi wajah Luna yang masih pucat. "Dia memiliki banyak kesamaan sifat dengan mom, bahkan selama ini mom sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Jadi awas saja jika kau berani menyakitinya, kau akan berhadapan langsung dengan mommymu ini," ancamnya.


Gio terkekeh kecil. "Itu tidak akan terjadi Mommyku sayang ...." Gio lantas berdiri seraya mengecup pipi ibunya. "Sekarang mommy harus istirahat, kesehatan mommy juga sangat penting."


Gio mengantarkan wanita yang merupakan cinta pertamanya itu sampai ke pintu ruang rawat. Setelah itu dia kembali duduk di samping ranjang Luna, dengan setia menjaga istrinya itu meskipun harus berperang melawan rasa kantuk.


***


Sekitar jam sembilan pagi, dokter Alya datang ke ruang rawat memeriksa kondisi Luna, dia berhenti ketika melihat Gio berada di samping ranjang Luna sambil menggengam tangan istrinya itu.

__ADS_1


"Lun, aku tahu kamu adalah wanita hebat, kamu pasti bisa melewati ini, kamu pasti kuat dan menang melawan sakit itu, aku tidak peduli berapa lama waktu yang kamu butuhkan untuk sembuh. Kamu jangan khawatir, karena selama itu juga aku akan jagain kamu," lirih Gio.


"Gini, nih ... kalau raja buaya bisa ngomong," celutuk dokter Alya seraya meneruskan langkahnya.


"Onty ...." Gio menoleh ke belakang.


"Bagaimana kalau Luna butuh waktu bertahun-tahun untuk siuman? Apa kau tetap akan menunggunya?"


"Tentu saja, Onty," sahut Gio.


"Minggirlah, katakan rayuanmu itu saat Luna sudah siuman nanti," ujar dokter Alya.


Gio mundur beberapa langkah, membiarkan dokter Alya melakukan tugasnya.


"Kira-kira berapa lama Luna akan seperti ini, Onty?" tanya Gio setelah dokter Alya selesai melakukan pemeriksaan.


"Cukup lama, kemungkinan dia akan koma selama satu sampai dua tahun," jawab Alya.


Gio menghela napas berat, meski begitu tidak ada ucapan protes yang keluar dari mulutnya. Dia melangkah ke tempatnya tadi untuk menemani Luna.


"Apa kau bisa sabar menunggunya?" tanya dokter Alya.


Dokter Alya tersenyum, sayangnya Luna tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Gio saat ini. Karena istri Gio itu sedang tidur, bukan koma.


"Dia akan bangun setelah obat efek obat penenangnya habis, itu sekitar satu jam lagi," ujar dokter Alya memberi-tahu yang sebenarnya.


"Jadi istriku tidak koma, Onty?"


"Tidak," jawab dokter Alya. "Onty hanya memberinya obat penenang setelah melakukan pembersihan lambung, agar obat penawar racunnya bekerja lebih efektif."


"Ya, Tuhan ... sukurlah. Saat Onty mengatakan Luna bahkan tidak akan bertahan sampai ke rumah sakit, saat itu juga aku menyadari seberapa ganas racun yang diminumnya. Aku sangat khawatir, aku pikir dia akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk sembuh," lirih Gio.


"Saat itu keadaannya memang darurat, makanya Onty mengambil risiko untuk melakukan pembersihan lambung dengan alat seadanya saat itu juga, dan sukurnya kita tidak terlambat," kenang dokter Alya, waktu itu dia pun sempat cemas. "Ya sudah, onty tinggal dulu. Kau temani istrimu di sini!"


"Terimakasih, Onty," tutur Gio sebelum ibunya Sandy itu pergi dari ruang rawat.


Gio menghela napas lega, kecemasan yang sebelumnya menguasai pikirannya kini menguap tak berbekas. Masih duduk di kursi yang sama dia merebahkan kepala di samping Luna, sebelum akhirnya terlelap karena saking ngantuknya.

__ADS_1


***


Tuuut ....


Vita mematikan siaran telvisinya, dia kesal setelah menyaksikan berita tentang penyergapan sindikat mafia yang menyeludupkan obat-obat terlarang ke Indonesia.


Justino dilaporkan tewas terbunuh karena melakukan perlawanan dalam operasi penyergapan yang dilakukan pihak berwajib.


Tentu saja ini bukan sepenuhnya rekayasa, karena Justino datang ke sini memang sekalian untuk berbisnis.


Vita berdecih. "Semudah itu mereka mengalahkannya, semudah itu juga mereka menutupi kasusnya," geramnya kesal.


"Mereka kuat, hebat ... mereka tidak mempan dilawan dengan kekerasan, aku harus melawan menggunakan otak, aku harus lebih cerdas dan hati-hati!" Vita menarik sudut bibirnya, lantas melangkah keluar dari apartemen.


Dia pun pergi ke sebuah restoran, setelah membuat janji temu dengan pengacara keluarganya.


Setibanya di restoran yang dijanjikan, Vita langsung menuju ruangan VVIP. Senyumnya tersungging saat manik matanya menangkap pria yang dicarinya sudah menunggu di sana.


"Apa kabar, Pak Hotlan!" sapanya seraya menjabat tangan pria tersebut.


"Kabar baik, Nona." Pria berkaca-mata dengan gaya parlente itu mempersilakan Vita untuk duduk.


"Apa pesananku sudah selesai?" tanya Vita sesaat setelah duduk berhadapan dengan pria tersebut.


"Semuanya ada di sini, Nona," pria itu menyodorkan sebuah amplop besar.


Vita memeriksa amplop tersebut lalu tersenyum puas. Amplop itu berisi surat kematian dirinya, beserta identitas baru yang akan digunakannya.


"Saat ini semua aset milik ayah Anda juga sudah beralih atas nama Anda yang baru. Saya merekayasa penjualannya, jadi Anda akan aman tanpa ada yang mengetahui jati diri Anda yang sebenarnya," papar pengacara tersebut.


"Kerja bagus ... untuk surat ini Anda saja yang simpan." Vita menyodorkan kembali surat kematiannya pada pengacara itu.


Pengacara itu mengangguk. "Tapi maaf, saya tidak bisa membebaskan ibu dan ayah Anda. Karena kasus mereka termasuk pelanggaran berat, dan juga mempunyai bukti yang valid."


"Tidak masalah, lagi pula dengan identitasku yang sekarang aku bisa dengan mudah menjenguk mereka," sahut Vita.


Setelah makan siang bersama pengacaranya itu, Vita pun kembali ke apartemennya. Dengan indentitas dan wajah barunya sekarang, dia bisa dekat dengan siapa saja termasuk Rara, Luna, dan seluruh keluarga musuhnya itu.

__ADS_1


Bersambung.


Jangan lupa like dan komentarnya, ya.


__ADS_2