
"Kamu dulu pas pertama kali nggak ada ngerasain sakit, Ra?" tanya Luna, padahal sebelumnya dia sudah pernah menanyakan hal yang sama.
"Ya nggak lah, namanya juga lagi mabuk ... cuma ada enaknya doang." Rara terkekeh.
Dia tersenyum sendiri mengingat pertemuannya Sean, patah hati membawanya berniat menyewa seorang pria bayaran. Siapa sangka jika teman ONSnya itu adalah pria yang dijodohkan dengan dirinya, bahkan sejak mereka belum lahir.
"Aku juga udah bilang sama Gio, tapi pria gila itu bilang katanya nggak syahdu, dia juga bilang akan lembut. Lembut sih, saking lembutnya aku jadi pingsan gini," kesal Luna.
"Tapi kamu nggak ada ngerasa trauma atau takut ketemu Gio, kan?" tanya Rara khawatir kalau-kalau kejadian semalam membuat kondisi psikis Luna menjadi down.
"Nggak, malahan aku pengen matahin leher dia, sebel aku tuh," suntuk Luna yang membuat Rara langsung tergelak.
"Itu baru Luna yang aku kenal," kekeh Rara. "Tapi kamu yakin mau matahin leher Gio? Memangnya mau jadi muda?"
"Apaan sih, Ra." Luna mengibaskan tangannya.
"Ya udah, kalau gitu aku panggilin Gio dulu. Kasihan juga dia, kayak tertekan gitu. Dia takut kamu trauma, trus nggak mau ketemu sama dia," ucap Rara seraya turun dari ranjang Luna.
Dia melangkah menuju ruang tunggu keluarga, di sana Gio tampak sedang sarapan bersama Sean.
Melihat kedatangan Rara, Gio langsung menghentikan aktivitas mengunyahnya. "Bagaimana keadaan istriku, Ra? Apa kejadian semalam membuat psikisnya terguncang?"
"Luna itu kuat, Gi. Paling-paling dia cuma marah sama kamu," jawab Rara seraya mendudukkan diri di samping suaminya.
Gio menghela napas lega, semua ketakutan yang sejak semalam bersarang di kepalanya pun menguap tak bersisa.
__ADS_1
"Kau itu terlalu ganas, Bro! Harusya kau itu pelan-pelan jangan langsung nyosor," cibir Sean.
"Kau pun sama saja!" sungut Rara.
"Tapi aku selalu berhasil membuatmu melayang, kan, My Cherry ...." Sean merangkul istrinya lalu mendaratkan sebuah kecupan mesra.
Gio menghela napas jengah, daripada menjadi penonton pasangan tengah bermesraan itu, lebih baik dia menghabiskan sarapannya cepat-cepat.
Setelah itu dia pun berajak dari sana untuk menemui Luna.
Melihat sosok suami mendekat, Luna memalingkan wajahnya.
Dia tidak mau bertatapan dengan Gio, wajah tampan itu bisa membuatnya cepat luluh, sedangkan saat ini dia belum berniat baikan dengan suaminya itu.
Tidak ada jawaban dari Luna, Gio pun menghela napas berat seraya mendekati ranjang. Gio melingkarkan tangan di pinggang Luna yang duduk membelakanginya.
"Lun, aku minta maaf, My Kwen. Aku janji tidak akan seperti itu lagi," bujuk Gio.
Luna mendengkus, bibirnya terangkat ke atas mendengar bujukan itu.
"Lun, please ... jangan marah lagi." Gio tidak ingin menyerah.
"Aku itu kesal sama kamu, Gi. Aku cuma merasakan sakit saat aku masukin aku. Berkali-kali aku bilang stop tapi kamu nggak mau berhenti. Kamu nggak peduli sampai akahirnya aku jadi pingsan!" desis Luna.
"Sudah terlanjur, Lun. Sudah diujung, aku bisa gila kalau dicabut sebelum tuntas. Please jangan marah lagi, aku janji besok-besok nggak gitu lagi." Gio memelaskan suaranya.
__ADS_1
Merasa rayuannya diabaikan, membuat Gio mencari jalan lain. Dia mendekatkan wajahnya ke tengkuk Luna, lalu mulai memberikan kecupan-kecupan nakal di sana.
Luna tidak ingin merespon, tapi tubuhnya berkata lain. Permainan Gio membuatnya menggelinjang kegelian, bahkan tanpa bisa ia tahan mulutnya sudah mengeluarkan erangan pelan.
"Ehmm ...."
Deheman yang begitu keras itu membuat Gio berhenti dan menoleh ke arah datangnya suara, dia melihat daddy dan mommynya sedang mendekat ke arah mereka.
"Sana jauh-jauh dari menantuku!" seru mommy Delia.
Gio menggaruk kepala, seraya turun dari ranjang. Jika sang ratu sudah memberi perintah, mana bisa dia membatah.
"Awas jika kau menyakiti Luna lagi!" ancam mommy Delia pada putranya
"Mom, aku tidak sengaja. Mana mungkin aku sengaja ingin menyakiti istriku," jawab Gio dengan nada mengeluh.
"Sudah lah, Mom ... itu bukan sepenuhnya salah Gio," bela Luna.
Mendengar dirinya mendapat pembelaan, senyum Gio pun mengembang seketika.
"Sudah sana dulu, mom ingin bicara berdua dengan Luna," usir mommy Delia.
'Selalu saja semena-mena, dasar tukang suruh!' Gio ngedumel dalam hati seraya melangkah pergi, memberikan waktu kepada menantu dan mertua itu untuk bicara berdua.
Bersambung
__ADS_1